Rial Iran Ambruk Lagi Dolar Tembus 2,5 Juta di Teheran

TEHERAN — Mata uang Iran kembali mencetak rekor terburuknya sepanjang sejarah pada Selasa, 29 September 2026, setelah para pedagang di pasar terbuka Teheran menukarkan lebih dari 2,5 juta rial untuk setiap satu dolar Amerika Serikat. Pelemahan ini menegaskan semakin beratnya tekanan yang dihadapi perekonomian Iran di tengah perang berkepanjangan melawan Amerika Serikat dan Israel.

Rekor terbaru ini muncul hanya berselang 27 hari sejak rial menyentuh titik terendah sebelumnya di kisaran 2,2 juta per dolar pada 2 September 2026. Jika ditarik lebih jauh ke belakang, sebelum Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran akhir Februari lalu, nilai tukar dolar di pasar terbuka masih berada di kisaran 1,7 juta rial saja. Artinya, dalam kurun kurang dari delapan bulan sejak perang pecah, mata uang Iran telah kehilangan hampir separuh nilainya terhadap dolar AS.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengungkap bahwa para mediator internasional dijadwalkan kembali menyampaikan posisi Teheran kepada pihak Amerika Serikat, sebelum tanggapan final dari Washington disampaikan kembali kepada Iran. Pernyataan ini muncul di tengah upaya diplomatik yang terus berlangsung untuk membuka kembali Selat Hormuz dan meredakan konflik yang telah berjalan sejak Februari 2026.

Tekanan terhadap rial tidak lepas dari kampanye ekonomi baru yang digencarkan Menteri Keuangan AS Scott Bessent sejak Agustus 2026. Washington menegaskan akan menyasar seluruh sumber pendapatan Iran, termasuk sektor minyak, guna mencegah negara maupun perusahaan lain menjalin bisnis dengan Teheran. Bessent bahkan menuliskan dalam opini di Financial Times bahwa kebijakan Presiden Donald Trump telah menghancurkan perekonomian Iran hingga titik di mana rial belum pernah selemah ini dan inflasi jarang setinggi ini sepanjang sejarah negara tersebut.

Pekan lalu, Uni Emirat Arab, salah satu mitra dagang terbesar Iran selama ini, turut mengumumkan penangguhan seluruh aktivitas perdagangan dengan Teheran, langkah yang semakin mempersempit ruang gerak ekonomi Iran di kawasan. Data resmi mencatat inflasi tahunan Iran telah menyentuh 61,4 persen, dengan harga bahan pangan melonjak hingga 128,1 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya, sehingga masyarakat Iran semakin sulit memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.

Kombinasi sanksi berat, blokade laut yang menghambat ekspor minyak Iran, serta terganggunya jalur pelayaran dan energi regional menjadi faktor utama yang terus menggerus nilai mata uang Iran. Sejumlah pejabat pemerintahan Amerika Serikat menegaskan bahwa tekanan ekonomi yang terjadi saat ini memang sejalan dengan tujuan Washington menekan Teheran secara maksimal, sementara pihak Iran terus berupaya membuka ruang negosiasi guna mengakhiri kebuntuan konflik yang sudah berdampak luas terhadap kondisi ekonomi domestiknya.

#RialIran #EkonomiIran #KonflikASIran #AbbasAraghchi #ScottBessent #SelatHormuz #SanksiEkonomi #InflasiIran #UniEmiratArab #BeritaInternasional