Jakarta – Di tengah gempuran rupiah yang melemah dan ketidakpastian geopolitik global yang belum reda, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tampil percaya diri menyampaikan kabar yang menyejukkan. Dalam konferensi pers APBN KiTa Edisi Juni 2026 di Gedung Djuanda I Kementerian Keuangan, Jumat (5/6/2026), ia memastikan fondasi ekonomi nasional masih berdiri kokoh.
Tiga Pilar Penopang Ekonomi
“Fondasi ekonomi Indonesia tetap solid di tengah ketidakpastian global. Pertumbuhan ekonomi masih berada di atas 5 persen, ditopang oleh konsumsi rumah tangga, investasi, dan akselerasi belanja pemerintah,” tegas Purbaya.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 tercatat sebesar 5,61 persen. Konsumsi rumah tangga menjadi kontributor terbesar dengan andil 2,94 persen, diikuti investasi sebesar 1,79 persen dan belanja pemerintah sebesar 1,26 persen terhadap pertumbuhan nasional.
APBN Surplus: Keseimbangan Primer Tembus Rp 58,6 Triliun
Sisi fiskal pun mencatat prestasi yang patut dicatat: keseimbangan primer APBN membukukan surplus Rp 58,6 triliun. Aktivitas sektor riil domestik terus menguat, didorong belanja barang konsumsi, kebutuhan rumah tangga, dan peningkatan mobilitas masyarakat. Keyakinan konsumen tetap berada pada level optimistis sementara penjualan kendaraan bermotor, konsumsi listrik, dan semen menunjukkan tren kenaikan seiring normalisasi pasca Idul Fitri dan percepatan program prioritas pemerintah.
Data Konkret: Angka yang Tidak Bisa Dibantah
Data dari Kemenkeu memperlihatkan gambaran yang lebih lengkap: Indeks Keyakinan Konsumen April 2026 berada pada level optimistis sebesar 123,0, naik tipis dari 122,9 bulan sebelumnya. Penjualan mobil melonjak 55,0 persen dan sepeda motor tumbuh 28,1 persen secara tahunan. Konsumsi semen domestik meningkat 35,6 persen sementara penjualan listrik tumbuh 19,0 persen dengan konsumsi sektor bisnis naik 11,9 persen dan sektor industri menguat 17,1 persen.
PMI Manufaktur Kembali Ekspansi, tapi Ekonom Beri Catatan
Di sektor manufaktur, Indonesia kembali memasuki zona ekspansi dengan Purchasing Managers Index (PMI) mencapai 50,0 pada Mei 2026, naik dari 49,1 pada bulan sebelumnya.
Namun optimisme itu tidak bulat. Peneliti LPEM FEB UI Teuku Riefky mengingatkan bahwa perbaikan PMI lebih tepat dibaca sebagai stabilisasi bukan ekspansi. “Ini fluktuasi jangka pendek saja. Peningkatan permintaan lebih dikarenakan sudah berlalunya periode libur Lebaran sehingga pabrik mulai aktif kembali,” ujar Riefky.
Tantangan nyata masih mengintai: inflasi biaya input pada Mei 2026 mencapai level tertinggi sejak survei PMI manufaktur Indonesia dimulai September 2013, dipicu kenaikan harga bahan baku yang terus berlanjut.
Optimisme dengan Kewaspadaan
Kemenkeu menegaskan pemerintah optimis stabilitas ekonomi akan terus dapat dipertahankan melalui bauran kebijakan yang responsif, antisipatif, dan terukur. Pesan Purbaya jelas: ekonomi Indonesia solid namun perjalanan masih panjang dan rintangan belum selesai.
#EkonomiIndonesia
#PurbayaYudhiSadewa
#APBNKiTa
#PertumbuhanEkonomi
#EkonomiSolid2026












