Ketika Dolar Mendekati Rp 18.000, Rakyat Kecil Jadi Korban Pertama

Ekonomi, Fokus965 Dilihat

Jakarta – Mata uang Garuda kini berada dalam tekanan paling berat dalam sejarah modern. Pada penutupan perdagangan Jumat (29/5/2026), rupiah bertengger di level Rp 17.880 per dolar AS , dan ancaman tembus Rp 18.000 bukan lagi sekadar skenario melainkan hitungan hari.

Rupiah berada di jalur penurunan bulanan ketiga berturut-turut, turun hampir 3 persen sepanjang Mei dan 6,6 persen sejak awal tahun, menempatkannya di antara mata uang terlemah di Asia bersama rupee India dan peso Filipina.

Defisit Neraca Pembayaran Indonesia pada triwulan I-2026 tercatat sebesar 9,1 miliar dolar AS defisit terdalam sejak triwulan III-2020. Di sisi eksternal, Bank Indonesia menyebut tekanan nilai tukar masih dipengaruhi ketidakpastian global akibat konflik di Timur Tengah.

Analis mata uang Ibrahim Assuaibi memberikan peringatan keras. “Kalau tidak kena minggu ini ya minggu depan, Rp 18.000 sudah di depan mata. Kalau level ini tembus, kemungkinan besar akan menuju Rp 18.200,” ujarnya, Jumat (29/5/2026).

Sebagai respons, Bank Indonesia telah menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen pada Mei 2026 untuk memperkuat stabilitas nilai tukar. Namun langkah itu dinilai belum cukup membendung arus pelemahan.

Direktur Eksekutif CELIOS Bhima Yudhistira memetakan efek domino yang siap meledak. Ketika rupiah jebol, biaya impor naik, harga produk berbahan baku luar negeri dari kedelai hingga komponen industri langsung melonjak. Kenaikan biaya produksi ini pada akhirnya dibebankan kepada konsumen lewat harga jual yang lebih tinggi.

Yang lebih mengkhawatirkan, “tadinya ada lag 2-3 bulan sebelum harga berubah, tapi sekarang pelaku usaha akan mengganti price list lebih cepat,” kata Bhima. Artinya, masyarakat tak punya waktu beradaptasi.

Jika beban produksi terus membengkak, perusahaan padat karya berpotensi melakukan PHK massal memutus pendapatan jutaan pekerja di saat harga-harga sudah mencekik.

Bhima menegaskan, masyarakat kelas menengah ke bawah adalah pihak yang paling tak berdaya. Tidak punya tabungan dolar sebagai pelampung, mereka tidak bisa melindungi nilai asetnya. “Angka kemiskinan bisa kembali meningkat, pengangguran naik, dan semakin banyak pekerja sektor informal yang sebenarnya rapuh,” pungkasnya.

Bank Indonesia juga telah membatasi pembelian valas tanpa underlying menjadi USD 25.000 per pelaku per bulan mulai Juni 2026, langkah yang diharapkan bisa meredam tekanan permintaan dolar, meski para ekonom menilai itu belum cukup tanpa kebijakan fiskal yang lebih agresif.

#RupiahMelemah #DolarVsRupiah #Rp18000 #EkonomiIndonesia #KrisisRupiah #ImportedInflation #NilaiTukar #DayaBeli #PHKMassal #BIRate #CELIOS #RupiahKrisis2026