Jakarta – Presiden Indonesia Prabowo Subianto mampir ke Nganjuk di Jawa Timur untuk meresmikan Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah, sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan ikon buruh nasional ini. Kunjungan ini mendapat banyak perhatian karena Prabowo tidak hanya berpegang pada hal-hal resmi; Ia pun menyempatkan diri meninjau bekas injakan Marsinah di Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro.
Kedatangan Prabowo mendapat sambutan meriah dari ribuan warga lokal dan pekerja yang sudah berkumpul di sana sejak subuh. Desa biasanya terasa dingin sampai pejabat negara, aparat keamanan, dan penonton yang penasaran datang dengan konvoi mereka, semuanya ada di sana untuk menghadiri pembukaan museum besar.
Dalam agenda tersebut, Prabowo didampingi Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Presiden Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (KSPSI) Andi Gani Nena Wea, serta sejumlah pejabat kabinet dan tokoh buruh internasional. Sebelum membuka museum, Prabowo melihat-lihat berbagai ruangan yang memamerkan perjuangan Marsinah, memperjuangkan hak-hak pekerja Indonesia.
Museum ini memamerkan berbagai peninggalan asli milik Marsinah, mulai dari pakaian terakhir yang dikenakannya sebelum meninggal, tas pribadinya, dokumen perjuangan buruh, hingga kliping koran yang merekam peristiwa penculikan dan pembunuhan aktivis buruh tersebut pada tahun 1993. Selain itu, terdapat pula diorama yang menggambarkan kondisi buruh Indonesia pada era 1990-an serta perjuangan Marsinah dalam memperjuangkan peningkatan upah dan hak-hak buruh. .
Prabowo terlihat menyelinap ke dalam rumah tua Marsinah, yang berada tepat di samping museum. Tempat tinggal sederhana ini tetap mempertahankan tampilan klasiknya dan telah menjadi bagian besar dari kisah hidup Marsinah dari awal hingga menjadi terkenal sebagai aktivis buruh nasional. Momen ini berubah menjadi penghormatan kepada Marsinah, yang kini dihormati sebagai Pahlawan Nasional Indonesia
Dalam paparannya, Prabowo menyebut Museum Marsinah bukan sembarang bangunan tua; itu adalah simbol keberanian perempuan dan perjuangan para pekerja di Indonesia Ia berpendapat bahwa museum ini adalah pengingat utama akan sejarah perjuangan keras hak-hak buruh di Indonesia
Peresmian museum ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh Presiden Prabowo. Dalam ceramahnya, Beliau secara resmi meresmikan Museum Ibu Marsinah dan rumah singgah agar semua orang dapat melihatnya. Anda dapat mengunjungi museum ini secara gratis, dan museum ini akan dikelola oleh keluarga Marsinah dan beberapa kelompok buruh.
Presiden KSPSI Andi Gani Nena Wea mengungkapkan, pembangunan museum dilakukan secara mandiri tanpa menggunakan dana APBN. Dikatakannya, museum ini dibangun atas bantuan para pekerja Indonesia, sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan Marsinah. Ia juga menyebutkan bahwa ide museum ini datang dari Singapore National Gallery yang bertujuan untuk memberikan pengunjung suasana sejarah yang lebih trendi dan mendidik.
Selain museum, di kawasan tersebut juga telah dibangun rumah singgah yang dapat digunakan oleh para peziarah, aktivis buruh, dan masyarakat luar daerah yang ingin mengetahui sejarah perjuangan Marsinah. Rumah singgah di Nganjuk didirikan untuk menyambut pengunjung dengan program sosial dan pendidikan
Marsinah sendiri dikenal sebagai perempuan yang memperjuangkan hak-hak pekerja di Indonesia. Ia menjadi simbol perjuangan setelah kematiannya yang tragis pada Mei 1993, saat memperjuangkan upah yang lebih tinggi di Sidoarjo, Jawa Timur. Kasus kematiannya menyita perhatian dunia dan tetap menjadi tanda tragis pelanggaran HAM terhadap pejuang hak-hak pekerja di Indonesia. Pada tanggal 10 November 2025, pemerintah secara resmi memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada Marsinah.









