Kepala SKK Migas Djoko Siswanto disebut-sebut menjadi tokoh sentral di balik akselerasi besar Proyek Abadi Masela yang selama puluhan tahun dikenal sebagai salah satu proyek migas paling lambat di Indonesia. Langkah cerdas Djoko, kerja sama tim di berbagai tempat, dan dorongan berani untuk melibatkan investor dan kontraktor telah menjadikannya sebagai pemain penting dalam menjadikan proyek yang tidak pernah berakhir ini menjadi pemain kunci bagi masa depan energi negara.
Djoko Siswanto menekankan bahwa Blok Masela bukanlah proyek gas biasa. Ini adalah bagian penting dari rencana besar Indonesia untuk meningkatkan ketahanan energi, memacu pertumbuhan industri, dan menjaga pasokan energi tetap berkelanjutan seiring dengan peralihan ke energi yang lebih ramah lingkungan.
Proyek Abadi Masela sendiri terletak di Wilayah Kerja Masela, Laut Arafura, Maluku, dan memiliki cadangan gas raksasa yang diperkirakan mencapai lebih dari 18 triliun kaki kubik (TCF). Cadangan Masela menjadikannya salah satu proyek LNG terbesar yang bisa Anda temukan di Asia Tenggara.
Selama bertahun-tahun, proyek ini menghadapi banyak tantangan, mulai dari perubahan ide pembangunan, perdebatan mengenai apakah akan menggunakan kilang terapung atau berbasis darat, masalah perizinan, hingga penarikan Shell dari grup. Banyak orang yang merasa kecewa mengenai apakah proyek Masela benar-benar akan membuahkan hasil.
Djoko Siswanto sebagai Pimpinan SKK Migas, pemerintah telah meningkatkan kinerjanya. Dia benar-benar mendorong untuk mempercepat semua langkah penting, mulai dari menyelesaikan Front-End Engineering Design, menyelesaikan AMDAL, mengurus perizinan kawasan hutan, dan terakhir, membicarakan kesepakatan penjualan gas dengan pembeli lokal dan asing.
Momen penting tersebut terjadi ketika Perjanjian Pengembangan LNG (LDA) mendapat lampu hijau pada akhir bulan April 2026. Kesepakatan ini meletakkan dasar bagi penandatanganan Perjanjian Jual Beli Gas dan membuat keputusan terakhir mengenai investasi tersebut. Djoko mengatakan bahwa kesepakatan ini adalah yang terjauh yang pernah kita capai dengan proyek Masela sejak proyek ini muncul pada awal tahun 2000an.
Djoko ada di sana, mengawasi pembicaraan dengan Inpex Masela Ltd, Pertamina, dan Petronas. Ia menilai proyek sebesar Masela tidak bisa bergantung pada kontraktor saja. Hal ini memerlukan koordinasi besar antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, investor, regulator, dan badan pendanaan internasional
Ide Djoko Siswanto menempatkan Masela sebagai simbol kebangkitan energi di Indonesia Timur. Tujuan pemerintah adalah untuk meningkatkan ekspor LNG dan juga memicu reaksi berantai manfaat ekonomi bagi negara, termasuk membangun pelabuhan, menyiapkan zona petrokimia, menciptakan lapangan kerja, dan mendorong pertumbuhan ekonomi di Maluku dan wilayah timur Indonesia.
Selain itu, proyek ini juga akan berperan penting dalam peralihan negara menuju energi yang lebih ramah lingkungan. Pembaruan proyek terbaru pemerintah kini dilengkapi dengan teknologi Penangkap dan Penyimpanan Karbon (CCS) untuk mengurangi emisi karbon dari produksi gas alam. Langkah ini adalah kunci untuk menjaga Indonesia tetap berada di posisi teratas dalam perlombaan global untuk energi yang lebih ramah lingkungan.
Djoko Siswanto juga menekankan perlunya mempercepat penyelesaian proyek. Ia terus menekankan kepada semua orang bahwa Indonesia tidak boleh memperlambat pasar gas global, terutama dengan meningkatnya permintaan LNG di seluruh dunia karena ketegangan politik dan negara-negara yang beralih sumber energi.
Pemerintah mengeluarkan berbagai rencana keuangan untuk menjaga agar proyek tetap berjalan. Langkah keren yang muncul adalah Danantara, badan investasi nasional, yang turun tangan untuk mendukung pendanaan proyek Masela, yang bernilai puluhan miliar dolar AS.
Sejumlah pakar energi berpendapat bahwa cara Djoko Siswanto memimpin di SKK Migas sedikit berbeda dari sebelumnya. Ia dikenal lebih tegas dalam menangani isu-isu non-teknologi, memotong birokrasi, dan secara proaktif menjalin hubungan dengan investor dan kontraktor internasional.
Sektor minyak dan gas memandang kemajuan pesat Masela sebagai pertanda baik bahwa Indonesia benar-benar mengambil langkah untuk menjadikan dunia investasi energi lebih baik. Ditambah lagi, proyek ini diperkirakan akan menghasilkan LNG sebesar 9,5 juta ton per tahun, gas domestik sekitar 150 MMSCFD, dan kondensat mencapai 35 ribu barel setiap hari.
Masela kini menjadi pemain kunci dalam sektor energi di Indonesia, terutama ketika dunia mulai beralih ke energi dan menurunnya jumlah minyak dan gas. Djoko Siswanto berpendapat bahwa keberhasilan proyek ini bukan hanya tentang bisnis minyak dan gas. Namun juga tentang kemandirian energi, arus kas negara, dan bagaimana Indonesia berada di kancah energi global.






