Maluku – Pembicaraan mengenai kembalinya hilirisasi industri di Maluku setelah beberapa pembicaraan alot mengenai pengelolaan proyek Blok Masela, yang tampaknya tidak memberikan dampak positif bagi kesejahteraan masyarakat setempat. Sekelompok orang yang cerdas, aktivis yang bersemangat, dan pengamat ekonomi yang jeli berpendapat bahwa pertumbuhan industri sumber daya alam di Maluku lebih sekedar menghasilkan uang dan mengeksploitasi sumber daya, namun belum benar-benar membuat kehidupan masyarakat yang tinggal di wilayah tersebut menjadi lebih baik.
Permasalahan ini semakin parah setelah banyak pembicaraan dan pertemuan online yang membicarakan bagaimana penanganan Blok Masela, yang merupakan proyek gas alam raksasa di wilayah maluku, Indonesia. Banyak pihak menilai mega proyek bernilai triliunan rupiah ini merupakan dorongan besar bagi pertumbuhan industri dan hilirisasi, sehingga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat setempat.
Dalam artikel terbitan Bergelora.com, muncul istilah “Paradoks Masela” yang menggambarkan ironi kondisi Maluku sebagai daerah yang kaya akan sumber daya alam namun masih menghadapi tingkat kemiskinan dan ketimpangan pembangunan yang cukup tinggi. Keluhan utamanya adalah mengenai bagaimana “kesejahteraan hilir” masih belum jelas, terutama bagaimana energi dan industri di Maluku benar-benar dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat setempat.
Banyak orang berpikir kita terlalu terpaku pada hal-hal yang berhubungan dengan hilirisasi, terlalu berfokus pada pembangunan pabrik, menghabiskan banyak uang, dan mengubah barang mentah menjadi sesuatu yang lebih bernilai. Namun, ketika menyangkut distribusi barang-barang ekonomi, memperkuat komunitas lokal, menghasilkan lapangan kerja yang solid, dan membangun barang-barang sosial, mereka biasanya tidak berada di posisi teratas dalam daftar.
Direktur Yayasan Solidaritas Kepulauan Engelina Pattiasina dalam webinar nasional mengatakan, Maluku mempunyai potensi besar untuk menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru berbasis gas bumi dan industri petrokimia. Namun dia menunjukkan bahwa di banyak tempat di mana mereka membuat bahan-bahan alami, hanya dengan memiliki sumber daya tersebut tidak berarti penduduk setempat secara otomatis menjadi lebih kaya.
Menurutnya, upaya masyarakat Maluku untuk beralih dari kilang terapung ke kilang berbasis darat bertujuan untuk meningkatkan perekonomian lokal dan menciptakan lebih banyak lapangan kerja. Masyarakat akan mendapatkan lebih banyak manfaat berupa prospek lapangan kerja, berkembangnya usaha kecil, perluasan kawasan industri, dan peningkatan perekonomian lokal.
Namun sejauh ini, beberapa kelompok mengakui bahwa mereka masih ragu mengenai seberapa banyak gas dari Blok Masela yang benar-benar siap digunakan untuk industri dan kegiatan hilir di Maluku. Kekhawatiran muncul ketika sebagian besar produksi dialihdayakan atau hanya memenuhi kantong investor besar tanpa memperkuat perekonomian lokal.
Ekonom Anthony Budiawan menunjukkan distribusi keuntungan sumber daya alam yang tidak merata antara daerah yang memproduksinya dengan pemerintah pusat dan investor. Ia menemukan bahwa banyak tempat di Indonesia yang memiliki banyak sumber daya namun belum kaya, padahal mereka punya banyak kekayaan alam.
Anthony mengatakan bahwa wilayah dimana kita mendapatkan sumber daya alam biasanya hanya mendapat sebagian kecil dari pendapatan yang dihasilkan dari pemanfaatan sumber daya tersebut. Sementara itu, masyarakat lokal menghadapi banyak risiko seperti kerusakan lingkungan, perubahan dinamika sosial, dan tekanan ekonomi karena industri tidak tersebar secara merata.
Haposan Napitupulu, pakar migas, menilai Blok Masela benar-benar bisa mendongkrak perekonomian Maluku dengan rencana jangka panjang yang solid. Kuncinya adalah menjaga 10 persen Participating Interest (PI) yang merupakan bagian kawasan itu tetap berada di tangan pemerintah daerah dan masyarakat di Maluku, agar tidak jatuh ke tangan swasta.
Ia juga menekankan perlunya rencana industrialisasi yang jelas, dimulai dengan mengubah gas menjadi pupuk, plastik, dan bahan kimia, dan kemudian beralih ke kebutuhan manufaktur lainnya. Menurutnya, jika Maluku tidak serius melakukan hilirisasi, maka wilayah tersebut hanya akan menjadi tempat penghasil bahan mentah tanpa benar-benar meningkatkan perekonomiannya.
Di sisi lain, akademisi asal Maluku, Hobarth Williams Soselisa, menyatakan bahwa investasi tidak boleh hanya menjadikan Maluku sebagai sapi perah dari eksploitasi ekonomi. Ia menekankan bahwa pertumbuhan industri harus benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat, memprioritaskan praktik ramah lingkungan, dan melibatkan masyarakat lokal dalam proses ekonomi.
Soselisa menyatakan bahwa investasi tanpa manfaat sosial yang nyata dapat menyebabkan lebih banyak kesenjangan dan merugikan masyarakat adat dan komunitas lokal. Oleh karena itu, pemerintah daerah dipandang harus lebih selektif dalam memilih di mana mereka akan menaruh uangnya dan memastikan semua orang mendapat manfaat darinya.
Pemerintah terus mendorong agenda hilirisasi nasional sebagai strategi utama untuk meningkatkan perekonomian dan mengurangi ekspor bahan mentah Presiden Prabowo Subianto telah berkali-kali menekankan bahwa memindahkan sumber daya alam ke hilir adalah kunci untuk meningkatkan perekonomian kita dan memberikan nilai tambah di dalam negeri.
Namun di sini, di Maluku dan Blok Masela, masyarakat mulai mendorong lebih dari sekedar pertumbuhan industri. Mereka menginginkan manfaat nyata bagi masyarakat, seperti pendidikan yang lebih baik, layanan kesehatan, lapangan kerja, dan peningkatan perekonomian lokal, yang semuanya mengarah pada kualitas hidup yang lebih baik.
#Maluku #BlokMasela #Hilirisasi #ParadoksMasela






