Yerusalem – Para pemimpin oposisi Israel di bawah Gadi Eisenkot dijadwalkan bertemu untuk membahas langkah berikutnya setelah pemilu yang berakhir buntu. Di sisi lain, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyerukan pemerintahan koalisi luas di bawah kepemimpinannya, tanpa melibatkan partai Arab.
Hasil pemilu tanpa pemenang
Menurut laporan AFP, pertemuan ini menjadi yang pertama bagi kubu oposisi yang beragam tersebut. Partai Yashar pimpinan Eisenkot menyebut para pemimpin “blok perubahan” akan berkumpul di Herzliya untuk mengoordinasikan langkah selanjutnya.
Hasil akhir yang dirilis Komisi Pemilu Pusat menunjukkan dua kubu sama-sama gagal mencapai mayoritas. Blok pendukung Netanyahu meraih 53 kursi di Knesset yang beranggotakan 120 orang, sedangkan blok Eisenkot mendapat 48 kursi. Likud milik Netanyahu menyumbang 27 kursi dan menjadi partai terbesar. Sisa 19 kursi dimenangi dua partai berbasis warga Arab. Itu rekor tertinggi, melampaui capaian 15 kursi pada 2020. Pembentukan pemerintahan membutuhkan 61 kursi, sehingga partai Arab berpotensi menjadi penentu.
Netanyahu bersikeras dirinya berhak memimpin koalisi berikutnya. Lewat Telegram Likud, ia mengklaim mayoritas jelas publik Yahudi “memilih saya, sebagai perdana menteri, untuk memimpin pemerintahan berikutnya”. Ia menyatakan akan merangkul mitra mana pun yang tidak mendukung terorisme. Netanyahu menuduh partai Arab mendukung terorisme dan menyangkal eksistensi negara Yahudi. Dalam pidato pascapemilu, ia juga menyebut pemerintahan yang melibatkan partai Arab akan membahayakan Israel.
Para pemimpin partai Arab menolak tuduhan itu. Menurut AFP, mereka secara bulat mengecam serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, meski tidak menyebut Hamas sebagai kelompok teroris. Pemimpin Partai Raam mengakui Israel sebagai negara Yahudi, sedangkan pemimpin lain menolak definisi itu. Kubu oposisi menuding Netanyahu menjelekkan warga Arab untuk melemahkan legitimasi hasil pemilu.
Posisi oposisi dan partai Arab
Seluruh pemimpin partai di blok Eisenkot menyatakan akan mendukungnya membentuk pemerintahan, meski berbeda pandangan soal sejumlah isu. Isu kerja sama dengan partai Arab masih sensitif. Eisenkot dan pemimpin oposisi lain dilaporkan menolak bekerja sama dengan Raam dan Daftar Gabungan, dan Eisenkot juga menolak bergabung di bawah Netanyahu. Kubu Arab sendiri memberi sinyal terbuka. Ahmed Tibi dari Partai Ta’al mengatakan partai Arab siap membantu Eisenkot membentuk pemerintahan, tetapi tidak Netanyahu. Tibi menyebut Eisenkot punya peluang membentuk pemerintahan minoritas.
Dua daftar partai Arab sebelumnya menyatakan tujuan bersama untuk menggulingkan pemerintahan yang mereka sebut rasis. Hingga kini, hanya sedikit informasi bocor soal negosiasi di balik layar.
Tuduhan kecurangan
Situasi memanas setelah Likud menuding partai Arab “mencuri” pemilu dan menuntut penyelidikan. Perundingan koalisi diperkirakan berlangsung berminggu minggu, sementara Netanyahu tetap menjabat perdana menteri selama proses berjalan.
#Israel #Netanyahu #GadiEisenkot #PemiluIsrael #Knesset #Likud #PartaiArab #OposisiIsrael #PolitikInternasional #TimurTengah









