Washington DC – Harapan damai yang sempat bersinar dari meja perundingan Qatar kini kembali meredup. Setelah berbulan-bulan pertempuran, ribuan korban jiwa, dan guncangan ekonomi global yang belum reda, upaya mengakhiri perang AS-Iran masih terbentur satu hambatan terbesar ego dua kekuatan yang sama-sama tidak mau mundur selangkah pun.
Pada Jumat (29/5/2026) malam, sebuah pertemuan berlangsung selama dua jam penuh di Gedung Putih. Seusai pertemuan itu, seorang pejabat senior administrasi Trump menyampaikan pernyataan yang seolah menutup pintu kompromi: “Presiden Trump hanya akan membuat kesepakatan yang baik untuk Amerika dan sesuai dengan prinsip tanpa kompromi yang ditetapkannya.”
Gedung Putih mengisyaratkan Trump hampir mengambil keputusan mengenai kemungkinan kesepakatan tersebut, meskipun Teheran bersikeras bahwa masih belum ada ‘kesepakatan akhir’ mengenai penyelesaian konflik.
Melalui unggahan di media sosialnya yang langsung menjadi sorotan global, Trump merinci secara terbuka apa yang ia inginkan dari Iran sebuah langkah yang oleh sebagian analis dinilai lebih sebagai deklarasi publik ketimbang komunikasi diplomatik.
Trump menuntut Iran tidak mengembangkan senjata nuklir, membuka kembali Selat Hormuz tanpa memungut biaya tol sepeser pun, membersihkan seluruh ranjau yang ditanamnya di jalur pelayaran internasional, serta bersedia berkoordinasi dengan AS untuk menghancurkan uranium yang sudah diperkaya. Sebagai imbalannya, Trump menyatakan AS akan mencabut blokade pelabuhan Iran dan menegaskan tidak ada pertukaran uang hingga pemberitahuan lebih lanjut.
Data dari Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menunjukkan Iran saat ini memiliki 440,9 kilogram uranium yang diperkaya hingga kadar kemurnian 60 persen hanya selangkah teknis dari level senjata nuklir yang membutuhkan kemurnian 90 persen.
Trump bahkan secara terbuka menyatakan kepada media bahwa Iran tidak akan mendapat keringanan sanksi sebagai imbalan atas penyerahan uranium yang sudah diperkaya tersebut.
Reaksi Teheran tidak kalah keras. Klaim demi klaim yang dilontarkan Trump dibantah satu per satu oleh pemerintah Iran dengan nada yang semakin tajam.
Media pemerintah Iran menyebut paparan Trump sebagai “campuran antara kebenaran dan kebohongan.” Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baqaei menegaskan bahwa saat ini tidak ada negosiasi yang berlangsung terkait program nuklir Iran, dan menyatakan Iran telah meninggalkan bahasa pemaksaan sejak 47 tahun lalu. “Belum ada kesepakatan final yang dicapai,” kata Baqaei, meski ia membenarkan bahwa komunikasi antara kedua negara masih terus berlanjut.
Kantor berita Iran Fars juga melaporkan bahwa klausul mengenai pembukaan Selat Hormuz tanpa biaya tol tidak masuk dalam perjanjian yang sedang dinegosiasikan. Klaim Trump mengenai penghancuran material nuklir Iran disebut “sama sekali tidak mendasar.”
Kantor berita Fars bahkan melaporkan bahwa berdasarkan teks terakhir yang dipertukarkan antara Iran dan AS, Selat Hormuz tetap akan berada di bawah manajemen Iran, sebuah posisi yang secara langsung bertentangan dengan klaim Trump bahwa selat itu akan “bebas untuk semua orang.”
Di balik penolakan verbal itu, Iran punya tuntutan konkret yang tidak kalah berat dipenuhi AS.
