TEHERAN — Isu potensi penggunaan senjata nuklir oleh Amerika Serikat terhadap Iran memicu tanggapan tegas dari kalangan legislatif Teheran. Anggota Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, Fada Hossein Maleki, menegaskan negaranya akan memberikan balasan setimpal apabila Washington benar-benar mengerahkan senjata nuklir dalam konflik yang telah berlangsung berbulan-bulan ini.
Pernyataan tersebut disampaikan Maleki dalam wawancara dengan kantor berita Iran, Khabar Online, sebagaimana dilansir Rabu, 19 Agustus 2026. Saat ditanya soal kemungkinan serangan nuklir Amerika Serikat terhadap negaranya, ia menyampaikan pandangannya bahwa meski tidak menutup kemungkinan Presiden AS Donald Trump mengambil langkah gegabah, ia menilai Trump kemungkinan besar tidak akan berani melakukannya karena tindakan semacam itu berpotensi menyeret dunia ke dalam perang berbahaya. Ia menambahkan bahwa jika langkah ekstrem tersebut tetap diambil, Republik Islam Iran akan merespons dengan tingkat kekuatan yang sepadan dengan jenis senjata yang digunakan menyerang negaranya.
Kekhawatiran soal opsi nuklir ini bukan tanpa dasar. Mantan anggota Kongres Amerika Serikat dari faksi Republik, Marjorie Taylor Greene, sebelumnya melalui unggahan di platform X pada 16 Agustus 2026 mengklaim bahwa pejabat pemerintahan Trump tengah membahas kemungkinan penggunaan senjata nuklir terhadap Iran dalam rapat-rapat strategi tertutup, meski ia tidak merinci pihak yang terlibat maupun bukti pendukung klaimnya tersebut.
Sementara itu, laporan CNN pada awal Agustus 2026 mengungkap bahwa militer Amerika Serikat telah menyiapkan sejumlah opsi serangan lanjutan yang menyasar infrastruktur nuklir Iran, termasuk kawasan Pickaxe Mountain di selatan Teheran, meski pemerintahan Trump dilaporkan masih ragu menyerang langsung infrastruktur energi Iran karena khawatir memicu pembalasan terhadap fasilitas energi di kawasan Teluk yang dapat mengguncang pasar energi global.
Kepala Badan Pengawas Nuklir PBB, Rafael Grossi, sebelumnya menegaskan bahwa Iran belum berada dalam hitungan hari atau pekan untuk memiliki senjata nuklir, meski ia mengakui masih ada sejumlah elemen mencurigakan, termasuk akumulasi material tingkat militer dalam jumlah besar yang tidak dapat dijustifikasi serta minimnya transparansi dalam proses inspeksi.
Ancaman balasan dari Maleki ini muncul di tengah kebuntuan negosiasi antara kedua negara. Presiden Trump sendiri menegaskan tidak ada perundingan yang sedang berlangsung maupun dijadwalkan dengan Iran, meski sebelumnya sempat mengungkap adanya saluran komunikasi belakang layar dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran. Ketegangan ini menambah daftar panjang eskalasi retorika antara kedua negara yang telah terlibat konflik terbuka sejak akhir Februari 2026.
#Iran #AmerikaSerikat #SenjataNuklir #KonflikASIran #FadaHosseinMaleki #DonaldTrump #GeopolitikTimurTengah #ProgramNuklirIran #RafaelGrossi #BeritaInternasional









