Jakarta — Indonesia belum mampu memenuhi target produksi minyak nasional yang dipancang dalam APBN 2026. Data terbaru Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mengungkap capaian yang masih tertinggal dari rencana, meski proyeksi akhir tahun masih menaruh harapan.
SKK Migas mencatat realisasi produksi minyak, kondensat, dan NGL nasional hingga 31 Mei 2026 mencapai 576,2 ribu barel per hari (bph), terdiri dari produksi minyak 491,3 ribu bph, kondensat 55,8 ribu bph, dan NGL 29,1 ribu bph.
Secara nasional angka tersebut setara 94,4 persen dari target APBN 2026 sebesar 610 ribu bph. Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menyampaikan kondisi ini dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR RI, Rabu (3/6/2026).
Meski begitu, Djoko menegaskan pihaknya masih optimistis target produksi 610 ribu bph pada akhir tahun dapat tercapai.
PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) masih bertahan di posisi puncak sebagai produsen minyak terbesar nasional dengan realisasi 131.040 bph dari target APBN 163.859 bph. Posisi kedua ditempati ExxonMobil Cepu Ltd. dengan realisasi 129.915 bph dari target 148.500 bph. Peringkat ketiga dipegang PT Pertamina EP dengan realisasi 73.983 bph mendekati target 75.459 bph.
Di luar tiga besar, sejumlah kontraktor justru melampaui target. PetroChina International Jabung Ltd. mencatatkan realisasi 27.478 bph atau 236,9 persen dari target 11.600 bph. Saka Indonesia Pangkah Ltd. melampaui target 52,2 persen dengan realisasi 8.754 bph. Medco E&P Natuna Ltd. juga di atas target dengan realisasi 24.023 bph atau 126,3 persen.
Penyebab terpuruknya dua produsen terbesar nasional itu kini terkuak. Direktur Utama PHR Muhamad Arifin menjelaskan, rendahnya produksi di awal tahun disebabkan oleh putusnya pipa milik PT Transportasi Gas Indonesia (TGI) pada periode 2 Januari hingga 2 Februari 2026. Kondisi ini menghambat pasokan gas ke Blok Rokan dan memengaruhi operasi produksi di lapangan.
Setelah gangguan pipa TGI teratasi, produksi sempat naik. Namun muncul lagi masalah baru berupa gangguan kelistrikan di area kerja PHR, kemudian disusul penurunan produksi di Lapangan Banyu Urip Blok Cepu. “Dua blok ini merupakan penopang terbesar produksi nasional kita,” ujar Djoko.
Sementara ExxonMobil Cepu Ltd. menyebutkan penurunan produksi mereka terutama akibat laju penurunan alamiah atau natural decline dari lapangan yang sedang dioperasikan. SKK Migas bersama ExxonMobil kini tengah mengevaluasi teknologi yang tepat untuk menjaga atau meningkatkan kembali level produksi Blok Cepu. “Kalau yang Cepu itu problem reservoir. Lagi dievaluasi teknologi apa kira-kira yang bisa tetap menjaga atau bahkan mencapai target produksi di tahun ini,” ujar Djoko.
Untuk proyeksi tahun depan, SKK Migas menargetkan lifting minyak di kisaran 602 ribu hingga 615 ribu bph pada 2027. Djoko juga memastikan target 2026 masih dalam jalur recovery menuju 600 hingga 610 ribu bph di akhir tahun.
Dengan dua penopang utama nasional masih bergulat dengan masalah teknis, pertaruhan besar ada di semester kedua 2026.
#SKKMigas #LiftingMinyak #ProduksiMinyakRI #BlokRokan #BlokCepu #PHR #ExxonMobilCepu #MigasIndonesia #TargetAPBN2026 #EnergiBaru #KetahananEnergi #PertaminaHuluRokan #DjokoPHR #MigasNasional #IndustriMigas






