PEMERINTAH GANDENG “HOMELESS MEDIA”, PLATFORM DIGITAL BESAR KINI MASUK MITRA KOMUNIKASI RESMI

Fokus, Opini, Politik753 Dilihat

Jakarta — Pemerintah melalui Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia atau Bakom RI mulai merangkul sejumlah media digital populer yang selama ini dikenal luas di media sosial sebagai bagian dari mitra strategis komunikasi pemerintah.
Langkah tersebut diumumkan dalam peluncuran wadah bernama New Media Forum di Jakarta pada Selasa (6/5/2026). Forum ini menjadi ruang kolaborasi antara pemerintah dan berbagai kanal media digital yang memiliki pengaruh besar di kalangan pengguna internet, khususnya generasi muda.

Kepala Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia, Muhammad Qodari, menjelaskan bahwa istilah “homeless media” selama ini merujuk pada media digital berbasis media sosial yang tidak memiliki bentuk konvensional seperti televisi, radio, atau surat kabar.
Namun kini, menurut Qodari, perkembangan teknologi membuat media-media tersebut memiliki pengaruh sangat besar dalam membentuk opini publik dan menyebarkan informasi.
Karena itu, pemerintah memilih membangun hubungan yang lebih dekat dengan para pelaku media digital agar komunikasi publik dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas dan relevan dengan perkembangan zaman.

Sejumlah akun dan platform digital besar yang populer di media sosial disebut ikut bergabung dalam forum tersebut. Di antaranya:

  1. Folkative
  2. Dagelan
  3. Narasi
  4. Indozone
  5. Bapak-Bapak ID
  6. USS Feed
  7. Kok Bisa
  8. Menjadi Manusia

Selain itu, terdapat pula puluhan platform digital lain yang bergerak di bidang edukasi, hiburan, gaya hidup, ekonomi, hingga isu sosial.

Bakom menilai pola konsumsi informasi masyarakat telah berubah drastis. Generasi muda kini lebih banyak menerima berita dan informasi melalui media sosial dibanding media konvensional.
Karena itu, pemerintah ingin memastikan pesan terkait kebijakan, program kerja, dan informasi publik dapat hadir di ruang digital yang memang aktif digunakan masyarakat sehari-hari.
Menurut Qodari, kolaborasi ini bukan sekadar soal penyebaran informasi pemerintah, tetapi juga membangun komunikasi dua arah dengan publik digital.

Meski disebut sebagai langkah adaptasi terhadap era digital, kebijakan tersebut memunculkan berbagai tanggapan dari masyarakat.
Sebagian pihak menilai langkah pemerintah sudah tepat karena media sosial kini menjadi pusat arus informasi nasional. Namun ada pula yang khawatir kedekatan pemerintah dengan media digital dapat memengaruhi independensi konten dan kritik publik.
Isu tersebut ramai diperbincangkan di media sosial setelah istilah “homeless media” menjadi viral dan memicu perdebatan mengenai posisi media digital dalam ekosistem jurnalistik Indonesia.

Pengamat komunikasi menilai langkah ini menunjukkan perubahan besar dalam lanskap media nasional. Jika dulu media arus utama mendominasi penyebaran informasi, kini akun media sosial dan platform digital memiliki kekuatan yang tidak kalah besar dalam membentuk opini masyarakat.
Fenomena ini membuat pemerintah mulai menyesuaikan strategi komunikasi agar tetap relevan dengan perkembangan perilaku publik di era digital.

Kolaborasi antara Bakom RI dan berbagai media digital populer menandai babak baru hubungan pemerintah dengan ekosistem media sosial di Indonesia.
Di tengah perubahan cara masyarakat mengonsumsi informasi, pemerintah tampaknya mulai menyadari bahwa kekuatan komunikasi publik kini tidak lagi hanya berada di media konvensional, tetapi juga di tangan platform digital yang setiap hari membentuk percakapan warganet Indonesia.