NEW DELHI — Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan pernyataan tegas bahwa kawasan Timur Tengah tidak memerlukan kehadiran Amerika Serikat sebagai penjamin keamanan kawasan. Pernyataan ini disampaikan di tengah konflik berkepanjangan antara Teheran dan Washington yang telah berlangsung lebih dari enam bulan, dengan perebutan kendali atas Selat Hormuz sebagai salah satu titik ketegangan utama.
Pezeshkian melontarkan pandangan tersebut dalam pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim, di sela rangkaian Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-18 BRICS di New Delhi, India, Sabtu, 12 September 2026. Menurut laporan AFP, ia menegaskan bahwa kawasan tersebut tidak butuh sosok penegak keamanan dari luar, dan bahwa keutuhan wilayah serta stabilitas kawasan seharusnya dijamin oleh negara-negara yang berada langsung di dalamnya, bukan kekuatan asing.
Iran telah berada dalam kondisi perang sejak 28 Februari 2026, ketika serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel menewaskan pemimpin tertinggi Iran, mendiang Ayatollah Ali Khamenei. Sejak saat itu, Teheran melancarkan serangan balasan ke berbagai titik di kawasan sekaligus memberlakukan blokade atas Selat Hormuz, jalur perairan strategis yang sebelum perang menjadi lintasan sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Iran kini mewajibkan setiap kapal yang melintas mengantongi izin khusus, bahkan tengah mempertimbangkan skema pungutan biaya transit, sementara Amerika Serikat secara berkala melancarkan serangan ke wilayah pesisir Iran untuk menantang dominasi Teheran atas jalur tersebut.
Dampak konflik ini terasa nyata pada pasar energi global. Harga minyak mentah dunia sempat melampaui ambang psikologis 100 dolar AS per barel pekan ini, dengan Brent crude sempat menembus level 108 dolar sebelum akhirnya terkoreksi ke kisaran 104,61 dolar menyusul kabar rencana pertemuan Iran dengan negara-negara Teluk di Oman untuk membahas penyelesaian krisis Hormuz. Meski sempat mereda, harga minyak sepekan terakhir masih mencatatkan kenaikan tajam, dengan Brent naik 8,7 persen dan WTI melonjak 9,4 persen dibanding pekan sebelumnya.
Dalam forum yang sama, Pezeshkian juga menyampaikan pandangan lebih luas soal tatanan ekonomi global, dengan menyebut sanksi ekonomi Barat terhadap Iran pada akhirnya terbukti gagal mencapai tujuannya. Ia tampil didampingi Presiden Rusia Vladimir Putin, sementara Perdana Menteri India Narendra Modi bertindak sebagai tuan rumah forum bisnis BRICS. Meski demikian, isu Selat Hormuz turut memperlihatkan celah di antara sesama anggota BRICS, mengingat Uni Emirat Arab dan Arab Saudi, yang belakangan bergabung ke dalam kelompok tersebut, dinilai memiliki kepentingan besar untuk tidak melemahkan sanksi terhadap Iran akibat dampak destabilisasi kawasan yang ditimbulkan konflik ini sepanjang tahun.
Di penghujung pernyataannya, Pezeshkian menegaskan bahwa Iran tidak menghendaki perlanjutan perang, meski mengaku bangsanya menghadapi berbagai ketidakadilan. Ia menyebut perdamaian tetap menjadi prioritas utama Teheran, di tengah forum multilateral yang mempertemukan Iran dengan sejumlah kekuatan besar dunia ketika hubungannya dengan Washington masih diliputi ketegangan.
#Pezeshkian #Iran #KTTBRICS #SelatHormuz #KonflikASIran #AnwarIbrahim #HargaMinyakDunia #NewDelhi #GeopolitikTimurTengah #BeritaInternasional






