Washinton DC – Perang yang semula digadang-gadang sebagai warisan besar kepemimpinan Donald Trump kini berbalik menghantam sang presiden dari segala arah. Deretan survei terbaru dari lembaga-lembaga polling paling terpercaya di Amerika Serikat (AS) melukiskan gambaran yang suram: publik lelah, skeptis, dan kehilangan kepercayaan, baik terhadap perang itu sendiri maupun terhadap sang pemimpin yang menginisiasi konflik tersebut.
Survei New York Times/Siena College yang dilakukan terhadap 1.507 pemilih terdaftar pada 11–15 Mei 2026 menemukan bahwa tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Trump sebagai presiden hanya menyentuh angka 37 persen, angka terendah sepanjang masa jabatan keduanya. Penurunan sebesar empat poin persentase ini terjadi hanya dalam kurun waktu beberapa bulan.
Angka tersebut menempatkan Trump dalam posisi yang secara historis mengkhawatirkan dalam 17 tahun terakhir, tidak ada satu pun presiden AS yang bertahan di bawah angka 38 persen dalam jajak pendapat New York Times/Siena selama lebih dari beberapa hari.
Survei yang sama menemukan 59 persen responden menyatakan tidak puas dengan cara Trump menjalankan tugasnya, 56 persen tidak setuju dengan penanganannya di bidang imigrasi, dan 64 persen menolak kebijakan ekonominya, angka yang mempertegas betapa dalamnya ketidakpuasan publik di hampir seluruh lini kebijakan.
Pukulan terberat bagi Trump datang dari pertanyaan paling mendasar, apakah berperang dengan Iran adalah pilihan yang tepat?
Hasil survei New York Times/Siena menyatakan hampir dua pertiga pemilih sebesar 63 persen menilai keputusan untuk berperang adalah langkah yang keliru. Bahkan, hampir tiga perempat pemilih dari kalangan independen sependapat. Satu-satunya kantong dukungan yang tersisa adalah basis Partai Republik, di mana 7 dari 10 anggotanya masih memandang keputusan Trump sebagai yang benar.
Survei Fox News dan Beacon Research yang dilakukan pada 15–18 Mei dengan 1.002 responden menghasilkan temuan serupa 60 persen warga AS menyatakan menolak perang ini, sementara hanya 40 persen yang mendukungnya. Angka penolakan ini bahkan meningkat dari survei akhir April, ketika penentang perang baru mencapai 55 persen.
Jajak pendapat Universitas Quinnipiac yang digelar pada rentang waktu yang sama terhadap 1.106 pemilih terdaftar menunjukkan kondisi yang nyaris identik hanya 38 persen warga AS yang mendukung aksi militer terhadap Iran, sementara 56 persen secara tegas menolaknya.
Penolakan publik terhadap perang bukan semata persoalan ideologis, ada penderitaan ekonomi konkret yang dirasakan langsung oleh jutaan keluarga Amerika.
Konflik ini telah menimbulkan kekhawatiran ekonomi yang serius, terutama lonjakan harga bahan bakar yang dipicu oleh gangguan pada Selat Hormuz. Rata-rata harga bensin di AS kini mencapai sekitar 4,50 dolar per galon, sebuah ironi menyakitkan bagi Trump yang memenangkan pemilu 2024 sebagian besar berkat janji menurunkan biaya hidup warga.
Survei Reuters/Ipsos yang dilakukan pada akhir Maret 2026 mencatat hanya 29 persen warga AS yang menyetujui pengelolaan ekonomi oleh Trump, angka terendah di kedua masa jabatannya, bahkan lebih rendah dari angka terburuk yang pernah dicapai mantan Presiden Joe Biden.
Trump sendiri tampak abai terhadap kekhawatiran ini. Ketika ditanya soal dampak ekonomi perang pada 13 Mei, Trump menjawab, “Saya tidak memikirkan siapa pun. Saya memikirkan satu hal kita tidak boleh membiarkan Iran memiliki senjata nuklir. Itu saja.” Pernyataan ini langsung memantik gelombang kritik dari berbagai kalangan.
Bahkan andaipun kesepakatan damai tercapai, publik AS meragukan nilainya.
Survei New York Times-Siena mengungkap hanya 22 persen responden yang percaya perang akan “sangat berhasil” dalam melumpuhkan program nuklir Iran, padahal pemerintahan Trump sebelumnya sudah mengklaim program nuklir Iran “telah dimusnahkan.” Sebanyak 18 persen menilai perang hanya “cukup berhasil,” sementara 50 persen meyakini perang tidak akan menghasilkan apa pun yang berarti.
Survei Washington Post-ABC News menemukan 65 persen warga AS mengaku “tidak terlalu yakin” atau “sama sekali tidak yakin” bahwa kesepakatan damai yang nantinya terjadi akan mampu menghentikan Iran mengembangkan senjata nuklir, yang selama ini menjadi alasan utama Trump melancarkan perang.
Mayoritas publik AS juga meyakini perang ini justru memperburuk banyak hal: 61 persen percaya konflik meningkatkan risiko terorisme terhadap warga Amerika, 56 persen khawatir hubungan AS dengan negara-negara lain akan rusak, dan 49 persen menilai stabilitas Timur Tengah akan memburuk akibat perang ini.
Angka yang paling telak muncul dari survei CNN terbaru. Hanya 20 persen warga AS yang memiliki “tingkat kepercayaan sangat besar” terhadap kemampuan Trump mengambil keputusan yang tepat soal Iran. Sebaliknya, sekitar tiga kali lipatnya , 59 persen menyatakan hanya memiliki sedikit kepercayaan atau bahkan tidak percaya sama sekali kepada Trump dalam menangani konflik tersebut.
Minggu terakhir Mei 2026 menjadi titik balik yang signifikan: sejumlah anggota Kongres dari Partai Republik mulai berani menyuarakan penolakan terbuka terhadap berbagai kebijakan Trump, termasuk soal Iran. Bahkan Senator Ted Cruz yang selama ini dikenal sebagai loyalis Trump pun mengkritik keputusan presiden terkait dana senilai 1,8 miliar dolar yang berpotensi mengalir ke pelaku kerusuhan 6 Januari. Suasana di internal partai disebut semakin suram menghadapi pemilu sela November 2026.
Survei New York Times/Siena menemukan 50 persen pemilih terdaftar menyatakan akan memilih kandidat Partai Demokrat di daerah pemilihan mereka jika pemilihan diadakan hari ini naik dari 48 persen pada Januari dan 47 persen pada September tahun lalu. Tren ini mengancam mayoritas tipis yang dipegang Partai Republik di DPR maupun Senat.
Para pengamat menilai Trump telah melakukan dua kesalahan fundamental sejak awal tidak memiliki rencana realistis untuk mengakhiri perang, dan gagal meyakinkan rakyat AS mengapa konflik ini layak dijalani. Ia menetapkan standar kemenangan yang terlalu tinggi sehingga hampir mustahil dicapai tanpa mempermalukan dirinya sendiri atau melanjutkan perang lebih lama. Trump berkali-kali menyatakan kepada publik bahwa perang ini akan “sepadan dengan rasa sakitnya” namun data survei kini menegaskan mayoritas warga AS tidak pernah percaya pada janji itu, dan semakin sedikit yang masih memercayainya sekarang.
Di persimpangan inilah Trump terjebak melanjutkan perang berarti terus menggerus popularitasnya, sementara mengakhirinya tanpa hasil konkret berarti mengakui kegagalan di depan publik yang sudah skeptis sejak awal.
#TrumpIranWar
#PerangIran2026
#PopularitasTrump
#SurveiTrump
#KonflikASIran






