Jakarta – Badan Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP) melontarkan peringatan serius terkait nasib generasi muda di negara berkembang yang terancam tidak kebagian pekerjaan dalam beberapa tahun mendatang. Administrator UNDP Alexander De Croo mengungkapkan proyeksi mengkhawatirkan ini dalam sesi taklimat pers di New York yang digelar secara virtual dari Bangkok pada Selasa (13/10/2026) di sela rangkaian Pertemuan Tahunan Kelompok Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF).
Menurut paparan De Croo dalam kurun 15 tahun ke depan diperkirakan sekitar 1,2 miliar anak muda bakal lulus sekolah dan siap memasuki pasar tenaga kerja global. Namun dari jumlah fantastis tersebut hanya sekitar 400 juta orang saja yang diperkirakan benar-benar mendapat kesempatan kerja sesuai proyeksi kondisi teknologi dan ekonomi saat ini. Alhasil sisanya yang mencapai 800 juta jiwa atau sekitar dua pertiga dari total generasi muda yang akan memasuki usia produktif berpotensi tidak memiliki akses pekerjaan sama sekali apabila tidak ada terobosan kebijakan signifikan dari pemerintah di berbagai negara.
De Croo menjelaskan kesenjangan besar ini utamanya dipicu oleh faktor demografi di mana di banyak negara berkembang usia median penduduknya berkisar antara 18 hingga 25 tahun sehingga menciptakan gelombang besar pencari kerja baru setiap tahunnya. Ia menegaskan bahwa kondisi ini bukanlah sesuatu yang akan terselesaikan dengan sendirinya melainkan sangat bergantung pada arah kebijakan yang diambil oleh para pemangku kepentingan di tingkat nasional maupun global.
Peringatan ini muncul bersamaan dengan kondisi yang oleh De Croo disebut sebagai “guncangan rangkap tiga” yang tengah dihadapi banyak negara berkembang saat ini yakni lonjakan biaya energi fenomena El Nino yang disebut sebagai salah satu yang paling intens sejak tahun 1950 serta beban biaya pinjaman yang sangat tinggi. Berdasarkan laporan terbaru UNDP bertajuk No Time To Recover negara berkembang pada umumnya kini harus merelakan sekitar 9,5 persen dari total pendapatan pemerintahnya hanya untuk membayar bunga utang semata.
Lebih jauh laporan tersebut turut mengungkap fakta mengkhawatirkan lainnya yakni untuk pertama kalinya sejak tahun 2010 jumlah penduduk dunia yang hidup dalam kemiskinan multidimensi yang mengukur bukan hanya pendapatan melainkan juga akses terhadap listrik air bersih layanan kesehatan dan pendidikan justru kembali mengalami peningkatan. “Angka-angka tersebut seharusnya menjadi peringatan keras bagi kita semua” tegas De Croo.
Meski demikian UNDP tidak hanya berhenti pada peringatan semata. Bertepatan dengan momentum ini lembaga tersebut turut meluncurkan dua inisiatif global baru yang dirancang guna menarik lebih banyak investasi memperkuat iklim usaha serta mengonversi pertumbuhan ekonomi menjadi lapangan kerja nyata bagi masyarakat. Pendekatan UNDP ke depan akan lebih berfokus pada penguatan keterkaitan antara kebijakan ekonomi sektor keuangan pengembangan dunia usaha dan pasar tenaga kerja secara lebih terintegrasi. Sektor seperti layanan kesehatan pertanian dan pariwisata disebut akan tetap menjadi andalan penyerapan tenaga kerja ke depan karena karakteristiknya yang sulit sepenuhnya tergantikan oleh otomatisasi mesin maupun kecerdasan buatan.
#UNDP #PengangguranAnakMuda #KrisisLapanganKerja #NegaraBerkembang #AlexanderDeCroo #PBB #KemiskinanMultidimensi #ElNino #EkonomiGlobal #MasaDepanGenerasiMuda






