Pemerintah Tahan Kenaikan Pertamax Berbulan-bulan Seskab Teddy Bandingkan Harga dengan Singapura Rp42.971 per Liter

Ekonomi, Nasional219 Dilihat

Jakarta – Di tengah gelombang keluhan publik soal harga Pertamax yang melonjak ke Rp16.250 per liter, pemerintah langsung mengambil langkah komunikasi terbuka. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya melalui akun Instagram resmi Sekretariat Kabinet pada Sabtu (13/6/2026) membeberkan alasan di balik penyesuaian harga tersebut sekaligus menempatkannya dalam perbandingan regional.

Ikuti Harga Minyak Dunia Bukan Keputusan Sembarangan

“Pertamax adalah BBM Non-Subsidi, artinya harga Pertamax harus mengikuti harga minyak dunia,” tulis Teddy. Ia menegaskan harga minyak dunia sudah naik drastis sejak Maret 2026, namun pemerintah memilih menahan penyesuaian selama berbulan-bulan demi menjaga daya beli masyarakat. “Harga minyak dunia naik drastis sejak Maret, tetapi pemerintah sudah menahan kenaikan selama berbulan-bulan,” katanya.

Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri menjelaskan bahwa kenaikan harga mempertimbangkan dinamika geopolitik global dan harga minyak di pasar internasional. “Kami memahami bahwa setiap penyesuaian harga tentu menjadi perhatian masyarakat. Penyesuaian pada harga BBM non-subsidi ini dilakukan dengan mempertimbangkan dinamika geopolitik global dan harga minyak yang berlaku di pasar internasional dengan tetap mempertimbangkan daya beli masyarakat,” jelas Simon.

Perbandingan Harga RON 92 se-Asia Tenggara

Teddy menyajikan data perbandingan harga BBM RON 92 atau 95 di sejumlah negara Asia Tenggara. Di Filipina harganya mencapai Rp22.158 per liter, Myanmar Rp25.085, Thailand Rp28.910, Laos Rp31.945, dan Singapura Rp42.971 per liter. Dibandingkan kelima negara tersebut, Pertamax Indonesia di Rp16.250 adalah yang termurah. “Walaupun naik, harga Pertamax di Indonesia jauh lebih murah dibanding BBM RON 92/95 di negara lain,” tegas Teddy.

BBM Bersubsidi Dijamin Tidak Naik

Teddy juga memastikan harga BBM bersubsidi tidak ikut naik. Pertalite tetap Rp10.000 per liter dan Solar Rp6.800 per liter, sebagai bentuk perlindungan pemerintah terhadap kelompok masyarakat yang paling terdampak.

DPR Minta Pertamina dan Bahlil Transparan

Meski pemerintah mempersilakan pasar bekerja pada BBM non-subsidi, tekanan dari legislatif tetap datang. Komisi VI DPR dijadwalkan memanggil Pertamina untuk membahas dampak kenaikan harga BBM Pertamax dan mendesak adanya transparansi mengenai penyebab serta mekanisme penetapan harga.

Terlepas dari argumen perbandingan regional, kenyataan di lapangan tetap terasa pahit bagi jutaan pengguna kendaraan bermotor kelas menengah: kenaikan Rp3.950 per liter dalam satu malam adalah beban baru di saat rupiah sudah di Rp18.000 dan harga-harga kebutuhan pokok ikut merangkak naik.

#SeskabTeddy #PertamaxNaik #HargaBBMASEAN #PerbandinganBBM #BBMNonSubsidi #PertamaxRp16250 #MinyakDunia #PertaliteTetap #TransparansiPertamina #KomisiVIDPR #SimonPertamina #HargaBBM2026 #EnergiIndonesia #BBMIndonesia #GeopolitikEnergi