Luhut Ingin RI Contoh Pola Pembangunan China Perluas Kerja Sama AI

Fokus, Internasional204 Dilihat

BEIJING — Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan menyampaikan keinginan Indonesia untuk mempelajari pengalaman sukses China dalam membangun perekonomiannya, sekaligus memperluas kemitraan strategis kedua negara ke sejumlah sektor industri masa depan. Pernyataan ini disampaikan dalam pertemuan bilateral dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi di Beijing, Kamis, 17 September 2026.

Pertemuan tersebut merupakan kelanjutan dari komunikasi intensif kedua negara, setelah sebelumnya Luhut dan Wang Yi bertemu dalam ajang Comprehensive Strategic Dialogue serta Pertemuan Mekanisme Dialog 2+2 antara menteri luar negeri dan pertahanan kedua negara di Jakarta pada 22 Agustus 2026. Dalam kesempatan kali ini, Luhut secara eksplisit menyampaikan harapan Indonesia dapat menimba pengalaman dari keberhasilan China menjalankan Rencana Lima Tahun ke-15, sekaligus memperdalam kerja sama di berbagai industri strategis baru seperti kecerdasan buatan, bioteknologi, layanan kesehatan, manufaktur maju, dan keuangan digital.

Selain sektor teknologi masa depan, kedua pihak turut membahas peluang kolaborasi di bidang pertambangan, pengembangan sumber daya manusia, serta kegiatan riset, penelitian, dan inovasi bersama. Luhut menegaskan bahwa China merupakan mitra strategis paling dapat diandalkan bagi Indonesia dalam proses pembangunan jangka panjang, seraya menyebut rasa saling percaya antarkedua negara telah terjalin sangat kuat selama ini.

Menteri Luar Negeri Wang Yi menyambut baik pernyataan tersebut, sembari berharap Dewan Ekonomi Nasional di bawah kepemimpinan Luhut dapat terus memberikan kontribusi konkret bagi hubungan bilateral, khususnya dalam mendorong kerja sama yang saling menguntungkan kedua bangsa.

Kunjungan kerja Luhut ke China berlangsung selama empat hari, 15 hingga 18 September 2026, mencakup rangkaian agenda padat mulai dari menghadiri China Economic and Social Forum 2026 di Hangzhou, bertemu Sekretaris Jenderal Komite Nasional Majelis Permusyawaratan Politik Rakyat China Wang Dongfeng, hingga bertemu Ketua Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional (NDRC) Zheng Shanjie. Dalam pertemuan dengan Zheng, Luhut turut menyinggung mekanisme pembayaran utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh, mengingat skema restrukturisasi utang proyek tersebut sebelumnya sempat diungkap mantan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menggunakan tenor hingga 80 tahun.

Di penghujung rangkaian kunjungannya, Luhut memberikan kuliah umum di Universitas Tsinghua, Beijing, sekaligus memperkenalkan teknologi pemerintahan atau GovTech yang tengah dikembangkan Indonesia. Ia menjelaskan bahwa sistem tersebut, dipadukan dengan riset kecerdasan buatan yang sudah berjalan di Bali, bertujuan memastikan sekitar 50 juta warga miskin dapat terdata akurat dalam sistem perlindungan sosial berbasis digital, sekaligus berpotensi menghemat anggaran negara lebih dari Rp1.500 triliun ke depan.

#LuhutBinsarPandjaitan #WangYi #IndonesiaChina #DewanEkonomiNasional #KerjaSamaStrategis #GovTech #ProyekWhoosh #DiplomasiEkonomi #BeijingIndonesia #BeritaEkonomi