Teheran – Kawasan Teluk Persia kembali diguncang. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) melancarkan serangan militer terhadap pangkalan udara Amerika Serikat di kawasan tersebut, membalas rentetan operasi AS yang dianggap Teheran sebagai agresi pertama. Sementara para negosiator di Doha diklaim telah mencapai garis kesepakatan, bom-bom di lapangan terus berjatuhan dan gencatan senjata yang sudah rapuh kini berada di ambang kehancuran total.
Pertikaian terbaru ini bermula di jalur perairan paling strategis di dunia.
Percikan konflik terbaru muncul ketika IRGC melaporkan empat kapal mencoba melewati Selat Hormuz tanpa berkoordinasi terlebih dahulu dengan pasukan keamanan Iran yang bertanggung jawab atas jalur tersebut. Setelah peringatan lisan diabaikan, kapal-kapal itu terpaksa berbalik arah menyusul tembakan peringatan yang dilepaskan ke arah mereka.
Kantor Berita Tasnim yang berafiliasi dengan IRGC secara lebih spesifik menyebutkan bahwa Angkatan Laut IRGC melepaskan tembakan ke arah sebuah tanker minyak AS yang berupaya melintas Selat Hormuz dalam kondisi radar dimatikan.
AS tidak tinggal diam. Pasukan Amerika menembak jatuh empat drone serang Iran yang mengancam jalur Selat Hormuz, kemudian menghancurkan stasiun kendali darat IRGC di Bandar Abbas yang sedang bersiap meluncurkan drone kelima. Lebih jauh, pihak AS juga berhasil mencegah peluncuran drone keenam dari lokasi yang sama.
Seorang pejabat AS yang berbicara dengan syarat anonimitas menegaskan bahwa seluruh tindakan tersebut bersifat “terukur, murni defensif, dan dimaksudkan untuk mempertahankan gencatan senjata.”
Teheran memandang operasi AS itu sebagai provokasi yang harus dibalas. Tanpa menunggu lama, IRGC mengeksekusi serangan balasan.
IRGC menyatakan secara resmi bahwa serangan balasan diluncurkan tepat pukul 04.50 pagi waktu setempat (0120 GMT), menargetkan pangkalan udara AS yang menjadi sumber serangan terhadap stasiun kendali di dekat Bandar Abbas. Dalam pernyataannya, IRGC menegaskan: “Respons ini adalah peringatan serius agar musuh tahu bahwa agresi tidak akan dibiarkan tanpa jawaban, dan jika diulangi, respons kami akan lebih tegas.”
Meski IRGC tidak menyebutkan nama pangkalan yang diserang, Kuwait yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS terbesar di kawasan mengonfirmasi bahwa sistem pertahanan udaranya sedang menghadapi serangan rudal dan drone musuh. Kementerian Luar Negeri Kuwait mengecam keras serangan itu sebagai eskalasi serius dan pelanggaran nyata atas kedaulatan serta keamanan nasional mereka.
CENTCOM menyebut serangan Iran ke Kuwait sebagai “pelanggaran gencatan senjata yang keterlaluan.”
Di balik ketegangan yang memuncak, kabar dari lapangan memberikan satu titik kelegaan.
Seluruh rudal dan drone yang ditembakkan Iran ke arah Kuwait berhasil dicegat dan dinetralkan oleh sistem pertahanan udara negara tersebut. Tidak ada laporan korban jiwa atau kerusakan berarti dari serangan itu.
Meski demikian, pejabat AS menegaskan bahwa gencatan senjata secara teknis masih dianggap berlaku. Mereka menekankan bahwa operasi yang dijalankan dirancang untuk mencegah eskalasi lebih jauh, bukan memicunya.
Serangan terhadap Kuwait bukan peristiwa yang terjadi dalam ruang kosong. Negara Teluk tersebut telah berulang kali menjadi korban dari konflik yang bukan konfliknya.
Sejak awal meletusnya perang pada 1 Maret 2026, Iran pernah menghantam pusat operasi taktis milik AS di Port Shuaiba, sebuah pelabuhan industri di Kuwait, dengan drone serang sepihak. Serangan itu menewaskan enam orang dan melukai lebih dari 30 personel AS.
Konflik yang meledak setelah operasi gabungan AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026 itu memaksa Kuwait menutup sepenuhnya ruang udaranya, menjadi bagian dari krisis penerbangan regional yang melumpuhkan bandara-bandara Timur Tengah, kawasan yang pada masa normal menangani 15 persen lalu lintas udara global.
Di tengah dentuman yang terus bergulir, ada kabar yang mengejutkan dari meja perundingan.
Sumber-sumber yang terlibat langsung dalam negosiasi mengungkapkan bahwa para perunding AS dan Iran diyakini telah mencapai kerangka kesepakatan, namun para pemimpin kedua negara belum memberikan persetujuan akhir. Kesepakatan itu masih menunggu tanda tangan.
Axios melaporkan bahwa AS dan Iran telah mencapai kesepakatan garis besar untuk memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari, yang kini menunggu persetujuan akhir Presiden Trump.
Trump sendiri, ketika dikonfirmasi soal perkembangan perundingan, menegaskan bahwa Selat Hormuz harus “terbuka untuk semua orang” dan AS akan “mengawasinya” dua syarat itu, menurut Trump, sudah menjadi bagian dari tuntutan dalam negosiasi yang sedang berjalan.
Pertukaran serangan yang terjadi sejak Senin hingga Kamis ini merupakan yang paling serius sejak gencatan senjata pertama kali diumumkan pada 8 April 2026, menjadikannya sekaligus ujian terberat bagi kesepakatan rapuh tersebut. Pihak AS bersikeras bahwa operasinya bersifat defensif, sementara Iran meyakini hal yang sebaliknya dan masing-masing pihak menggunakan logika yang sama untuk membenarkan pukulan berikutnya.
Pertanyaan yang paling relevan saat ini bukan lagi apakah gencatan senjata masih hidup, melainkan berapa lama ia mampu bertahan sebelum satu serangan yang salah perhitungan mengubur satu-satunya jalan menuju perdamaian yang masih tersisa.
#IRGCSerangan
#PerangIranAS
#GencatanSenjata
#KonflikHormuz
#KuwaitDiserang






