Dhaka – Di antara jutaan hewan ternak yang memenuhi pasar kurban Bangladesh menjelang Idul Adha 1447 H, satu ekor kerbau tampil beda, sangat beda. Rambutnya pirang bergelombang, kulitnya krem pucat, hidungnya berwarna merah muda, dan perawakannya yang masif mencapai 700 kilogram. Warganet di seluruh dunia pun sepakat: ia mirip sekali dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Itulah awal dari kisah paling tidak terduga musim kurban tahun ini.
Kerbau itu dibesarkan di sebuah peternakan di Narayanganj, kawasan pinggiran ibu kota Dhaka. Pemiliknya, Zia Uddin Mridha (38 tahun), mengungkapkan kepada AFP bahwa nama “Donald Trump” adalah pemberian adik laki-lakinya. “Adik saya memilih nama itu karena rambut kerbau ini yang luar biasa,” cerita Mridha dari peternakannya.
Kerbau langka berwarna putih krem dengan rambut pirang mengalir menyerupai gaya rambut khas Presiden AS itu sontak menjadi magnet perhatian publik. Foto dan videonya menyebar deras di berbagai platform media sosial, menjadikannya salah satu atraksi paling diminati di antara ribuan hewan ternak yang dipajang di pasar-pasar kurban seluruh Bangladesh.
Sepanjang bulan Mei, Mridha mengaku rumahnya tak pernah sepi. Arus pengunjung dari penggemar media sosial, warga biasa, hingga anak-anak datang silih berganti hanya untuk melihat langsung hewan yang telah menjadi sensasi internet itu.
Pemerintah Bangladesh akhirnya turun tangan hanya beberapa jam sebelum hewan itu dijadwalkan disembelih pada hari kedua perayaan Idul Adha.
Sekitar pukul 16.00 waktu setempat, seorang petugas dari Kepolisian Distrik Keraniganj mendatangi rumah pemilik baru kerbau tersebut, Moniruzzaman, dan menyampaikan pesan yang jelas: “Instruksi telah datang dari atas bahwa kerbau ini tidak boleh disembelih. Untuk sementara, kami diperintahkan membawanya ke kantor polisi.”
Moniruzzaman merespons dengan lapang dada. “Saya membeli kerbau ini 10 hari setelah Idul Fitri. Tiga hari lalu saya membawanya ke rumah dari peternakan. Sore ini petugas kepolisian datang dan mengatakan pemerintah akan mengambilnya. Kami tidak ingin ada kekacauan. Pemerintah menginginkannya, jadi kami menyerahkannya,” tuturnya kepada Prothom Alo.
Ia mendapat jaminan dari pemerintah sebagai kompensasi, akan diberikan uang ganti rugi atau seekor kerbau, sapi, atau lembu pengganti.
Keputusan pemerintah bukan semata karena tekanan media sosial. Ada dasar ilmiah yang kuat di baliknya.
Kepala Kepolisian Sektor Keraniganj Dhaka, Mohammad Ruhul Quddus, menjelaskan alasan resmi penyelamatan itu. “Dinas peternakan meminta kami mengambil kerbau tersebut dari pemiliknya karena merupakan hewan langka. Mereka menyatakan kerbau albino ini masih sangat muda dan bisa dibesarkan selama beberapa tahun lagi,” ujar Quddus kepada AFP.
Para pejabat dari Dinas Peternakan Bangladesh mengonfirmasi bahwa kerbau albino memang tergolong sangat langka karena rendahnya produksi melanin dalam tubuh mereka. Di Bangladesh, kerbau umumnya berkulit gelap, sehingga kemunculan kerbau berkulit terang seperti ini menjadi peristiwa yang benar-benar luar biasa.
Kurator Kebun Binatang Nasional Bangladesh, Atiqur Rahman, memastikan bahwa hewan yang kini menjadi selebriti internasional itu akan mendapatkan perawatan terbaik di tempat barunya.
“Kami telah menyiapkan kandang khusus untuk kerbau albino ini dan menunjuk seorang pengasuh tetap,” kata Rahman kepada AFP. Ia menambahkan, “Hewan ini akan menjalani masa karantina selama dua pekan terlebih dahulu” sebelum resmi dipamerkan kepada pengunjung.
Kisah “Kerbau Trump” ini menjadi butiran unik di tengah skala perayaan yang sangat besar.
Bangladesh yang berpenduduk 170 juta jiwa dengan mayoritas Muslim merayakan Idul Adha sebagai “pesta penyembelihan.” Setiap tahunnya, diperkirakan lebih dari 12 juta ekor hewan ternak mencakup kambing, domba, sapi, dan kerbau dikurbankan di seluruh penjuru negara, memberikan kesempatan bagi keluarga-keluarga kurang mampu untuk menikmati daging dalam perayaan yang penuh makna ini.
Dalam konteks itulah, seekor kerbau 700 kilogram berhasil mengubah takdirnya, bukan karena ia lebih kuat atau lebih cepat berlari, melainkan karena rambutnya menyerupai seorang pemimpin negara adidaya.
Perjalanan kerbau ini dari hewan ternak biasa menjadi meme global lalu subjek perdebatan daring tentang iman, ketenaran, dan nasib hewan mencerminkan kecepatan arus informasi di era 2026. Dalam masa ketika satu foto mampu melintasi benua dalam hitungan jam, seekor kerbau berambut pirang dari Narayanganj berhasil menyatukan pengguna media sosial dari Asia, Eropa, Afrika, hingga Amerika dalam sebuah momen kejenakaan bersama yang singkat namun nyata.
Kisah “Kerbau Trump” adalah pengingat kecil namun bermakna: di era internet, ketenaran bisa hadir di mana saja, kapan saja, dan kadang, ia datang berkaki empat dengan rambut yang sangat ikonik.
#KerbauTrump
#KerbauAlbino
#DonaldTrumpBuffalo
#BangladeshViral
#IdulAdha2026






