Oleh Fadhil As. Mubarok | CEO & Chairman of MUBAROK INSTITUTE
Gagasan mencetak 10 ribu doktor dari kalangan santri Nahdlatul Ulama mengemuka setelah kunjungan reflektif ke kompleks bersejarah Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Inisiatif ini disampaikan langsung kepada Ketua Umum Pengurus Besar NU (PBNU) periode 2026-2031, KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, yang juga pengasuh pesantren tersebut.
Pencetus gagasan ini menuturkan bahwa penelusuran lorong-lorong sejarah Tebuireng bukan sekadar perjalanan spiritual biasa, melainkan upaya membangkitkan kembali potensi besar tradisi keilmuan Islam berbasis turats yang selama berabad-abad menghidupi jutaan santri. Menurutnya, tantangan abad ke-21 menuntut dunia pesantren melampaui benteng tradisi keagamaan semata, dan melangkah lebih jauh menuju pusat peradaban ilmu pengetahuan modern.
Momen penyampaian gagasan ini terjadi usai rombongan menghadiri Seminar Nasional dan Bedah Buku Memoar William Soeryadjaya di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Suasana silaturahmi yang hangat pasca-acara tersebut menjadi momentum penyampaian ide pencetakan doktor santri secara langsung kepada Gus Kikin.
Gagasan ini muncul tepat setelah Gus Kikin resmi terpilih sebagai Ketua Umum PBNU dalam Muktamar ke-35 di Jombang, menggantikan kepemimpinan periode sebelumnya. Sebagai cicit pendiri NU, KH Hasyim Asy’ari, sekaligus figur yang pernah berkarier sebagai profesional BUMN dan pelaku usaha di sektor pertambangan sebelum memimpin pesantren, Gus Kikin dinilai memiliki modal kultural unik yang memadukan dunia santri dan dunia bisnis profesional sekaligus.
Sejumlah pengamat menilai kepemimpinan Gus Kikin dapat menjadi momentum menghidupkan kembali semangat Nahdlatut Tujjar, tradisi kewirausahaan NU di masa awal berdirinya, guna melahirkan pengusaha-pengusaha muda dari kalangan santri, mengoptimalkan aset umat, memperkuat pengelolaan wakaf, sekaligus membangun kemandirian ekonomi jamaah. Gus Kikin sendiri kerap menegaskan bahwa politik NU harus melampaui kepentingan praktis, dengan menempatkan organisasi sebagai kekuatan masyarakat sipil yang menjaga persatuan dan kemanusiaan, sekaligus menegaskan bahwa jabatan kepemimpinan merupakan amanah organisasi, bukan ambisi pribadi.
Gagasan mencetak doktor santri dalam jumlah besar ini sejalan dengan visi besar NU memasuki abad kedua, di mana organisasi dituntut tidak sekadar menjaga tradisi dan membesarkan kelembagaan, melainkan juga membangun fondasi pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan kemandirian umat bagi generasi mendatang. Target ini turut relevan dengan visi Indonesia Emas 2045, yang membutuhkan bukan hanya bonus demografi dalam jumlah besar, melainkan juga bonus kualitas sumber daya manusia yang mumpuni.
Dengan akselerasi kualitas pendidikan tinggi di kalangan nahdliyin melalui program doktor santri ini, harapannya kader-kader NU ke depan mampu memimpin perubahan baik di tingkat nasional maupun global, tanpa kehilangan akar nilai keagamaan dan tradisi keilmuan pesantren yang telah diwariskan turun-temurun sejak generasi pendiri organisasi.
#DoktorSantriNU #GusKikin #PesantrenTebuireng #PBNU #MuktamarNU35 #IndonesiaEmas2045 #KemandirianEkonomiUmat #PendidikanSantri #NahdlatulUlama #BeritaPendidikan






