WASHINGTON — Klaim media Iran soal tewasnya tujuh personel Angkatan Laut Amerika Serikat dalam bentrokan berdarah di atas kapal induk USS Abraham Lincoln memicu polemik internasional, sebelum akhirnya dibantah tegas oleh militer Amerika Serikat yang menyebutnya sebagai informasi palsu.
Kabar tersebut pertama kali disebarkan kantor berita semiresmi Iran, Tasnim News Agency, pada Selasa, 11 Agustus 2026, dengan mengutip sumber militer anonim. Menurut laporan itu, insiden bermula ketika seorang penasihat Panglima Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) Brad Cooper naik ke kapal induk tersebut untuk merespons keluhan awak kapal terkait masa penugasan yang berkepanjangan, menyusul protes keluarga para prajurit. Penasihat itu disebut disambut cemoohan dan lemparan botol air, sebelum situasi berubah menjadi perkelahian melibatkan pisau dan senjata tajam lain, yang dilaporkan menewaskan tujuh orang dan melukai beberapa lainnya. Laporan itu turut disebarluaskan kantor berita Iran lainnya, Mehr News Agency.
Namun militer Amerika Serikat langsung membantah keras klaim tersebut. Komando Pusat AS menegaskan lewat pernyataan resmi bahwa laporan itu sepenuhnya tidak benar, sembari menyoroti bahwa Iran kerap menyebarkan disinformasi. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth turut menyebut laporan soal kondisi buruk di kapal tersebut sebagai gambaran yang sepenuhnya menyesatkan. CENTCOM menegaskan tidak ada satu pun personel yang meninggal dunia di atas kapal induk itu, dan hanya mengonfirmasi insiden seorang pelaut yang sempat terjatuh ke laut pada 3 Agustus namun berhasil diselamatkan dengan selamat. Sebagai pembanding, CENTCOM turut mengungkap bahwa tingkat perpanjangan kontrak dinas awak Lincoln mencapai 84,4 persen, salah satu yang tertinggi di antara seluruh kapal induk Angkatan Laut AS.
Sejumlah lembaga pemeriksa fakta internasional turut menelusuri klaim ini. Hasil penelusuran menunjukkan tidak ditemukan bukti kredibel yang mendukung terjadinya insiden tersebut, mengingat laporan awal dari media Iran minim detail konkret seperti tanggal pasti kejadian, sehingga sulit diverifikasi secara independen. Sejumlah pihak menilai kecil kemungkinan militer dapat menutupi kematian tujuh prajurit akibat perkelahian pisau, mengingat intensitas komunikasi antara awak kapal dan keluarga mereka serta pengawasan media yang tinggi terhadap isu ini.
Terlepas dari bantahan resmi tersebut, kekhawatiran nyata tetap ada terkait kondisi psikologis awak kapal akibat masa penugasan yang jauh melampaui perkiraan awal. USS Abraham Lincoln, yang berangkat dari San Diego sejak 21 November 2025, kini telah menjalani lebih dari 260 hari di lautan usai dialihkan ke kawasan Timur Tengah menjelang serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran yang dimulai 28 Februari lalu. Penugasan yang semula diperkirakan rampung Mei justru terus berlanjut tanpa kepastian jadwal pemulangan, meski Angkatan Laut AS dilaporkan tengah mempersiapkan kapal induk USS Theodore Roosevelt sebagai pengganti.
Keluarga prajurit dan sejumlah anggota parlemen AS sebelumnya sempat menyuarakan kekhawatiran soal kelelahan dan kesehatan mental sekitar 5.000 pelaut dan Marinir yang bertugas di kapal tersebut, termasuk saat sekitar 200 kerabat prajurit mengonfrontasi Pelaksana Tugas Menteri Angkatan Laut AS Hung Cao dalam pertemuan di San Diego. Meski isu kondisi psikologis awak kapal tetap menjadi sorotan sah, otoritas AS menegaskan klaim spesifik soal tujuh kematian akibat bentrokan berdarah tidak memiliki dasar fakta yang dapat dipertanggungjawabkan.
#USSAbrahamLincoln #CENTCOM #AmerikaSerikat #Iran #Disinformasi #KapalInduk #KonflikTimurTengah #FactCheck #BeritaInternasional #AngkatanLautAS






