Netanyahu Terbang Rahasia ke UEA Redam Skandal Bocoran Intelijen

ABU DHABI — Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan melakukan perjalanan rahasia ke Uni Emirat Arab (UEA) akhir pekan lalu untuk meminta Presiden UEA Mohamed bin Zayed Al Nahyan secara terbuka membantah laporan media bahwa dirinya pernah menyampaikan peringatan dini kepada Netanyahu soal rencana serangan besar Hamas menjelang 7 Oktober 2023.

Berdasarkan laporan Associated Press pada Senin, 28 September 2026, yang mengutip sumber-sumber dengan pengetahuan langsung soal pertemuan tersebut, pembicaraan Netanyahu dan Mohamed bin Zayed berfokus pada artikel yang diterbitkan harian Israel Haaretz awal bulan ini. Artikel tersebut mengungkap bahwa pemimpin UEA sempat menelepon dan memperingatkan Netanyahu soal ancaman serangan Hamas sekitar satu setengah pekan sebelum serangan tersebut benar-benar terjadi, namun peringatan itu diduga tidak diteruskan Netanyahu kepada badan-badan keamanan Israel.

Menurut Channel 12 Israel, Netanyahu terbang menggunakan pesawat pribadi menuju Abu Dhabi pada Minggu, 27 September 2026, tak lama setelah tengah hari, mendarat sekitar pukul 15.10 waktu setempat, dan menghabiskan waktu sekitar empat jam di UEA sebelum kembali ke Israel. Salah satu sumber menggambarkan permintaan Netanyahu kepada pemimpin UEA tersebut sebagai upaya mencari “dukungan moral”, sekaligus meminta pembantahan resmi atas detail percakapan telepon keduanya yang dinilai berpotensi memalukan posisinya secara politik.

Kementerian Luar Negeri UEA hingga kini menolak mengomentari lebih jauh isi pertemuan tertutup tersebut, namun menegaskan negaranya senantiasa menjaga saluran komunikasi yang terbuka dan langsung dengan Israel, serta berbagi seluruh informasi intelijen yang relevan. Sementara itu, Kantor Perdana Menteri Israel baru mengonfirmasi keberlangsungan pertemuan tersebut pada Senin, namun membantah keras klaim bahwa Netanyahu meminta Mohamed bin Zayed menyangkal peringatan yang dimaksud, dengan menyebut laporan tersebut sebagai berita palsu.

Polemik ini menambah tekanan politik yang sudah lama membayangi Netanyahu, yang selama ini menghadapi kritik tajam atas kegagalan sistem keamanan dan intelijen Israel mendeteksi serta mengantisipasi serangan mendadak Hamas pada 7 Oktober 2023, insiden yang kemudian memicu perang berkepanjangan di Jalur Gaza. Sebelumnya, laporan serupa juga sempat mengungkap bahwa Mesir turut memberikan sinyal peringatan menjelang serangan tersebut, klaim yang juga telah dibantah berulang kali oleh Netanyahu.

Hubungan diplomatik Israel dan UEA sendiri terjalin di bawah kerangka Abraham Accords atau Perjanjian Abraham, yang diteken beberapa tahun sebelum serangan 7 Oktober. Terungkapnya dugaan lobi tertutup ini berpotensi menambah kerumitan hubungan bilateral kedua negara, sekaligus memperpanjang daftar kontroversi seputar transparansi penanganan intelijen Israel menjelang salah satu serangan paling mematikan dalam sejarah negara tersebut.

#Netanyahu #UniEmiratArab #MohamedBinZayed #SeranganHamas #7Oktober2023 #Haaretz #AbrahamAccords #IntelijenIsrael #KonflikGaza #BeritaInternasional