Data Pelanggan AWS Hilang Selamanya Akibat Gempuran Iran

Fokus, Internasional280 Dilihat

JAKARTA — Amazon Web Services (AWS) akhirnya mengakui bahwa sebagian data pelanggannya yang dihosting di pusat data kawasan Bahrain dan Uni Emirat Arab hilang secara permanen, enam bulan setelah fasilitas tersebut diterjang serangan pesawat nirawak Iran. Pengakuan ini disampaikan lewat pembaruan dasbor resmi AWS pada 15 September 2026, sebagaimana pertama kali diungkap Reuters.

Dalam pernyataan tersebut, Amazon Web Services menyebut tidak lagi sanggup memulihkan akses terhadap sumber daya maupun data yang tersimpan di sejumlah pusat data yang rusak akibat konflik bersenjata. Kehilangan permanen ini terjadi di salah satu dari tiga zona ketersediaan AWS di wilayah Uni Emirat Arab, tepatnya zona bersandi mec1-az2, tempat satu atau lebih fasilitas pusat data Amazon beroperasi.

Kerusakan justru tercatat lebih parah di kawasan Bahrain, di mana Amazon menegaskan sama sekali tidak mampu memulihkan akses ke sumber daya maupun data di ketiga zona ketersediaan yang ada di negara tersebut. Perusahaan menjelaskan bahwa tingkat kerusakan infrastruktur telah melampaui kapasitas ketahanan sistem regional dan multi-zona yang dirancang untuk mengantisipasi gangguan semacam ini.

Rangkaian serangan terhadap fasilitas Amazon di kawasan Teluk ini bermula pada 1 Maret 2026, hanya berselang beberapa hari setelah perang antara koalisi Amerika Serikat-Israel melawan Iran meletus pada 28 Februari. Menyusul serangan awal tersebut, AWS langsung mendesak para pelanggannya memindahkan beban kerja komputasi ke wilayah cloud lain, sekaligus memberikan kompensasi kredit senilai 150 juta dolar Amerika Serikat kepada pelanggan terdampak.

Namun gempuran terhadap infrastruktur digital raksasa teknologi asal Amerika Serikat ini tidak berhenti di situ. Serangan lanjutan kembali menghantam pusat data di Bahrain pada 1 April, disusul gangguan pada zona ketersediaan kedua di negara yang sama pada bulan berikutnya. Puncaknya, Korps Garda Revolusi Islam Iran melancarkan serangan rudal pada 24 Juli 2026 yang secara spesifik menyasar sisa struktur pusat data Amazon di Bahrain, dengan tingkat kerusakan yang berhasil dikonfirmasi secara independen lewat citra satelit.

AWS memastikan tetap berkomitmen mendukung para pelanggannya di Bahrain dalam jangka panjang, sembari menjanjikan pembaruan informasi lebih lanjut pada awal 2027 mendatang. Meski demikian, perusahaan mengakui proses pemulihan penuh masih membutuhkan waktu, dengan sebagian besar pelanggan terdampak disebut telah mengikuti anjuran memindahkan operasional mereka ke wilayah cloud lain sejak jauh hari.

Rangkaian serangan terhadap infrastruktur digital ini menjadi bagian dari eskalasi konflik yang lebih luas antara Iran dan koalisi Amerika Serikat-Israel, yang kini telah merambah ke krisis energi global lewat gangguan pelayaran di Selat Hormuz dan Selat Bab al-Mandeb. Di tengah dampak destruktif tersebut, sejumlah pihak mencatat satu sisi positif yang muncul, yakni meningkatnya minat global terhadap sumber energi terbarukan seperti panel surya atap sebagai alternatif ketahanan infrastruktur di tengah ketidakpastian pasokan energi konvensional.

#AmazonWebServices #AWS #SeranganIran #DataCenter #Bahrain #UniEmiratArab #KonflikASIran #KeamananSiber #KrisisEnergi #BeritaTeknologi