Yen Tertekan Jepang Diminta Percepat Kenaikan Suku Bunga

TOKYO — Nilai tukar yen Jepang yang terus tertekan mendorong seruan agar Bank Sentral Jepang (BOJ) tidak hanya mengandalkan intervensi pasar, melainkan segera mempercepat langkah kenaikan suku bunga acuan guna membalikkan tren pelemahan mata uang tersebut secara lebih fundamental.

Mantan pejabat senior urusan internasional Kementerian Keuangan Jepang, Mitsuhiro Furusawa, menilai posisi yen saat ini sudah berada pada level yang terlalu lemah, sehingga mulai membebani perekonomian nasional lewat lonjakan biaya impor. Kepada Reuters pada Kamis, 13 Agustus 2026, Furusawa yang kini menjabat Presiden Institute for Global Financial Affairs di Sumitomo Mitsui Banking Corporation menyampaikan bahwa Jepang bersama Amerika Serikat berpeluang kembali turun tangan melakukan intervensi pasar apabila yen kembali merosot mendekati level sebelum kedua negara melakukan intervensi bersama bulan lalu.

Ia menegaskan bahwa intervensi semacam itu tidak terikat pada angka psikologis tertentu, melainkan dapat dilakukan kapan saja sesuai kebutuhan, termasuk lewat aksi bersama dengan Washington. Sebagai gambaran, intervensi gabungan kedua negara pada bulan lalu sempat berhasil mengangkat yen dari titik terlemahnya dalam empat dekade terakhir di kisaran 163,99 per dolar AS, menjadi sekitar 155,20 per dolar. Namun tekanan jual kembali muncul, membuat yen melemah lagi ke posisi sekitar 159,50 per dolar AS saat ini.

Furusawa mengingatkan bahwa langkah intervensi sejatinya hanya bersifat sementara, sekadar meredam gejolak jangka pendek tanpa menyentuh akar persoalan. Menurutnya, solusi yang lebih mendasar terletak pada kebijakan moneter BOJ, khususnya mempercepat siklus kenaikan suku bunga. Ia menilai ekspektasi pasar yang memperkirakan kenaikan suku bunga pada September memang sudah tepat, namun sinyal dari bank sentral soal potensi percepatan langkah berikutnya dinilai jauh lebih krusial untuk memulihkan kepercayaan pasar terhadap mata uang Jepang.

Sejak resmi mengakhiri kebijakan stimulus moneter besar-besaran yang berjalan selama satu dekade pada 2024, BOJ tercatat rutin menaikkan suku bunga sekitar dua kali dalam setahun, dengan level saat ini mencapai 1 persen pada Juni lalu, tertinggi dalam 31 tahun terakhir. Furusawa memperkirakan BOJ pada akhirnya mengarah ke kisaran suku bunga 1,5 hingga 1,75 persen, mengacu pada estimasi bank sentral bahwa tingkat suku bunga netral Jepang berada di rentang 1,1 hingga 2,5 persen. Ia memprediksi kenaikan berikutnya setelah September kemungkinan jatuh pada Desember atau Januari, dilanjutkan periode berikutnya pada tahun fiskal baru yang dimulai April 2027, selama momentum pertumbuhan ekonomi tetap terjaga.

Ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga September turut menguat signifikan, dari semula hanya 24 persen pada akhir Juli menjadi 76 persen berdasarkan data Tokyo Tanshi terbaru, seiring dorongan dari Menteri Keuangan AS Scott Bessent dan sinyal lebih tegas dari BOJ terkait tekanan inflasi.

Furusawa turut menekankan pentingnya pemerintahan Perdana Menteri Sanae Takaichi untuk tidak menghambat ruang gerak kebijakan moneter BOJ, sekaligus tetap konsisten menjaga komitmen keberlanjutan fiskal negara, sebagai kombinasi kebijakan yang diyakini dapat membawa yen menguat secara bertahap ke depan.

#YenJepang #BankOfJapan #SukuBungaBOJ #MitsuhiroFurusawa #EkonomiJepang #IntervensiPasar #ScottBessent #ForexTerkini #EkonomiGlobal #BeritaEkonomi