Jakarta – Bukan sekadar angka di layar monitor para trader. Ketika nilai tukar rupiah terpuruk hingga mendekati Rp18.200 per dolar AS, dampaknya merambat jauh ke dapur rumah tangga, meja makan buruh pabrik, hingga toko kedelai di sudut pasar tradisional.
Level Rp18.000 Sudah Ditembus
Analis komoditas dan mata uang Ibrahim Assuaibi memperingatkan bahwa level Rp18.000 per dolar AS sudah berada di depan mata. “Untuk harga rupiah dalam minggu ini kalau tidak kena minggu depan ya itu Rp18.000 sudah di depan mata. Karena saya melihat kalau Rp18.000 ini tembus kemungkinan besar ya ini akan menuju di Rp18.200,” kata Ibrahim.
Ibrahim menambahkan, kondisi ini diperparah oleh perilaku masyarakat yang mulai memindahkan tabungan rupiah ke rekening valuta asing demi mengamankan aset mereka. “Pada saat masyarakat melihat bahwa peluang untuk dolar yang terus mengalami penguatan, membuat masyarakat itu mengalihkan tabungannya dari tabungan konvensional ke tabungan valuta asing,” ujarnya. Fenomena ini justru mempercepat tekanan terhadap rupiah itu sendiri.
Harga Kebutuhan Pokok Ikut Terbakar
Transmisi pelemahan kurs ke harga barang sehari-hari kini bergerak makin cepat. Direktur Eksekutif CELIOS Bhima Yudhistira menjelaskan bahwa selama ini ada jeda atau lag dua hingga tiga bulan antara perubahan nilai tukar dengan kenaikan harga barang di tingkat konsumen. Namun semakin dalam rupiah tertekan, jeda itu semakin pendek. “Sekarang semakin melemah maka pelaku usaha juga akan mengganti price list atau daftar harga barang-barang yang dijual lebih cepat lagi,” kata Bhima.
Salah satu komoditas yang paling rentan adalah kedelai. Ibrahim mencontohkan bahwa mayoritas kedelai Indonesia berasal dari impor. Ketika rupiah melemah, harga kedelai dalam negeri naik signifikan dan produk olahannya seperti tahu dan tempe ikut terkerek. Efek serupa berlaku untuk bahan baku industri lain yang masih bergantung pada pasokan luar negeri.
PHK Massal dan Kemiskinan Mengintai
Tekanan biaya produksi yang melonjak memaksa kalangan industri padat karya mengambil langkah drastis. Bhima memperingatkan bahwa jika kondisi ini berlanjut, besar kemungkinan perusahaan dengan bahan baku utama dari impor akan mulai melakukan efisiensi alias PHK massal. Ujungnya daya beli masyarakat kian terkikis.
Yang paling memprihatinkan adalah nasib kelompok menengah ke bawah. “Masyarakat menengah ke bawah lah yang sebenarnya paling dirugikan saat ini karena mereka hampir tidak lagi memiliki tabungan hidupnya sudah dari pinjaman dan sekarang sudah mode survival bahkan di kelompok menengah,” tegas Bhima.
Bhima menyimpulkan, efek domino dari dolar yang menembus Rp18.000 berujung pada meningkatnya angka kemiskinan, lonjakan pengangguran, dan semakin banyaknya pekerja yang terjebak di sektor informal yang sangat rentan.
Spiral Bahaya: Semakin Beli Dolar Semakin Jatuh Rupiah
Skenario terburuk adalah spiral down effect di mana kelas menengah atas berbondong-bondong membeli dolar untuk melindungi kekayaan mereka, sementara tekanan jual rupiah kian deras. “Makin menekan, jadi ada spiral down effect di mana kecenderungan untuk menjual rupiah dan membeli dolar AS itu akan menekan nilai tukar rupiah lebih dalam lagi,” ujar Bhima.
Para ekonom kini mendesak pemerintah dan Bank Indonesia segera mengambil langkah intervensi tegas sebelum spiral ini semakin dalam dan tak terkendali.
#RupiahMelemah #DolarRp18200 #KrisisRupiah #ImportedInflation #PHKMassal #DayaBeli #EkonomiIndonesia #BhimaYudhistira #IbrahimAssuaibi #CELIOS #NilaiTukar #InflasiIndonesia #KelasMenungah #KrisisEkonomi2026 #SpiralEkonomi












