USAI TRUMP, KINI PUTIN MENYUSUL KE CHINA TEMUI XI JINPING

Fokus, Internasional36 Dilihat

Jakarta – Presiden Rusia Vladimir Putin dijadwalkan melakukan kunjungan resmi ke Beijing untuk bertemu dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping hanya beberapa hari setelah kunjungan Presiden Amerika Serikat Donald Trump ke Tiongkok berakhir. Kunjungan Putin dipandang sebagai tanda yang jelas bahwa hubungan strategis Moskow dan Beijing semakin erat, terutama dengan meningkatnya ketegangan politik global.

Pemerintah Rusia melalui Kremlin menyatakan Putin akan berada di Tiongkok selama dua hari, 19-20 Mei 2026. Dalam agenda ini, Putin dan Xi Jinping dijadwalkan untuk membahas penguatan “kemitraan komprehensif dan kerja sama strategis” antara kedua negara. Selain itu, mereka juga akan bertukar pikiran mengenai isu-isu global dan lokal yang sedang menjadi topik hangat saat ini.

Kunjungan Putin ini hanya seminggu setelah Trump menyelesaikan kunjungan kenegaraannya ke Beijing Sebelumnya, Trump dan Xi Jinping mengadakan pertemuan tingkat tinggi untuk membahas berbagai isu sensitif seperti perang Iran, Taiwan, perdagangan global, kecerdasan buatan, dan stabilitas hubungan Amerika Serikat-Tiongkok.

Meskipun pertemuan Trump dan Xi berjalan dengan baik, sejumlah pakar berpendapat bahwa pertemuan mereka tidak menghasilkan banyak kemajuan. Beberapa perjanjian perdagangan masih dalam tahap pengerjaan dan memerlukan pembicaraan lebih lanjut, namun hal-hal seperti ketegangan di Taiwan dan Timur Tengah membuat Washington dan Beijing tetap gelisah.

Ketika Putin kembali, dikabarkan bahwa dia akan berupaya lebih keras untuk meningkatkan hubungan ekonomi, energi, perdagangan, dan keamanan dengan Tiongkok. Kremlin menyebutkan bahwa kedua negara akan menandatangani pernyataan bersama untuk meningkatkan hubungan bilateral mereka, yang telah berkembang pesat dalam beberapa waktu terakhir.

Selain bertemu Xi Jinping, Putin dijadwalkan melakukan pembicaraan dengan Perdana Menteri China Li Qiang mengenai kerja sama ekonomi dan investasi. Pembicaraan kemungkinan akan mencakup kesepakatan energi, pertukaran uang menggunakan mata uang lokal, proyek pembangunan, dan kemitraan teknologi antara kedua negara.

Hubungan Rusia dan Tiongkok semakin erat sejak negara-negara Barat memberikan tekanan pada Moskow karena konflik di Ukraina. Tiongkok merupakan pemain besar dalam perdagangan Rusia, terutama dalam hal energi dan komoditas. Beijing juga mendapat dorongan dari hubungannya dengan Rusia untuk memperkuat sikapnya terhadap panasnya geopolitik dari AS dan sekutunya.

Sejumlah pakar global menilai kunjungan Trump dan Putin ke Beijing menyoroti semakin besarnya pengaruh Tiongkok di panggung dunia. Di tengah gejolak Timur Tengah, konflik Ukraina, dan ketegangan ekonomi global, Beijing dipandang sebagai pusat diplomasi internasional, dan saat ini berupaya menjaga hubungan dengan para pemain kunci dunia.

Kunjungan Putin juga bertepatan dengan peringatan 25 tahun Perjanjian Persahabatan Rusia-Tiongkok, yang ditandatangani pada tahun 2001. Perjanjian tersebut meletakkan dasar bagi kerja tim strategis antara kedua negara dalam bidang politik, masalah keuangan, pertahanan, dan menjaga keamanan wilayah tersebut. Kremlin menyebutkan bahwa mereka akan menggunakan energi ini untuk memperkuat hubungan jangka panjang antara Moskow dan Beijing

Meski ketegangan antar negara kian meningkat, ikatan kuat antara Rusia dan Tiongkok tetap mengkhawatirkan negara-negara Barat. AS dan Eropa telah menyatakan hubungan erat antara kedua negara sebelumnya, dengan mengatakan bahwa hal ini dapat mengguncang politik global, terutama terkait dengan konflik Ukraina, kesepakatan energi, dan pengaruh mereka di Asia-Pasifik.