JAKARTA — Tekanan harga barang dan jasa di dalam negeri diperkirakan kembali menanjak pada September 2026, dengan sejumlah lembaga riset memproyeksikan laju inflasi tahunan mendekati ambang batas atas sasaran yang ditetapkan Bank Indonesia (BI).
Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) dalam Seri Analisis Makroekonomi terbarunya memperkirakan inflasi September 2026 berada pada kisaran 0,25 hingga 0,34 persen secara bulanan, atau setara 3,23 hingga 3,32 persen secara tahunan. Proyeksi ini mendekati batas atas target inflasi BI sebesar 3,5 persen, mengingat bank sentral menetapkan sasaran inflasi 2026 dan 2027 pada rentang 2,5 persen plus minus 1 persen.
Kepala Departemen Riset Makroekonomi dan Pasar Keuangan Bank Permata, Faisal Rachman, sebelumnya juga memproyeksikan inflasi akhir tahun akan bertahan di atas level 3 persen, didorong lonjakan harga energi global. Ia memperkirakan inflasi tahunan mencapai sekitar 3,13 persen pada akhir 2026, naik dibanding realisasi 2025 sebesar 2,92 persen, dengan asumsi pemerintah mempertahankan harga energi bersubsidi pada level saat ini. Faisal mengingatkan bahwa apabila ketegangan geopolitik di Timur Tengah terus meningkat dan mendorong kenaikan harga energi global berkepanjangan, laju inflasi berpotensi melampaui perkiraan tersebut.
Risiko tambahan datang dari fenomena iklim ekstrem. Sejumlah analis mengingatkan bahwa El Nino yang lebih kuat dari kondisi normal berpotensi mendorong inflasi naik signifikan dari baseline, dengan skenario terburuk mengarahkan inflasi tahunan menembus level 4 persen atau lebih, jauh melampaui batas atas sasaran BI. Gangguan produksi pertanian akibat cuaca kering berkepanjangan dinilai dapat memperkuat tekanan pada harga pangan dalam beberapa bulan mendatang.
Merespons dinamika ini, BI memutuskan mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur September 2026, sembari memperkuat kebijakan non-suku bunga lewat perluasan instrumen insentif foreign flow serta intervensi nilai tukar rupiah di pasar valuta asing. Analis Panin Sekuritas menilai BI masih berada dalam fase wait and see, namun tetap membuka ruang kenaikan BI Rate hingga 6,25 persen tahun ini apabila tekanan inflasi dan faktor eksternal terus meningkat, seiring proyeksi defisit transaksi berjalan yang juga berpotensi melebar mendekati 0,9 persen terhadap Produk Domestik Bruto.
Kombinasi tekanan dari harga energi global yang masih bergejolak akibat konflik Timur Tengah, potensi gangguan pasokan pangan akibat El Nino, serta pelemahan nilai tukar rupiah menjadi faktor utama yang terus diwaspadai otoritas moneter maupun pelaku pasar dalam beberapa bulan ke depan, seiring pemerintah dan BI berupaya menjaga inflasi tetap berada dalam koridor sasaran yang telah ditetapkan.
#InflasiIndonesia #BankIndonesia #BIRate #LPEMFEBUI #ElNino #HargaEnergi #KonflikASIran #BankPermata #EkonomiIndonesia #BeritaEkonomi






