SEOUL — Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung kembali menyerukan ajakan dialog kepada Korea Utara guna membahas jalan mengakhiri status perang yang secara teknis masih berlangsung antara kedua negara sejak tahun 1950-an. Seruan tersebut disampaikan dalam pidato peringatan 81 tahun pembebasan Korea dari penjajahan Jepang di Seoul, Sabtu, 15 Agustus 2026.
Dalam pidatonya, Lee mengajak kedua pihak yang bertikai untuk mengesampingkan ancaman satu sama lain dan mulai membuka ruang perundingan demi mengakhiri konflik yang telah berlarut-larut puluhan tahun. Ia menekankan pentingnya kedua Korea, sebagai pihak yang paling langsung terlibat dalam konflik tersebut, mengambil inisiatif untuk duduk bersama. Lee turut menyampaikan bahwa proses dialog semacam ini berpotensi membuka peluang pembahasan langkah konkret untuk membatasi kemampuan nuklir Korea Utara.
Perlu dicatat, status perang antara Korea Selatan dan Korea Utara secara hukum internasional belum pernah resmi berakhir. Perang yang berkecamuk sepanjang 1950 hingga 1953 tersebut ditutup lewat kesepakatan gencatan senjata, bukan perjanjian damai permanen, sehingga kedua negara secara teknis masih berada dalam kondisi perang hingga saat ini. Lee mengusulkan agar gencatan senjata yang telah bertahan lebih dari tujuh dekade itu digantikan dengan kerangka baru yang ia sebut sebagai rezim perdamaian.
Presiden Lee menegaskan Seoul akan mengambil sejumlah langkah proaktif dan berkesinambungan guna meredakan ketegangan di semenanjung Korea, sekaligus membangun sistem pengamanan berlapis untuk mencegah eskalasi konflik lebih lanjut. Sikap ini melanjutkan komitmen yang telah disuarakannya sejak tahun lalu, yakni menghormati sistem pemerintahan Korea Utara sembari mengupayakan koeksistensi damai antara kedua negara bertetangga tersebut.
Meski demikian, respons dari Pyongyang sejauh ini belum menunjukkan tanda-tanda positif. Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un telah lama meninggalkan agenda reunifikasi kedua Korea dan bahkan melabeli Korea Selatan sebagai negara paling bermusuhan bagi Pyongyang, sembari memerintahkan penguatan pertahanan di sepanjang garis perbatasan. Korea Utara juga menolak tawaran pendekatan Lee serta mengecam rencana Seoul membangun kapal selam bertenaga nuklir. Latihan militer gabungan Korea Selatan dan Amerika Serikat yang dijadwalkan berlangsung pekan depan turut dikecam Pyongyang sebagai bentuk provokasi.
Ketegangan di kawasan ini semakin terasa nyata usai Korea Utara meluncurkan dua unit rudal dalam dua pekan terakhir, yang keduanya terdeteksi jatuh ke perairan laut tanpa menimbulkan korban. Hubungan bilateral kedua Korea hingga kini masih berada dalam kondisi beku, di tengah upaya Lee yang terus mendorong terbukanya kembali saluran komunikasi dengan rezim Kim Jong Un.
Ajakan dialog Presiden Lee ini menjadi salah satu sinyal diplomatik penting di tengah situasi keamanan kawasan Asia Timur yang terus dibayangi ketidakpastian, sekaligus menguji sejauh mana Pyongyang bersedia membuka ruang negosiasi setelah bertahun-tahun bersikukuh pada jalur konfrontasi dan pengembangan kemampuan senjata strategisnya.
#LeeJaeMyung #KoreaSelatan #KoreaUtara #PerangKorea #KimJongUn #RezimPerdamaian #GencatanSenjata #SemenanjungKorea #NuklirKorutHambat #BeritaInternasional






