TEHERAN — Perbedaan tajam kembali muncul antara Iran dan Amerika Serikat soal kondisi riil kekuatan militer Teheran, setelah otoritas Iran membantah keras klaim berulang Presiden Donald Trump yang menyebut kemampuan militer negara itu telah lumpuh akibat gempuran serangan AS dan Israel dalam beberapa bulan terakhir.
Wakil Komandan Militer Iran untuk Urusan Eksekutif, Brigadir Jenderal Ali Reza Sheikh, menegaskan bahwa lebih dari tiga perempat kapasitas rudal dan drone Iran masih dalam kondisi utuh dan siap dioperasikan sewaktu-waktu. Pernyataan tersebut disampaikan melalui kantor berita resmi Iran, IRNA, dan dikutip Middle East Monitor pada Jumat, 14 Agustus 2026. Reza Sheikh bahkan menyebut sistem drone milik negaranya sebagai ancaman yang terus menghantui lawan-lawannya, sebuah pernyataan yang tampak sengaja disampaikan untuk menegaskan bahwa Teheran masih memiliki daya gentar militer meski telah dihujani serangan bertubi-tubi dari Washington dan Tel Aviv.
Klaim ini bertolak belakang jauh dengan narasi yang selama ini disampaikan Trump. Dalam wawancara dengan NBC News pada Juni lalu, sebagaimana dilansir Anadolu Agency, Trump menyatakan bahwa sebagian besar fasilitas produksi drone, landasan peluncuran, serta area produksi rudal Iran telah berhasil dilumpuhkan oleh serangan gabungan. Ia memperkirakan Iran kini hanya menyisakan sekitar seperlima dari total persediaan rudal yang dimiliki sebelum konflik pecah, meski ia mengakui jumlah tersebut secara absolut masih tergolong besar.
Di tengah perang klaim antara kedua negara, arah kebijakan Amerika Serikat sendiri tampak mulai bergeser. Wakil Presiden AS JD Vance dalam wawancara dengan Fox News, yang dikutip AFP, mengungkapkan bahwa isu program nuklir Iran kini bukan lagi menjadi prioritas utama pemerintahannya dalam konflik ini. Vance justru menempatkan stabilisasi harga bahan bakar minyak dalam negeri sebagai prioritas nomor satu, dengan alasan harga minyak dunia telah turun signifikan dibanding puncaknya di awal konflik. Ia menegaskan mencegah Iran memiliki senjata nuklir tetap menjadi prioritas berikutnya, meski bukan lagi yang teratas.
Perbedaan narasi soal kekuatan militer Iran ini menambah panjang daftar sengketa klaim antara kedua negara sejak perang pecah akhir Februari lalu, termasuk perdebatan sebelumnya soal kendali penuh atas jalur strategis Selat Hormuz yang juga dibantah keras oleh pihak Iran. Sulitnya verifikasi independen atas klaim-klaim militer dari kedua belah pihak membuat publik internasional kesulitan menilai kondisi riil kekuatan tempur Iran pascaserangan, sementara masing-masing pihak tampak memiliki kepentingan strategis untuk menonjolkan narasi versinya sendiri, baik untuk menunjukkan keberhasilan kampanye militer di sisi Washington maupun mempertahankan daya gentar di sisi Teheran.
Ketidaksepakatan atas fakta di lapangan ini turut menjadi sorotan pengamat militer internasional, mengingat akurasi penilaian kekuatan tempur yang tersisa akan sangat memengaruhi arah negosiasi maupun potensi eskalasi lanjutan dalam konflik yang telah berjalan selama berbulan-bulan ini.
#Iran #DonaldTrump #KonflikASIran #RudalIran #DroneIran #JDVance #ProgramNuklirIran #GeopolitikTimurTengah #PerangIran #BeritaInternasional









