Iran Sindir Trump Soal Klaim Kuasai Selat Hormuz

TEHERAN — Klaim berulang Presiden Amerika Serikat Donald Trump soal penguasaan penuh Selat Hormuz kembali memicu reaksi tajam dari Iran. Kali ini kritik pedas datang dari kalangan legislatif Teheran, yang menyindir keras rencana Trump mendeklarasikan jalur perairan strategis tersebut sebagai wilayah kedaulatan Amerika Serikat setelah mengklaim kemenangan atas Iran.

Ketua Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, Ebrahim Azizi, melontarkan sindiran tajam melalui unggahannya di platform X, sebagaimana dilansir Al-Jazeera pada Minggu, 16 Agustus 2026. Azizi menyarankan Trump agar lebih fokus memikirkan keselamatan dirinya sendiri ketimbang terus melontarkan pernyataan bombastis soal Selat Hormuz. Sindiran itu turut menyinggung insiden sebelumnya, ketika media Amerika Serikat melaporkan Trump sempat menggunakan truk katering untuk berpindah dari pesawat kepresidenan Air Force One ke pesawat pemerintah berukuran lebih kecil saat kunjungan ke Ankara bulan lalu untuk menghadiri KTT NATO, akibat kekhawatiran potensi serangan Iran.

Kritik tersebut merupakan respons langsung atas pernyataan Trump saat berkunjung ke Akademi Kepolisian Nassau County yang baru diresmikan di Garden City, New York, pada Jumat, 14 Agustus 2026. Dalam kesempatan itu, Trump menegaskan niatnya untuk segera mendeklarasikan Selat Hormuz sebagai bagian wilayah Amerika Serikat begitu konflik dengan Iran dinyatakan usai dengan kemenangan di pihaknya. Ia turut menegaskan blokade militer Amerika Serikat atas selat tersebut akan tetap diberlakukan, dengan klaim bahwa tidak ada kapal yang dapat melintas tanpa izin dari pihaknya.

Klaim penguasaan Selat Hormuz oleh Trump langsung dibantah tegas otoritas militer Iran. Juru bicara komando terpadu militer Iran, Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, Ibrahim Zolfaqari, menegaskan tidak ada satu pun kapal yang diperbolehkan melintasi jalur tersebut tanpa izin dan pengawasan penuh dari Iran.

Perselisihan klaim atas kendali jalur pelayaran strategis ini bukan kali pertama terjadi. Sebelumnya Trump juga sempat mengklaim Amerika Serikat memiliki kendali penuh atas selat tersebut dan yakin mampu mempertahankannya, klaim yang juga langsung dibantah keras oleh pihak Iran. Sejumlah upaya diplomasi untuk membuka kembali jalur pelayaran strategis ini pun sejauh ini belum membuahkan hasil konkret, sementara pejabat Iran berulang kali menegaskan Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali selama Washington terus melakukan intervensi militer di kawasan tersebut, termasuk memberlakukan blokade laut. Teheran turut menuding Washington gagal memenuhi sejumlah ketentuan dalam nota kesepahaman yang sebelumnya telah disepakati kedua negara.

Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur pelayaran energi tersibuk di dunia, menghubungkan Teluk Persia dengan lautan lepas, sehingga setiap perselisihan klaim kendali atas jalur ini berpotensi berdampak luas terhadap stabilitas pasokan energi global maupun eskalasi konflik militer yang telah berjalan berbulan-bulan antara kedua negara.

#SelatHormuz #DonaldTrump #Iran #KonflikASIran #EbrahimAzizi #GeopolitikTimurTengah #PerangIran #KrisisEnergi #BeritaInternasional #KonflikMiliter