Jakarta Tenggelam Lebih Cepat dari Naiknya Air Laut

Fokus, Nasional790 Dilihat

Jakarta – Selama ini, ancaman tenggelamnya kota-kota pesisir selalu dikaitkan dengan kenaikan permukaan laut akibat perubahan iklim. Namun, sebuah temuan ilmiah terbaru membalik asumsi lama yang telah menjadi fondasi perencanaan kota di seluruh dunia daratan ternyata tidak diam ia justru terus amblas dari bawah, jauh lebih cepat daripada laut yang naik dari luar.

Data pengukuran satelit terbaru menunjukkan bahwa di wilayah pesisir berpenduduk padat tempat miliaran orang tinggal, daratan terus mengalami penurunan tanah atau land subsidence yang mengkhawatirkan. Tim peneliti dari Munich, Jerman, dan New Orleans, Amerika Serikat, mengukur pergerakan tanah pesisir dalam skala global menggunakan teknologi radar satelit.

Di antara ratusan kota pesisir yang diteliti, Jakarta mencuat sebagai salah satu yang paling parah. Jakarta mencatat rata-rata penurunan tanah lebih dari 1,3 sentimeter per tahun, setara dengan Tianjin di China, sementara Bangkok berada di posisi tidak jauh di belakangnya.

Namun angka rata-rata itu menyembunyikan kenyataan yang jauh lebih suram. Di beberapa kawasan Jakarta, tanah ambles lebih dari 3,8 sentimeter per tahun, sementara di lokasi lain justru mengalami kenaikan. Fenomena variasi ekstrem dalam satu kota ini baru bisa terlihat jelas setelah teknologi satelit radar mampu memantau perubahan permukaan tanah hingga skala sangat kecil.

Data historis mempertegas betapa dramatisnya kondisi ini. Dalam lima puluh tahun terakhir, tingkat penurunan tanah di Jakarta mencapai 2 hingga 15 sentimeter per tahun, bahkan menembus 20 hingga 28 sentimeter di beberapa titik tertentu. Kawasan paling terdampak meliputi Cengkareng, Penjaringan, Pantai Mutiara, Pantai Indah Kapuk, Ancol, Cilincing, dan Cakung semuanya berada di bagian utara ibu kota.

Data geodetik terbaru mengungkap bahwa Jakarta, bersama Pekalongan, Semarang, dan Demak, mengalami penurunan tanah sekurang-kurangnya sembilan kali lebih cepat dibanding laju kenaikan permukaan laut global saat ini.

Masalah ini bukan monopoli ibu kota. Riset terbaru menggunakan data satelit radar dan teknik machine learning canggih menemukan bahwa sebagian besar wilayah Jawa mengalami penurunan dengan laju hingga 1,5 meter per dekade melampaui dampak kenaikan permukaan laut global yang menghantam Jakarta, Cirebon, Semarang, Surabaya, dan kota-kota pesisir besar lainnya.

“Studi ini mengungkap pergeseran fundamental dalam cara kita memahami risiko pesisir,” ungkap Leonard Ohenhen, peneliti utama yang kini menjabat sebagai profesor di UC Irvine. “Di banyak bagian Jawa, tanah itu sendiri tenggelam begitu cepatnya sehingga mengalahkan efek kenaikan laut yang didorong oleh samudra. Artinya, bahaya bukan hanya datang dari laut ia sedang digerakkan dari bawah permukaan tanah.”

Mengapa Jakarta begitu parah? Terdapat empat penyebab utama penurunan tanah eksploitasi air tanah secara masif, tekanan besar dari gedung-gedung tinggi, pemadatan lapisan tanah muda, dan aktivitas tektonik. Jakarta mengalami keempatnya sekaligus, dengan dua faktor pertama sebagai kontributor terbesar.

Sekitar 70 persen penurunan tanah di Jakarta terjadi akibat eksploitasi air tanah yang berlebihan. Kombinasi antara amblesnya tanah dan naiknya permukaan laut yang rata-rata 0,5 sentimeter per tahun terus meningkatkan risiko banjir di seluruh kota.

Di tengah gambaran suram ini, para ilmuwan menunjukkan satu contoh sukses yang bisa menjadi cermin bagi Jakarta yaitu Tokyo.

Sekitar 60 tahun lalu, beberapa bagian California tenggelam dengan cepat, namun berhasil dihentikan melalui perubahan manajemen air tanah. Di Tokyo, masalah penurunan tanah yang pernah sangat serius berhasil diatasi sepenuhnya setelah kota itu mengubah seluruh sistem ekstraksi air untuk kebutuhan kota, dan amblesnya tanah pun berhenti.

Japan International Cooperation Agency (JICA) bahkan telah memanfaatkan pengalaman Tokyo ini untuk mendukung program penanggulangan penurunan tanah di Jakarta, termasuk program pelatihan bagi aparatur Indonesia dan pemasangan sumur pemantau di wilayah Jakarta Utara.

Di kota-kota seperti San Jose, Tokyo, dan Taipei, penurunan tanah kini tidak lagi dianggap sebagai ancaman serius setelah penerapan teknik mitigasi berhasil, termasuk regulasi ketat atas volume pengambilan air tanah dan program pengisian kembali akuifer secara buatan.

Jika tidak ada perubahan signifikan, proyeksinya sangat mengkhawatirkan. Analisis ilmiah memprediksi bahwa pada tahun 2030, penurunan permukaan tanah Jakarta bisa mencapai 2,28 meter. Akibatnya, kawasan industri di Kecamatan Cilincing berpotensi tergenang hingga ratusan hektare.

Para ilmuwan menekankan bahwa penurunan tanah bisa terjadi jauh lebih cepat dibandingkan kenaikan permukaan laut, sehingga sangat memperparah ancaman banjir pesisir. Teknologi pengukuran satelit resolusi tinggi kini menjadi kunci karena laju subsidence bisa bervariasi secara dramatis bahkan dalam jarak yang sangat dekat.

Ancaman ini bukan fiksi ilmiah. Ia sedang berlangsung diam-diam, sentimeter demi sentimeter, di bawah kaki jutaan warga Jakarta setiap harinya.

#JakartaTenggelam #PenurunanTanah #LandSubsidence #JakartaSinking #KrisisAirTanah #BencanaJakarta #PesisirJawa #PerubahanIklim #BanjirJakarta #KotaPesisir #TokyoVsJakarta #DaruratLingkungan #InfrastrukturIndonesia #BeritaLingkungan