Sumber-sumber di Teheran menyatakan Iran menuntut pencairan segera aset mereka yang dibekukan senilai 12 miliar dolar AS atau sekitar Rp 213 triliun, dan pencairan itu harus terjadi sebelum Iran bersedia melangkah ke tahap negosiasi berikutnya.
Sebagai bagian dari kerangka kesepakatan yang sedang didiskusikan, AS sebenarnya telah bersedia bernegosiasi soal pencabutan sanksi dan pencairan dana Iran selama periode gencatan senjata 60 hari, namun Trump secara terbuka menolak menghubungkan keringanan sanksi dengan penyerahan uranium Iran.
Di balik kebuntuan publik, diam-diam terdapat kemajuan teknis yang berarti di meja perundingan.
Para perunding AS dan Iran dilaporkan telah mencapai kesepakatan tentatif untuk memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari. Selama masa itu, Selat Hormuz akan dibuka tanpa biaya tol, Iran akan diizinkan menjual minyaknya secara bebas, dan negosiasi akan dimulai mengenai program nuklir Iran, termasuk kemungkinan penyerahan cadangan uranium yang diperkaya.
Sebagai imbalan, AS akan secara bertahap mencabut blokade navalno terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran dan memberikan keringanan sanksi untuk memungkinkan Iran mengekspor minyaknya.
Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan kesepakatan tersebut akan dimulai dengan sebuah nota kesepahaman sebagai fase pertama, diikuti pembicaraan lebih luas dalam 30 hingga 60 hari ke depan. Namun sejumlah titik hambatan yang belum terselesaikan antara kedua pihak masih terlihat jelas.
Namun semua itu masih menunggu satu tanda tangan yang paling menentukan milik Donald Trump.
Di tengah kebuntuan tingkat tinggi, ada secercah sinyal positif dari jalur yang berbeda.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan kesiapan negaranya untuk mencapai “kerangka kerja yang bermartabat” guna mengakhiri perang. Pernyataan itu disampaikan dalam panggilan telepon dengan Emir Qatar, sebagaimana dilaporkan kantor berita resmi Iran IRNA.
Qatar telah memainkan peran sentral sebagai tuan rumah negosiasi dan penghubung antara delegasi AS dan Iran yang tidak bertemu langsung. Peran mediasi Qatar menjadi semakin krusial setelah setiap putaran perundingan selalu berakhir dengan pernyataan yang kontradiktif dari kedua belah pihak.
Bahkan ketika kabar kesepakatan tentATIF mulai beredar, Departemen Keuangan AS justru menjatuhkan sanksi baru terhadap lembaga penjualan minyak militer Iran, sebuah langkah yang mengirimkan pesan ambigu: AS sedang bernegosiasi sekaligus terus memperketat tekanan ekonomi.
Seluruh drama diplomatik ini berlangsung di atas fondasi kehancuran yang telah berlangsung selama tiga bulan penuh. Sejak AS dan Israel melancarkan serangan pada 28 Februari 2026, perang ini telah memicu pertukaran serangan udara, serangan rudal, dan ancaman-ancaman yang belum pernah terjadi sebelumnya. Iran menutup Selat Hormuz jalur bagi seperlima pasokan energi dunia sementara jalur pelayaran global lumpuh dan harga minyak meledak.
Gencatan senjata pertama sempat dicapai pada 8 April 2026, dinegosiasikan oleh Pakistan. Namun sejak itu, serangkaian insiden militer terus terjadi dari serangan AS ke Bandar Abbas, tembakan rudal IRGC ke Kuwait, hingga ancaman Trump terhadap Oman.
Kini, dengan kedua negara masih berselisih soal siapa yang berbohong dan siapa yang jujur, satu pertanyaan tetap menggantung tanpa jawaban apakah dunia akan mendapat perdamaian yang sesungguhnya atau sekadar jeda tembak sementara yang menunggu pemicu berikutnya?
#NegosiasiASIran
#TrumpIranDeal
#PerangIran2026
#BuntuDamai
#SelatHormuz






