Sandiaga Uno Yakin Rupiah Bisa Kembali ke Rp15.000, Ini Resepnya

Ekonomi324 Dilihat

Jakarta – Di tengah situasi rupiah yang tersungkur ke level Rp18.000 per dolar AS untuk pertama kalinya dalam sejarah, suara optimistis justru datang dari mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno. Ia tidak hanya yakin kondisi ini bisa berbalik, tapi juga mengurai langkah-langkah konkret yang menurutnya mampu membawa rupiah kembali berjaya.

Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya @sandiuno pada Rabu (3/6/2026), Sandiaga menyatakan optimismenya bahwa rupiah masih bisa menguat secara bertahap. “Saya melihat bahwa rupiah ini akan bisa mencapai angka lebih kuat, mungkin balik ke Rp16.000 dan secara bertahap ke Rp15.000,” katanya. Langkah-langkah yang ia paparkan, menurut Sandiaga, sekaligus bisa menjadi referensi untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi dan membuka lapangan kerja berkelanjutan.

Kunci Pertama: Genjot Ekspor dan Pulangkan Devisa

Sandiaga menempatkan penguatan sisi ekspor sebagai prioritas utama. Jika kegiatan ekspor produk dalam negeri meningkat, semakin banyak devisa yang akan masuk ke Indonesia. Langkah ini kini didukung regulasi terbaru pemerintah.

Sejak 1 Juni 2026, pemerintah melalui PP Nomor 21 Tahun 2026 mewajibkan eksportir SDA merepatriasi 100 persen devisa hasil ekspor ke dalam negeri dan menyimpannya di bank-bank BUMN. Pemerintah juga membatasi konversi DHE SDA ke rupiah maksimal 50 persen guna menjaga efektivitas pengelolaan devisa. Bagi eksportir patuh, tarif PPh atas instrumen penempatan DHE bisa mencapai 0 persen.

Kunci Kedua: Pariwisata sebagai Mesin Devisa

Sebagai mantan menteri yang mengurusi sektor ini, Sandiaga sangat fasih membaca potensinya. Mendatangkan lebih banyak wisatawan mancanegara berarti mengalirkan dolar masuk ke dalam ekonomi domestik secara langsung. Sebaliknya, mendorong warga Indonesia untuk berwisata di dalam negeri alih-alih ke luar negeri juga mengurangi kebocoran devisa dari sisi pengeluaran.

Kunci Ketiga: Konversi Simpanan Dolar ke Rupiah

Ini resep klasik Sandiaga yang kini kembali relevan. Ia mengajak kalangan konglomerat dan pemilik modal besar untuk secara sukarela mengonversi simpanan dolar mereka ke rupiah. Bank Indonesia pun ambil bagian: mulai 2 Juni 2026, BI memberlakukan ketentuan baru bahwa pembelian valuta asing terhadap rupiah tanpa underlying dibatasi maksimal US$25.000 per pelaku per bulan. BI juga terus mendorong penggunaan mata uang lokal dalam transaksi.

Rupiah telah kehilangan sekitar 7,2 persen nilainya terhadap dolar sejak awal 2026, menempatkannya di antara mata uang pasar berkembang yang paling terpuruk. Surplus perdagangan April menyempit ke level terendah sejak 2020, semakin mengurangi penyangga dari sisi arus ekspor.

Optimisme Sandiaga memang terasa kontras dengan kondisi lapangan. Namun, dengan paket kebijakan yang mulai bergerak dari berbagai arah repatriasi devisa, pembatasan pembelian valas, hingga dorongan pariwisata. Arah rupiah ke depan akan sangat bergantung pada seberapa serius dan konsisten kebijakan tersebut dijalankan.

#SandiagaUno #PerkuatRupiah #RupiahMenguat #NilaiTukarRupiah #DevisaEkspor #DHERepatriasi #PariwisataIndonesia #RupiahRp15000 #KrisisRupiah #BankIndonesia #EkonomiIndonesia #InvestasiRI #StabilitasEkonomi #Sandiuno #RupiahKembali