Catatan Oleh : HM Iqbal Miad, MS, Pemimpin Umum
Konflik yang meletus pada 28 Februari 2026 telah mengubah peta geopolitik Timur Tengah secara fundamental. Iran yang selama puluhan tahun diembargo dan ditekan kini membuktikan bahwa tekanan tidak selalu menghasilkan kepatuhan kadang ia melahirkan ketangguhan.
Serangan Balasan Iran: Lebih dari Sekadar Gertakan
Sejak perang dimulai serangan Iran telah merusak atau menghancurkan sedikitnya 228 bangunan dan peralatan militer AS di 15 lokasi yang tersebar di Kuwait, Bahrain, Qatar, Yordania, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.
Serangan Iran ke Kuwait menggunakan kombinasi rudal jelajah, rudal balistik, dan drone tak berawak sebagai balasan langsung atas operasi militer AS yang menargetkan wilayah selatan Iran.
Fasilitas diplomatik dan militer sekutu AS di kawasan Teluk Bahrain, Oman dan Kuwait yang selama ini dianggap aman kini merasakan langsung dampak dari perang yang semula hanya dianggap konflik bilateral AS-Iran.
Selat Hormuz: Senjata Ekonomi Paling Ampuh Iran
Konflik AS-Iran telah menimbulkan kekhawatiran ekonomi serius terutama lonjakan harga bahan bakar yang dipicu oleh gangguan pada Selat Hormuz.
Penutupan selat yang dilalui sekitar 20 persen pasokan energi dunia itu langsung memukul harga minyak global dan memperburuk tekanan ekonomi di negara-negara berkembang termasuk Indonesia — yang langsung merasakan dampaknya melalui pelemahan rupiah dan kenaikan biaya impor energi.
Gencatan Senjata yang Rapuh
Sejak gencatan senjata pertama kali diumumkan pada 8 April 2026 melalui mediasi Pakistan berbagai insiden militer terus terjadi dari serangan AS ke Bandar Abbas hingga tembakan rudal IRGC ke Kuwait.
Negosiasi di Doha masih berlanjut namun terhambat perbedaan satu kalimat antara delegasi AS dan Iran. Trump menegaskan tidak ada keringanan sanksi sebelum Iran menghancurkan uranium yang sudah diperkaya sementara Iran menuntut pencairan aset senilai 12 miliar dolar AS terlebih dahulu.
Implikasi Global: Tidak Ada yang Benar-benar Menang
Yang paling terdampak justru bukan kedua pihak yang berperang melainkan negara-negara kecil di kawasan yang tidak pernah memilih untuk menjadi medan pertempuran. Kuwait kehilangan satu nyawa warga negara India dan 60 orang luka-luka. Bahrain kehilangan fasilitas militer. Oman mendapat ancaman langsung dari Trump.
Sementara dunia menunggu kesepakatan damai yang entah kapan akan ditandatangani satu pertanyaan tetap relevan: siapa yang sesungguhnya akan menanggung biaya terbesar dari perang yang tidak diminta oleh mayoritas rakyat di kedua sisi?






