Jakarta – Saat membuka Musyawarah Nasional XVIII Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) di Bandar Lampung, Rabu (10/6/2026), Presiden Prabowo Subianto tidak hanya berbicara soal ekonomi dan investasi. Ia juga merespons langsung kritik publik yang menyorot frekuensi kunjungannya ke luar negeri dan menyeret nama Jokowi sebagai perbandingan.
Serba Salah: Jokowi Jarang Pergi Dikritik Prabowo Sering Pergi pun Dikritik
“Jadi ada Presiden kayak Pak Jokowi yang jarang keluar negeri, disalahkan. ‘Jokowi tidak pernah keluar negeri, Jokowi tidak peduli politik luar negeri’. Saya sering ke luar negeri, ‘Prabowo sering ke luar negeri’. Aneh, sebetulnya tidak ada masalah,” kata Prabowo di hadapan para pengusaha muda.
Prabowo juga menyinggung posisinya yang memelihara hubungan baik dengan berbagai pihak yang justru berseberangan secara geopolitik. “Sekarang saya baik sama Presiden Putin, baik saya. Tapi saya baik juga sama Presiden Trump. Di sini saya disalahkan, di situ saya disalahkan. Tapi tidak ada masalah,” tegasnya. Ia mengakhiri pernyataan itu dengan keyakinan diri: “Selama saya yakin saya kerja untuk bangsa dan rakyat Indonesia, selamanya saya tidak ragu-ragu.”
54 Kali ke Luar Negeri dalam 20 Bulan
Kritik itu bukan tanpa dasar. Data perjalanan yang beredar di ruang publik menunjukkan Prabowo telah melakukan 54 kali kunjungan ke 29 negara sejak menjabat. Sebagai perbandingan, Jokowi melakukan 16 kunjungan kenegaraan, sementara Susilo Bambang Yudhoyono hanya 10 perjalanan pada tahun penuh pertama mereka menjabat. Malaysia menjadi negara yang paling sering dikunjungi Prabowo sebanyak lima kali, disusul Uni Emirat Arab dan Prancis masing-masing empat kali.
Kritik paling vokal datang dari mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal yang mengunggah video berdurasi tujuh menit di Instagram pada 30 Mei 2026. Video itu disukai lebih dari 230.000 pengguna dan dibagikan ulang lebih dari 65.000 kali. “Sebagai sahabat lama Bapak, saya mewakili komunitas hubungan internasional dan banyak rakyat Indonesia mengimbau Presiden Prabowo untuk secara signifikan mengurangi perjalanan keluar negeri,” kata Dino.
Pakar UGM: Bertentangan dengan Semangat Efisiensi
Pakar Kebijakan Publik UGM Dr. Subarsono menilai tingginya frekuensi kunjungan luar negeri secara langsung menciptakan beban finansial baru bagi APBN, terutama di tengah seruan pemerintah untuk melakukan efisiensi anggaran.
Istana: Bukan Seremonial tapi Strategis
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya membela kebijakan perjalanan Presiden. “Ini adalah kesalahan besar jika mengatakan perjalanan ini hanya untuk pamer atau tujuan seremonial. Kita harus melihat apa yang telah dicapai selama satu setengah tahun terakhir,” ujar Teddy.
Prabowo sendiri menjelaskan alasannya: geopolitik dunia saat ini bergerak begitu cepat dan tak menentu. “Situasi mungkin berubah, sekarang dinamikanya geopolitik begitu kacau. Kita tidak tahu kawan siapa, lawan siapa,” katanya. Bagi Prabowo, diplomasi aktif bukan pilihan melainkan keharusan di era dunia yang semakin tak terduga.
#PrabowoDiplomasiLuarNegeri #KritikPrabowo #MunasHIPMI #PrabowoPutin #PrabowoTrump #BebasAktif #JokowiVsPrabowo #DinoPattidjalal #KunjunganKenegaraan #EfisiensiAPBN #PolitikLuarNegeriRI #GeopolitikIndonesia #HIPMI2026 #Lampung2026 #PrabowoBicaraTegas






