Damai Seminggu Buyar Drone Hantam Kapal Tanker AS Bom Iran Lagi Trump Ancam Bubarkan Republik Islam

Washington DC – Nota kesepahaman damai yang baru ditandatangani sepekan lalu antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian kini di ambang kehancuran. Kamis (25/6/2026), militer Amerika kembali melancarkan serangan udara ke wilayah Iran memicu eskalasi baru yang mengancam menggagalkan upaya damai yang baru saja dirajut.

Drone Hantam Tanker Bermuatan 2 Juta Barel Minyak

Pemantik eskalasi kali ini adalah serangan drone terhadap kapal tanker minyak M/T Kiku berbendera Panama, yang sedang mengangkut lebih dari dua juta barel minyak mentah ketika melintas di sekitar Selat Hormuz pada Sabtu pagi waktu setempat. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan drone bunuh diri satu arah itu menghantam kapal tersebut pukul 04.30 waktu setempat.

CENTCOM menegaskan serangan balasan AS dilakukan sebagai respons langsung atas tindakan itu. “Iran telah diberi kesempatan untuk mematuhi perjanjian gencatan senjata, namun memilih untuk tidak melakukannya,” tulis CENTCOM dalam pernyataan resminya.

AS Bombardir Gudang Rudal dan Radar Pantai

Trump sendiri mengonfirmasi serangan balasan itu melalui platform Truth Social. “Pesawat Amerika Serikat baru saja menyerang lokasi penyimpanan rudal dan drone Iran, serta situs radar pantai karena kembali melanggar perjanjian gencatan senjata,” tulisnya.

Media pemerintah Iran melaporkan serangkaian ledakan terdengar di Pulau Qeshm, Kota Sirik, dan sekitar Bandar-e Lengeh di selatan Iran setelah operasi tersebut. Hingga laporan terakhir, belum ada konfirmasi resmi soal korban jiwa maupun kerusakan material akibat insiden ini.

Ancaman Trump: “Republik Islam Iran Tidak Akan Ada Lagi”

Trump tidak berhenti pada serangan balasan. Ia melontarkan peringatan yang jauh lebih keras soal kemungkinan eskalasi militer penuh. “Mungkin akan tiba saatnya ketika kami tidak lagi dapat bersikap masuk akal, dan akan dipaksa untuk menyelesaikan secara militer pekerjaan yang telah kami mulai dengan sangat sukses. Jika itu terjadi, Republik Islam Iran tidak akan ada lagi,” tegasnya.

Ia juga meragukan kesediaan Teheran berubah sikap. “Sangat mungkin mereka tidak akan pernah belajar,” ujarnya.

Parlemen Iran: AS Tak Berkomitmen pada Diplomasi

Iran membalas tudingan itu dengan keras. Ketua Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran, Ebrahim Azizi, menilai serangan AS membuktikan Washington tidak memiliki komitmen terhadap proses perdamaian. “Presiden AS yang gagal itu telah menunjukkan bahwa ia tidak memiliki komitmen terhadap prinsip-prinsip negosiasi atau gencatan senjata,” kata Azizi. Ia memperingatkan tindakan AS akan berujung “mundurnya mereka dan penyesalan di pihak mereka.”

Kapal Kedua Diserang Sehari Sebelumnya

Eskalasi ini bukan insiden tunggal. Sehari sebelumnya, sebuah drone juga menghantam dek kapal kargo berbendera Singapura Ever Lovely milik perusahaan Taiwan Evergreen Marine, di lepas pantai Oman. Trump menyebutnya sebagai “pelanggaran yang bodoh” terhadap kesepakatan gencatan senjata 60 hari yang baru disepakati. Tidak ada awak kapal yang terluka dalam insiden ini, dan tiga drone lain berhasil dicegat pasukan AS.

Selat Hormuz Tetap Terbuka, Pasar Energi Tetap Waswas

Meski tegangan kembali memuncak, CENTCOM menegaskan jalur pelayaran Selat Hormuz tetap terbuka dan lalu lintas kapal komersial masih berjalan normal. Namun pasar energi global tetap dibayangi kekhawatiran, mengingat sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati selat strategis itu setiap hari.

Dengan MoU damai yang baru berusia satu minggu kini terancam runtuh oleh siklus serang-balas yang berulang, dunia kembali menahan napas menunggu apakah diplomasi masih punya ruang atau perang yang sempat diakhiri di atas kertas justru akan kembali membara di lapangan.

#TrumpMurka #ASSerangIran #SelasHormuz #DroneHantamKapal #GencatanSenjataJebol #CENTCOM #MTKiku #EverLovely #PerangIranAS #PezeshkianTrump #EskalasiBaru #KonflikTimurTengah #HarudaMinyak #GeopolitikGlobal #IranWar2026