Rupiah dan IHSG Berjatuhan Bareng Awal Pekan

Ekonomi, Fokus, Nasional147 Dilihat

JAKARTA — Pasar keuangan domestik kompak melemah pada perdagangan awal pekan, Senin, 28 September 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi tajam 1,51 persen atau anjlok 94 poin ke level 6.147, sementara nilai tukar rupiah kian mendekati ambang psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat.

Tekanan pada rupiah muncul seiring penguatan dolar AS terhadap mayoritas mata uang dunia, dengan indeks dolar atau DXY kembali menembus level 101. Bank Indonesia (BI) turut memperkirakan bank sentral AS masih berpotensi menaikkan suku bunga acuan satu kali lagi pada kuartal keempat 2026, ekspektasi yang membuat aset berdenominasi dolar semakin diminati investor global dibanding aset di negara berkembang termasuk Indonesia.

Gubernur BI Destry Damayanti mengungkap dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI di Jakarta, Senin, bahwa harga minyak dunia per 24 September 2026 telah mencapai 125,53 dolar AS per barel, jauh melampaui rata-rata harga Agustus yang berkisar 90,88 dolar AS per barel. Lonjakan harga minyak akibat konflik Amerika Serikat-Iran yang belum menemukan terobosan negosiasi ini turut menjadi salah satu beban tambahan bagi pasar keuangan domestik. Destry menegaskan arah kebijakan moneter ke depan akan lebih condong menjaga stabilitas, sementara instrumen kebijakan lain diarahkan mendukung pertumbuhan ekonomi.

Di sisi pasar modal, pelemahan IHSG turut dipicu perubahan aturan teknis perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Mulai hari yang sama, BEI resmi menurunkan batas harga terendah saham dari sebelumnya Rp50 per lembar menjadi hanya Rp1 per lembar, kebijakan yang bertujuan meningkatkan likuiditas namun turut memicu gejolak jangka pendek di pasar. Sektor teknologi, bahan baku, dan konsumer siklikal tercatat mengalami tekanan terdalam sepanjang perdagangan, sementara hanya sektor energi yang mampu bertahan di zona hijau berkat lonjakan harga minyak dunia.

Dari sisi arus modal, sejumlah analis pasar mencatat aksi jual bersih investor asing turut memperberat tekanan terhadap IHSG, dengan estimasi dana asing yang keluar dari pasar saham domestik mencapai sekitar Rp3,5 triliun dalam beberapa hari perdagangan terakhir. Kondisi ini diperparah lonjakan imbal hasil surat utang Amerika Serikat tenor 10 tahun yang telah menembus level 5,17 persen, sebuah level yang dinilai kalangan analis sebagai beban berat bagi daya tarik pasar negara berkembang seperti Indonesia.

Sejumlah sekuritas memproyeksikan tekanan terhadap IHSG masih berpotensi berlanjut dalam beberapa hari ke depan, dengan level support berikutnya diperkirakan berada di kisaran 6.000 hingga 6.100, seiring pelaku pasar terus mencermati perkembangan negosiasi konflik Timur Tengah, arah kebijakan suku bunga The Fed, serta rilis sejumlah data ekonomi penting dari Amerika Serikat dan China dalam pekan ini.

#IHSG #RupiahMelemah #DestryDamayanti #BankIndonesia #HargaMinyakDunia #KonflikASIran #BursaEfekIndonesia #PasarSahamIndonesia #USTreasury #BeritaEkonomi