Doha/Muscat — Di tengah memanasnya konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, dua negara Teluk, Qatar dan Oman, dilaporkan mengambil posisi yang lebih netral dengan menolak keterlibatan langsung dalam operasi militer Washington terhadap Teheran.
Sikap tersebut menjadi sorotan internasional karena kedua negara selama ini dikenal memiliki hubungan diplomatik yang relatif stabil dengan Iran, sekaligus menjalin kerja sama strategis dengan Amerika Serikat.
Sejumlah laporan media internasional menyebut Qatar dan Oman memilih mengedepankan jalur diplomasi dibanding mendukung eskalasi militer baru terhadap Iran.
Kedua negara dikabarkan khawatir konflik terbuka akan memperburuk stabilitas kawasan Teluk, terutama di sekitar Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi energi dunia.
Dalam beberapa laporan, negara-negara Teluk disebut terkejut dengan langkah agresif Washington terkait operasi militer di kawasan Hormuz dan tidak ingin wilayah mereka dijadikan pusat serangan terhadap Iran.
Oman selama ini dikenal sebagai mediator utama dalam berbagai negosiasi antara AS dan Iran. Muscat bahkan berulang kali menjadi lokasi pembicaraan rahasia maupun diplomasi terbuka terkait isu nuklir Iran.
Pemerintah Oman disebut tetap mempertahankan pendekatan dialog meski kawasan Timur Tengah sedang berada dalam tekanan konflik besar.
Menteri Luar Negeri Oman sebelumnya juga sempat menyatakan kekecewaan atas serangan militer AS dan Israel terhadap Iran yang dianggap merusak proses negosiasi damai yang sedang berjalan.
Sementara itu, Qatar berada dalam posisi yang cukup sensitif karena memiliki hubungan pertahanan erat dengan Amerika Serikat, tetapi juga mempunyai hubungan ekonomi dan energi yang kuat dengan Iran.
Kedua negara berbagi ladang gas terbesar di dunia yang menjadi tulang punggung ekonomi Qatar. Faktor tersebut membuat Doha cenderung berhati-hati agar konflik tidak merusak stabilitas kawasan dan kepentingan energinya.
Qatar juga diketahui beberapa kali berperan sebagai mediator antara Iran dan negara-negara Barat dalam berbagai kesepakatan diplomatik sebelumnya.
Di sisi lain, pemerintahan Donald Trump disebut terus berupaya menggalang dukungan negara-negara Teluk untuk memperkuat tekanan terhadap Iran.
Namun laporan Reuters menyebut sejumlah negara Arab Teluk sebenarnya berhati-hati untuk ikut terlibat langsung dalam perang karena takut menjadi sasaran balasan Iran.
Bahkan dalam beberapa kasus, negara-negara kawasan disebut menolak penggunaan wilayah udara maupun pangkalan militer mereka untuk operasi tertentu Amerika Serikat.
Posisi Qatar dan Oman menunjukkan bahwa tidak semua sekutu Amerika di Timur Tengah ingin terseret lebih jauh dalam konflik bersenjata melawan Iran.
Banyak negara kawasan kini lebih memilih mencegah perang besar yang dapat:
- mengganggu ekspor minyak global
- memicu krisis ekonomi baru
- menghancurkan stabilitas Teluk
- serta memperluas konflik ke negara-negara Arab lainnya.
Ketegangan di kawasan juga semakin rumit setelah Iran melancarkan serangan ke sejumlah negara Teluk dalam beberapa bulan terakhir sebagai respons terhadap operasi militer AS dan Israel.
Sikap Qatar dan Oman memperlihatkan adanya kehati-hatian negara-negara Teluk dalam menghadapi konflik Iran versus Amerika Serikat dan Israel. Meski tetap menjaga hubungan dengan Washington, kedua negara tampaknya tidak ingin wilayah mereka menjadi bagian dari perang yang berpotensi mengguncang seluruh Timur Tengah.
Di tengah ancaman eskalasi yang terus meningkat, jalur diplomasi kini menjadi pilihan utama bagi negara-negara yang khawatir konflik akan berubah menjadi perang regional berskala besar.






