Jakarta – Publik mungkin terkejut melihat harga Pertamax melonjak drastis menjadi Rp16.250 per liter sejak 10 Juni 2026. Namun ada fakta yang luput dari perhatian: angka itu masih jauh dari harga asli BBM jenis RON 92 tersebut di pasar internasional. Pertamina selama ini menanggung selisih harga yang cukup besar demi menjaga daya beli masyarakat.
Harga Asli Pertamax: Rp20.000 hingga Rp21.000 per Liter
VP Commercial & Shipping Business Development Pertamina Patra Niaga Sigit Setiawan mengungkapkan bahwa harga keekonomian Pertamax RON 92 saat ini sebenarnya sudah menyentuh level Rp20.000 hingga Rp21.000 per liter. Artinya meski sudah naik ke Rp16.250, harga jual di SPBU masih tercatat jauh di bawah biaya perolehan yang sesungguhnya.
“Pertamax RON 92 kebetulan di market itu karena kondisi geopolitik kemarin itu naik. RON 92 itu kalau di market itu harganya sudah Rp20.000-an, Rp21.000. Dan kita masih tahan, masih berupaya menahan di Rp12.300,” kata Sigit.
Perang Iran Picu Lonjakan Harga Minyak 40 Persen di Atas Asumsi APBN
Penyebab utama melesatnya harga keekonomian adalah perang Israel-Iran yang pecah sejak 28 Februari 2026. Sejak itu, harga minyak dunia sudah melonjak sekitar 40 persen melampaui asumsi yang ditetapkan dalam APBN menciptakan deviasi yang harus ditanggung Pertamina setiap kali menjual Pertamax.
Founder ReforMiner Institute Pri Agung Rakhmanto menilai kenaikan Pertamax ke Rp16.250 belum mencerminkan beban biaya perolehan impor yang sesungguhnya, mengingat rupiah juga sudah melemah menembus level Rp18.000 per dolar AS yang menjadi faktor penekan tambahan biaya pengadaan BBM.
Kenaikan Perdana Setelah Empat Bulan Bertahan
Kenaikan Pertamax per 10 Juni 2026 ini merupakan kenaikan perdana sejak perang Israel-Iran pecah. BBM non-subsidi lainnya seperti Pertamax Turbo dan Dexlite sudah lebih dulu naik sejak 18 April 2026, namun Pertamax baru menyesuaikan hampir dua bulan kemudian.
Pertamax naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter atau terkerek Rp3.950, sementara Pertamax Green 95 naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter. BBM bersubsidi Pertalite dan Solar tetap di Rp10.000 dan Rp6.800 per liter.
Pertalite Dipertahankan hingga Desember Beban Subsidi Bengkak
Pemerintah masih menahan harga Pertalite di Rp10.000 hingga akhir 2026, yang berimplikasi pada tambahan beban subsidi energi Rp90 hingga Rp100 triliun, sehingga total alokasi subsidi dan kompensasi energi berpotensi mencapai Rp481,3 triliun.
Kenyataannya, bagi pengguna Pertamax sebenarnya masih “disubsidi” pasar hanya dalam bentuk yang berbeda: Pertamina yang menanggung selisih harga, bukan APBN secara langsung. Dan selisih itu, per liternya, masih mencapai Rp4.750 hingga Rp4.750 yang harus ditanggung perusahaan setiap kali mengisi tangki kendaraan Anda.
#PertamaxNaik #HargaKeekonomianBBM #PertamaxRp16250 #HargaAsliPertamax #BBMNonSubsidi #MinyakDuniaNaik #PerangIranBBM #PertaliteTetap #SigitPertamina #ReforMiner #EnergiIndonesia #RupiahMelemah #APBN2026 #BBMIndonesia #SubsidiBBM






