Menelusuri Akar Perang Houthi Lawan Saudi Sejak Era Zaidiyah

SANAA — Rentetan serangan udara yang kembali menghantam Bandara Internasional Riyadh pada 10 Oktober 2026, menewaskan 12 warga sipil dan menjadi serangan ketiga sejak awal bulan tersebut, mengingatkan dunia bahwa konflik antara kelompok Houthi dan Arab Saudi bukanlah perseteruan baru. Akar permusuhan ini sejatinya telah tertanam sejak beberapa dekade silam, jauh sebelum rudal dan pesawat nirawak saling melintasi perbatasan kedua pihak.

Cikal bakal Houthi, yang juga dikenal dengan nama Ansar Allah, bermula dari kebangkitan gerakan keagamaan Syiah Zaidiyah di kawasan pegunungan Saada, Yaman utara, pada dekade 1990-an. Tokoh bernama Hussein Badreddin al-Houthi kemudian membawa gerakan tersebut masuk ke ranah politik, membangun kritik tajam terhadap pemerintah Yaman sekaligus menyuarakan sikap anti-Amerika Serikat dan anti-Israel, dipicu kekecewaan terhadap diskriminasi ekonomi yang dirasakan wilayah utara di bawah pemerintahan yang disokong Arab Saudi.

Benturan bersenjata pertama meletus pada 2004, saat Houthi berhadapan langsung dengan pasukan Presiden Yaman kala itu, Ali Abdullah Saleh, dalam konflik yang dikenal sebagai Pemberontakan Sa’dah. Meski sang pendiri tewas dalam pertempuran tersebut, perjuangan Houthi tetap berlanjut di bawah kepemimpinan adiknya, Abdul-Malik al-Houthi.

Titik balik besar terjadi menyusul gelombang demonstrasi Arab Spring pada 2011, yang menggoyahkan tiga dekade kekuasaan Saleh. Memanfaatkan kekosongan kekuasaan tersebut, Houthi memperluas wilayah kendalinya hingga akhirnya berhasil merebut ibu kota Sanaa pada September 2014, memaksa Presiden Abdrabbuh Mansur Hadi mengasingkan diri ke Arab Saudi.

Setahun berselang, tepatnya Maret 2015, Arab Saudi memimpin koalisi militer beranggotakan delapan negara Arab, dengan dukungan Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis, guna mengembalikan pemerintahan Hadi. Riyadh menuduh Iran memasok senjata dan dukungan logistik bagi Houthi, memandang penguatan kelompok tersebut sebagai ancaman langsung bagi keamanan perbatasan sekaligus keseimbangan kekuatan di kawasan.

Meski korban jiwa dalam jumlah besar terus berjatuhan di kedua belah pihak, intervensi militer Saudi tidak pernah benar-benar berhasil merebut kembali Sanaa dari genggaman Houthi. Kelompok tersebut justru terus mengembangkan kemampuan rudal dan dronenya hingga mampu menjangkau sasaran jauh di dalam wilayah Saudi. Perang yang berkepanjangan ini akhirnya mencapai jeda lewat gencatan senjata yang dimediasi Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 2022, meski tanpa kesepakatan politik tuntas soal pembagian kekuasaan di Yaman.

Ketenangan empat tahun tersebut akhirnya kembali pecah sejak Juli 2026, dipicu serangan terhadap Bandara Internasional Sanaa yang dituduh Houthi didalangi Riyadh. Sejak saat itu, Houthi memperketat blokade terhadap jalur ekspor minyak Saudi, menguasai garis pantai strategis Laut Merah, hingga melancarkan serangan balasan berulang ke jantung ibu kota Saudi, menjadikan konflik lama ini kembali menjadi salah satu titik api paling membara di kawasan Timur Tengah.

#SejarahHouthi #ArabSaudi #Yaman #AnsarAllah #AbdulMalikAlHouthi #PerangYaman #KonflikTimurTengah #KrisisKemanusiaan #LautMerah #BeritaInternasional