Inggris Meradang Disebut Netanyahu Republik Islam

Fokus, Internasional235 Dilihat

LONDON — Pemerintah Inggris melayangkan protes keras terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu setelah ia melontarkan sindiran tajam dengan menyebut Inggris sebagai “Republik Islam Inggris” dalam sebuah wawancara podcast radio militer pada Kamis, 13 Agustus 2026. London menegaskan komentar semacam itu sama sekali tidak bisa diterima.

Dalam wawancara tersebut, Netanyahu mengkritisi sikap Inggris terhadap Israel dengan mengenang bagaimana cucu mantan Perdana Menteri Inggris Winston Churchill, yang kebetulan memiliki nama serupa dengan sang kakek, dulu secara terbuka mendukung Israel semasa Perang Arab-Israel 1967. Ia lantas mempertanyakan apakah sikap dukungan semacam itu masih dapat ditemukan pada era sekarang, sebelum melontarkan sindiran bahwa negara republik Islam pertama pemilik senjata nuklir justru adalah Inggris, sembari menegaskan tekadnya mencegah kemunculan republik Islam serupa di Iran.

Pernyataan Netanyahu ini dinilai mencerminkan retorika yang lazim disuarakan kalangan politisi dan komentator sayap kanan ekstrem di dunia Barat, yang kerap melontarkan klaim tanpa dasar bahwa sebagian wilayah Inggris telah tunduk pada hukum Islam akibat gelombang imigrasi, narasi yang selama ini memicu tudingan Islamofobia. Juru bicara pemerintah Inggris menegaskan pihaknya telah menyampaikan keberatan resmi langsung kepada pemerintah Israel atas pernyataan tersebut.

Menanggapi gelombang kritik ini, juru bicara pemerintah Israel David Mencer berupaya meredam ketegangan lewat wawancara dengan radio BBC. Ia beralasan Netanyahu sekadar mengutip ucapan pihak lain, dengan merujuk pada pernyataan serupa yang pernah dilontarkan Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance. Ucapan Vance yang dimaksud memang pernah disampaikan dalam Konferensi Keamanan Munich 2024, ketika ia menyebut Inggris berpotensi menjadi negara Islam sejati pertama yang memiliki senjata nuklir, pernyataan yang saat itu juga langsung menuai kecaman keras dari kalangan politisi senior Inggris.

Insiden ini menambah rentetan ketegangan diplomatik antara London dan Tel Aviv, yang semakin meruncing sejak Inggris resmi mengakui negara Palestina tahun lalu, langkah yang sempat membuat Israel geram. Perdana Menteri Inggris saat ini, Andy Burnham, bahkan sebelumnya turut mengkritik pendahulunya, Keir Starmer, yang dinilai tidak cukup tegas menekan Israel untuk menghentikan operasi militernya di Jalur Gaza.

Ketegangan ini menambah daftar panjang gesekan diplomatik yang mewarnai hubungan Inggris dan Israel belakangan ini, di tengah sikap London yang semakin kritis terhadap kebijakan Israel di Gaza, sekaligus menegaskan bahwa retorika personal seorang kepala pemerintahan tetap berpotensi memicu friksi serius antarnegara sekutu sekalipun.

#Netanyahu #Inggris #Israel #RepublikIslamInggris #JDVance #KonflikGaza #DiplomasiInternasional #IslamofobiaBarat #WinstonChurchill #BeritaInternasional