TEHERAN — Iran kembali melontarkan ancaman keras kepada Amerika Serikat dan Israel, menyusul rentetan serangan terhadap kapal komersial di perairan Semenanjung Arab yang terus meningkat sepanjang Oktober 2026. Teheran menegaskan telah menyiapkan rencana operasi militer baru apabila kembali menjadi sasaran serangan.
Pejabat tinggi Iran, Rezaei, melalui unggahan di platform X, Minggu, 18 Oktober 2026, menegaskan bahwa angkatan bersenjata Iran telah menyiapkan respons terhadap setiap tindakan agresif baru, dengan tingkat kehancuran yang diklaim jauh melampaui dampak perang 12 hari maupun perang 40 hari sebelumnya. Ia menambahkan bahwa strategi operasional baru Teheran tidak akan mengikuti pola yang selama ini dikenal lawan-lawannya.
Peringatan ini datang hanya sehari setelah Iran resmi melantik Mehrdad Akhlaghi Ketabchi sebagai Menteri Pertahanan baru, yang langsung melontarkan ancaman serupa kepada parlemen Iran, Minggu, 18 Oktober. Akhlaghi bahkan menyinggung kemungkinan penggunaan bom nonnuklir terbesar milik Amerika Serikat, GBU-43/B atau dikenal sebagai Mother of All Bombs, apabila Washington kembali melakukan kesalahan perhitungan terhadap negaranya.
Ancaman verbal ini diperkuat eskalasi nyata di lapangan. Lembaga pemantau maritim Inggris, UK Maritime Trade Operations (UKMTO), melaporkan sebuah kapal tunda yang melaju ke selatan di timur laut Uni Emirat Arab terkena dua proyektil tak dikenal pada Minggu. Sehari sebelumnya, Jumat 16 Oktober, sebuah kapal tanker lain di timur laut Arab Saudi juga dilaporkan terkena granat berpeluncur roket dari perahu kecil. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) bahkan mengklaim telah menutup Selat Hormuz, dengan lima kapal tanker menjadi sasaran serangan sejak Jumat, termasuk dua kapal tanker pengangkut sekitar dua juta barel minyak mentah yang diklaim terbakar usai menabrak ranjau laut.
Berdasarkan data gabungan firma keamanan Vanguard, Organisasi Maritim Internasional, dan UKMTO, setidaknya 12 kapal diserang hanya dalam periode 5 hingga 11 Oktober, dengan enam kapal diserang dalam satu hari pada 11 Oktober, rekor harian tertinggi sepanjang konflik berlangsung. Secara keseluruhan, tercatat 23 insiden serangan kapal sepanjang Oktober 2026, hampir dua kali lipat rata-rata insiden bulanan sejak perang pecah akhir Februari lalu.
Di tengah eskalasi ini, Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) menegaskan lalu lintas kapal komersial tetap berlangsung meski serangan meningkat, dengan jumlah kapal yang memperoleh pengawalan militer naik 85 persen dibanding Agustus. CENTCOM bahkan mengumumkan telah menghancurkan sebuah kapal layar tradisional berafiliasi IRGC di Teluk Oman pada 6 Oktober, usai diduga mengawasi kapal Angkatan Laut AS, sembari menegaskan kendali jalur Hormuz kini berada di tangan AS dan sekutunya, klaim yang ditolak keras oleh Iran.
#Iran #AmerikaSerikat #SelatHormuz #AncamanMiliter #IRGC #MehrdadAkhlaghi #UKMTO #CENTCOM #GeopolitikTimurTengah #BeritaInternasional






