WASHINGTON — Jalan buntu negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran kembali menegas setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak ada lagi pembicaraan atau jadwal perundingan apa pun dengan Republik Islam Iran. Pernyataan tersebut disampaikan Trump sebagaimana dikutip AFP pada Selasa, 18 Agustus 2026.
Trump menegaskan kebijakan militer Washington terhadap Teheran tidak akan berubah sedikit pun. Ia memastikan blokade Angkatan Laut Amerika Serikat di Selat Hormuz beserta pelabuhan-pelabuhan Iran tetap diberlakukan sepenuhnya. Meski demikian, ia mengklaim jalur pelayaran strategis tersebut kini dalam kondisi terbuka dan beroperasi normal, dengan seluruh ranjau laut yang ada telah disingkirkan atau dimusnahkan.
Sebagai penegasan sikapnya, Trump mengunggah sebuah peta di platform Truth Social yang menggambarkan Selat Hormuz sebagai bagian dari wilayah baru Amerika Serikat, sekaligus mengulangi ambisinya untuk mengklaim kedaulatan penuh atas jalur perairan vital tersebut. Sehari sebelumnya, ia kembali menyampaikan gagasan serupa secara langsung kepada wartawan di Ruang Oval Gedung Putih, menyebutnya sebagai ide yang menurutnya sangat baik.
Klaim ini muncul di tengah kondisi riil di lapangan, di mana Iran justru telah secara efektif menutup jalur sempit yang menjadi lintasan sekitar seperlima pasokan minyak dunia tersebut, sebagai bentuk balasan atas serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel yang dimulai akhir Februari lalu.
Sikap keras Trump ini langsung memantik reaksi tajam dari pihak Iran. Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf melontarkan kritik pedas terhadap Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dan Menteri Keuangan AS Scott Bessent, menyebut keduanya sebagai kelompok yang tidak layak dipercaya. Ghalibaf bahkan menyertakan sindiran teknis dengan mengingatkan konversi satuan jarak, sebagai bentuk ejekan atas berbagai klaim yang dilontarkan pejabat Amerika Serikat selama ini.
Perseteruan klaim atas kendali Selat Hormuz sejatinya bukan hal baru. Sebelumnya Trump juga sempat mengeklaim Amerika Serikat telah menguasai penuh jalur tersebut dan berhasil membersihkan ranjau peninggalan Iran, klaim yang langsung dibantah tegas otoritas militer Iran dengan menegaskan tidak ada satu pun kapal yang dapat melintas tanpa izin dan pengawasan penuh dari pihak Teheran.
Ketegangan ini turut diperparah oleh riwayat panjang blokade laut Amerika Serikat terhadap Iran, yang menurut Trump sendiri dirancang sebagai instrumen tekanan ekonomi yang lebih efektif dibanding pengeboman langsung, guna memaksa Teheran menghentikan program pengembangan senjata nuklirnya.
Dengan tertutupnya seluruh peluang negosiasi untuk saat ini, ketegangan antara kedua negara diperkirakan akan terus berlanjut, sementara sengketa klaim kendali atas salah satu jalur pelayaran energi tersibuk di dunia ini berpotensi memperpanjang ketidakpastian geopolitik di kawasan Teluk Persia.
#SelatHormuz #DonaldTrump #Iran #KonflikASIran #MohammadGhalibaf #PeteHegseth #ScottBessent #GeopolitikTimurTengah #BlokadeHormuz #BeritaInternasional






