Chongqing – Bayangkan sebuah bangunan seluas 170 lapangan sepakbola, berisi 29 jalur rel, mampu mengalirkan ratusan ribu penumpang setiap hari dan semuanya berada dalam satu kompleks terintegrasi. Bukan fiksi ilmiah. Itulah Chongqing East Railway Station, stasiun kereta api yang kini resmi dinobatkan sebagai yang terbesar di dunia, berdiri megah di jantung kota yang dijuluki “ibu kota cyberpunk” China.
Chongqing East Railway Station mulai beroperasi penuh pada 27 Juni 2025 setelah sekitar tujuh tahun proses perencanaan dan pembangunan. Stasiun ini dirancang untuk menampung 300.000 penumpang per hari dan dibangun sebagai simpul transportasi sekaligus pusat bisnis.
Konstruksi fisik secara resmi dimulai pada 22 November 2018 , dan stasiun ini masuk konstruksi penuh pada Mei 2022 sebelum akhirnya dibuka pada 27 Juni 2025.
Skalanya memukau bahkan untuk standar China sekalipun. Stasiun ini membentang seluas 13 juta kaki persegi, lebih dari lima kali ukuran Grand Central Station di New York City. Dengan total luas bangunan 1,22 juta meter persegi, stasiun ini setara dengan 170 lapangan sepakbola standar.
Bangunan ini bukan sekadar besar, ia juga indah secara arsitektur. Desainnya terinspirasi dari lanskap pegunungan Chongqing, menampilkan kolom-kolom berbentuk pohon yang merepresentasikan pohon Huangge khas kota tersebut, ditutupi kanopi futuristik dari material ETFE dengan skylight berbentuk tetesan air yang mengalirkan cahaya alami ke seluruh interior.
Stasiun ini dirancang dengan konsep “integrasi empat jaringan”, yang memadukan kereta cepat jarak jauh, transit cepat perkotaan, jaringan bus, dan rel suburban dalam satu hub komprehensif.
Stasiun ini terdiri dari delapan lantai, 29 peron, dan 15 jalur rel, serta mampu melayani hingga 16.000 penumpang per jam pada jam sibuk.
Stasiun ini mulai beroperasi bersamaan dengan pembukaan jalur Chongqing–Qianjiang dari rute kereta cepat Chongqing–Xiamen, menempatkan kota ini di pusat transformasi rel wilayah barat daya China. Dari sini, penumpang dapat terhubung dengan cepat ke kota-kota besar seperti Beijing, Shanghai, Guangzhou, Chengdu, dan Xi’an.
Tujuh jalur kereta cepat membentuk jaringan “lingkaran 1-3-6 jam” yang menjangkau sekitar satu miliar penduduk.
Stasiun ini juga menjadi model keberlanjutan. Dibangun dengan standar Green Building Label tertinggi, stasiun ini diproyeksikan menghemat 6,18 juta kWh listrik per tahun dan memangkas emisi karbon lebih dari 8.000 ton.
Teknologi cerdas di dalamnya mencakup jaringan Wi-Fi menyeluruh, sistem navigasi digital, dan pengumuman real-time multibahasa untuk memudahkan wisatawan internasional.
Stasiun ini mendadak menjadi perbincangan global setelah CEO Tesla dan SpaceX Elon Musk membagikan video yang menampilkan kompleks stasiun ini di platform X pada 18 Mei lalu. Video berdurasi hampir enam menit itu memperlihatkan bangunan masif, aula beratap kaca, dan jaringan transportasi terintegrasi dan telah ditonton lebih dari 56 juta kali.
Kehadiran stasiun raksasa ini semakin mengukuhkan posisi Chongqing sebagai destinasi wisata unggulan. Kota ini dikenal dengan pemandangan urban berlapis-lapis di kawasan berbukit yang membuatnya tampak seperti kota dari film fiksi ilmiah, dengan julukan “Kota Cyberpunk” atau “Kota 8D”. Chongqing juga menjadi titik keberangkatan wisata pelayaran di Sungai Yangtze dan terkenal dengan kuliner hotpot mala khas Sichuan.
Bagi industri perkeretaapian, Chongqing East Railway Station kini menjadi tolok ukur baru dalam hal ukuran, kapasitas, dan perencanaan transportasi terintegrasi. China, sekali lagi, membuktikan bahwa ambisinya dalam infrastruktur tidak mengenal batas.
#ChongqingEastRailwayStation #StasiunTerbesarDunia #ChinaRail #Chongqing #KotaCyberpunk #KeretaCepat #HighSpeedRail #InfrastrukturChina #WisataChina #ChongqingTourism #ElonMusk #MegaProject #TransportasiMasaDepan #ChinaTravel #RecordBreaking











