MOJTABA KHAMENEI DISEBUT INSTRUKSIKAN IRAN TERUS BERTEMPUR, KETEGANGAN TIMUR TENGAH KIAN MEMANAS

Teheran / Abu Dhabi — Konflik di Timur Tengah makin memanas. Laporan terbaru bilang Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, meminta militer Iran tetap melanjutkan operasi perang. Padahal, upaya gencatan senjata dengan Amerika Serikat dan Israel sedang sangat rapuh.

Di tempat lain, dua drone masuk ke wilayah udara Uni Emirat Arab dan langsung dicegat sistem pertahanan udara. Kejadian ini benar-benar menunjukkan kalau konflik mulai melebar ke kawasan Teluk. Ini bisa mengganggu stabilitas energi dunia.

Sejumlah media internasional melaporkan, militer Iran dapat perintah terus menekan lawan-lawannya di kawasan, apalagi sejak aktivitas militer Amerika meningkat di sekitar Selat Hormuz.

Cerita beberapa pekan terakhir: konflik antara Iran, Israel, dan Amerika meluas jadi konfrontasi regional yang juga erat kaitannya dengan jalur pelayaran minyak terpenting di dunia.

Iran menganggap keberadaan armada Amerika di Teluk sebagai ancaman langsung pada kedaulatannya. Teheran enggak mau terlihat lemah di tengah negosiasi yang belum selesai.

Uni Emirat Arab bilang sistem pertahanan udaranya sukses menghalau dua drone yang diduga berasal dari Iran. Memang, tidak ada korban. Tapi, kejadian ini bikin negara-negara Teluk tambah khawatir konflik bisa menyebar ke mana-mana.

Ada juga laporan serangan drone sempat menganggu jalur perdagangan laut, terutama dekat Qatar dan Teluk Persia.

Ketegangan semakin tinggi. Soalnya, kawasan ini pusat distribusi minyak dan gas dunia. Gangguan sedikit saja di sini bisa langsung bikin harga energi naik.

Selat Hormuz lagi-lagi jadi sorotan, jalur strategis yang jadi titik penting ekspor minyak dunia. Iran sudah beberapa kali mengancam akan memperketat kontrol jalur itu sebagai tanggapan atas tekanan militer dan ekonomi Amerika.

Amerika kini menggelar operasi maritim demi menjaga lalu lintas kapal internasional. Tapi, langkah ini malah memicu bentrokan baru antara kapal perang AS dan militer Iran.

Banyak analis memperingatkan, kalau konflik di Hormuz membesar, bisa jadi krisis energi terbesar beberapa dekade terakhir.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sempat bilang masih ada peluang untuk kesepakatan damai dengan Iran. Tapi, ia juga tegas: Washington siap melakukan serangan jika Teheran dinilai melanggar kesepakatan atau mengancam kepentingan Amerika di kawasan.

Pernyataan Trump bikin situasi diplomatik makin sensitif. Kedua negara masih saling tuding soal pelanggaran gencatan senjata yang rapuh.

Serangan dan aktivitas drone di kawasan bikin banyak negara Teluk meningkatkan kesiagaan militer. Bukan cuma Uni Emirat Arab, Kuwait juga melaporkan intersepsi drone di wilayah udaranya beberapa hari terakhir.

Negara-negara Arab khawatir konflik Iran-Israel-Amerika bakal berubah jadi perang regional terbuka yang bisa menghancurkan stabilitas ekonomi Timur Tengah.

Suasana Teluk memanas, langsung berdampak ke pasar global. Harga minyak dunia naik lagi, dan pelaku pasar mulai waspada kemungkinan jalur Selat Hormuz ditutup.

Analis memperingatkan, jika krisis ini terus membesar, dampaknya bakal terasa di seluruh dunia, termasuk Asia dan Eropa yang sangat bergantung pada pasokan energi dari kawasan.

Perintah perang dari Mojtaba Khamenei dan serangan drone ke Uni Emirat Arab menunjukkan ketegangan di Timur Tengah masih jauh dari selesai.

Dengan diplomasi yang rapuh dan ancaman krisis energi global, dunia sekarang benar-benar menunggu: apakah semua ujungnya akan selesai lewat perundingan, atau malah jadi perang kawasan yang lebih besar?