Kontekstualisasi Moneter dan Akselerasi Sektor Riil di Bawah Kepemimpinan Destry Damayanti

Ekonomi, Fokus, Hukum, Nasional200 Dilihat

Oleh: Fadhil As. Mubarok | Chairman of MUBAROK INSTITUTE

Presiden Prabowo Subianto resmi mengusulkan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia definitif menggantikan Perry Warjiyo, lewat Surat Presiden yang diserahkan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi kepada pimpinan DPR RI, Senin, 10 Agustus 2026. Langkah ini disambut positif kalangan lembaga kajian kebijakan publik, termasuk Mubarok Institute yang menyatakan dukungan penuh terhadap sosok yang mereka nilai memiliki rekam jejak mendalam di sektor keuangan nasional.

Destry sendiri bukan wajah baru di lingkungan otoritas moneter. Ia telah menjabat Deputi Gubernur Senior BI sejak 2019, kembali ditetapkan untuk periode 2024 hingga 2029, sebelum akhirnya ditunjuk sebagai Pejabat Sementara Gubernur BI menyusul pengunduran diri Perry Warjiyo pada 25 Juli 2026. Perempuan kelahiran Jakarta tahun 1963 ini merupakan lulusan Sarjana Ekonomi Universitas Indonesia dan meraih gelar master di bidang Regional Science dari Cornell University, dengan perjalanan karier mencakup Kepala Ekonom Bank Mandiri, Kepala Ekonom Mandiri Sekuritas, hingga pernah dipercaya memimpin Panitia Seleksi Pimpinan KPK periode 2015-2019.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto turut menilai Destry sebagai sosok paling tepat mengingat pengalaman panjangnya sebagai Deputi Gubernur Senior BI. Sementara itu, ekonom sekaligus Direktur Kebijakan dan Program Prasasti Center for Policy Studies, Piter Abdullah, menyebut penunjukan tunggal ini sebagai pilihan rasional, meski menurutnya pasar sejatinya lebih menaruh perhatian pada arah kebijakan ke depan ketimbang sekadar figur yang terpilih, khususnya soal kesinambungan kebijakan menjaga stabilitas nilai tukar dan sistem keuangan yang telah dibangun Perry Warjiyo.

Kepastian arah kepemimpinan bank sentral ini turut mendapat respons positif dari pasar finansial. Nilai tukar rupiah tercatat menguat ke kisaran Rp17.765 per dolar Amerika Serikat, menjauh dari ambang psikologis Rp18.000 yang sempat membayangi ekspektasi pelaku pasar. Kondisi ini ditopang cadangan devisa nasional yang tergolong solid, senilai 145,3 miliar dolar AS, sehingga potensi arus modal keluar dapat diredam berkat proses transisi kepemimpinan yang berjalan mulus tanpa perombakan mendadak pada kerangka kebijakan moneter yang sudah berjalan.

Terkait proyeksi kebijakan ke depan, BI Rate diperkirakan tetap berada pada level restriktif di kisaran 5,50 persen guna menjaga daya tarik imbal hasil instrumen berbasis rupiah seperti Surat Berharga Negara dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia. Ruang pelonggaran suku bunga baru diperkirakan terbuka secara bertahap, seiring redanya volatilitas nilai tukar dan terjaganya inflasi domestik pada target 2,5 persen dengan toleransi plus minus 1 persen.

Sebelum resmi menjabat, Destry masih harus menjalani uji kelayakan dan kepatutan di hadapan Komisi XI DPR RI. Kalangan pengamat berharap sosok Gubernur BI berikutnya tidak hanya menjaga stabilitas makro, tetapi juga mampu mendorong penyaluran likuiditas lebih optimal ke sektor manufaktur berorientasi ekspor, sekaligus memperkuat sinergi kebijakan fiskal dan moneter demi mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.

#DestryDamayanti #GubernurBI #BankIndonesia #PrabowoSubianto #PerryWarjiyo #StabilitasRupiah #BIRate #KebijakanMoneter #DPRRI #BeritaEkonomi