Teheran – Tiga bulan setelah perang meletus, harapan damai kembali remuk di hadapan realita. Iran secara resmi menyatakan bahwa rangkaian serangan terbaru Amerika Serikat telah membuat gencatan senjata April 2026 tidak lagi memiliki makna dan sebagai konsekuensi langsung, Selat Hormuz ditutup total tanpa batas waktu yang ditentukan.
PGSA: Selat Hormuz Tertutup Penuh
Otoritas Selat Teluk Persia Iran (PGSA) dalam pernyataan resmi yang diunggah di platform X, Kamis (11/6/2026), menegaskan penutupan itu terjadi menyusul tindakan militer AS dan pengumuman terbaru angkatan bersenjata Iran. “Karena ketegangan yang dipicu pasukan agresif AS dan pengumuman terbaru Angkatan Bersenjata Republik Islam, Selat Hormuz akan ditutup sepenuhnya,” bunyi pernyataan PGSA.
Otoritas itu juga meminta pihak-pihak yang sebelumnya sudah mengantongi izin transit untuk bersabar dan menunggu pemberitahuan lebih lanjut.
Militer Iran: Setiap Pergerakan Jadi Sasaran Tembak
Markas Besar Khatam Al-Anbiya Iran mengumumkan bahwa jalur laut strategis itu tertutup untuk semua jenis kapal termasuk tanker minyak dan kapal dagang, karena apa yang mereka sebut sebagai kondisi ketidakamanan yang diciptakan AS di kawasan. Militer Iran memperingatkan bahwa “pergerakan apa pun” di Selat Hormuz akan menjadi sasaran tembak.
Rentetan Serangan dalam 72 Jam
Eskalasi ini merupakan puncak dari serangkaian serangan dalam tiga hari terakhir yang bermula dari jatuhnya helikopter AS di dekat Selat Hormuz. AS membalas dengan menghantam sistem pertahanan udara dan radar Iran di sekitar selat pada Selasa. Iran merespons dengan meluncurkan rudal dan drone ke pangkalan AS di Yordania, Kuwait, dan Bahrain. AS kemudian menggempur kembali beberapa target di wilayah Iran.
Iran juga menuduh AS menyerang waduk yang memasok air minum bagi warga sipil sebuah tuduhan yang secara langsung menyentuh isu kejahatan perang.
Indonesia Desak Kembali ke Meja Perundingan
Indonesia ikut bersuara. Wakil Menteri Luar Negeri Arrmanatha Nasir menyatakan Indonesia amat menyayangkan AS dan Iran kembali saling serang. “Kita tentu ingin terus mendorong agar para pihak segera kembali ke meja perundingan, kembali mewujudkan gencatan senjata,” kata Arrmanatha di Kompleks Parlemen Jakarta, Kamis (11/6/2026).
Harga Minyak Dunia Bergejolak
Pasar energi langsung bereaksi keras. Sebelum perang pecah pada 28 Februari, harga minyak Brent berada di kisaran US$70 per barel. Setelah konflik meningkat, harga sempat meroket ke atas US$119 per barel sebelum terkoreksi. Penutupan kembali Selat Hormuz membalikkan sentimen pasar secara tajam mengingat jalur itu biasanya dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.
Dengan negosiasi Pakistan yang tersandung, mediasi Qatar yang tertahan di Teheran, dan Selat Hormuz kini kembali terkunci, dunia menatap kemungkinan paling suram sejak konflik ini dimulai.
#GencatanSenjataIranAS #SelasHormuzTutup #KonflikIranAS #IRGCSerangan #PerangTimurTengah #HargaMinyakMeledak #IndonesiaPerdamaian #ArrmanathaNasir #TeheranBicaraKeras #PenutupanHormuz #KhatamAlAnbiya #PGSAIran #EskalasiBaru #GeopolitikGlobal #IranWar2026












