Jakarta — Lapangan Kim Il Sung berdenyut dengan kemegahan seremoni yang jarang terlihat. Senin (8/6/2026), Presiden China Xi Jinping menginjakkan kaki di Pyongyang untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun terakhir, sebuah lawatan yang secara lantang mengirimkan pesan kepada Washington, Seoul, dan Tokyo.
Sambutan Megah di Lapangan Kim Il Sung
Xi Jinping dan istrinya Peng Liyuan tiba menggunakan mobil di Lapangan Kim Il Sung, Pyongyang, di mana korps musik militer dan ribuan warga telah bersiap menyambut kedatangan mereka. Kim Jong Un bersama istri, Ri Sol Ju, menyambut langsung pemimpin China tersebut. Di sekitar lokasi, terpajang spanduk-spanduk besar bertuliskan “Persahabatan Abadi antara Korea Utara dan China” serta “Hidup Persahabatan dan Persatuan yang Tak Tergoyahkan antara Korea Utara dan China”. Xi juga memeriksa jajaran pasukan kehormatan Tentara Rakyat Korea. Para prajurit berseru dalam bahasa Korea: “Semoga Kawan Xi Jinping sehat selalu.”
Kunjungan Pertama dalam 7 Tahun
Xi terakhir kali mengunjungi Pyongyang pada Juni 2019. Kunjungan kali ini adalah yang pertama oleh Presiden China sejak saat itu sebuah momen langka mengingat frekuensi lawatan Xi ke luar negeri yang semakin berkurang pasca-pandemi.
Yang menarik, ini adalah perjalanan luar negeri pertama Xi pada 2026, sebuah pilihan destinasi yang sangat selektif. Kunjungan ini berlangsung tak lama setelah Xi menjamu Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin di Beijing pada Mei 2026 menempatkan Pyongyang dalam deretan prioritas strategis Beijing.
Komitmen Baru Lintas Bidang
Dalam pertemuan tingkat tinggi yang digelar Senin, Xi menyerukan penguatan kerja sama di bidang diplomasi, penegakan hukum, dan militer. Ia juga menyatakan kesiapan China memperluas kerja sama di sektor perdagangan, pertanian, konstruksi, dan teknologi, serta menegaskan China tidak akan mengendurkan komitmennya untuk melindungi kepentingan bersama dengan Korea Utara maupun mengurangi dukungannya terhadap Kim Jong Un.
Secara resmi, kunjungan ini dibingkai sebagai perayaan ulang tahun ke-65 penandatanganan Traktat Persahabatan, Kerja Sama, dan Bantuan Bersama China-Korea Utara tahun 1961.
Sinyal Geopolitik ke Washington
Hubungan diplomatik antara Pyongyang dan Washington saat ini masih buntu tanpa kemajuan. Meski Gedung Putih mengklaim China dan AS tetap berkomitmen mewujudkan denuklirisasi penuh di Semenanjung Korea, Korea Utara justru mengeluarkan pernyataan keras menjelang kedatangan delegasi China melalui saudara perempuan Kim Jong Un.
Korea Utara diketahui telah membantu Rusia dalam perang Ukraine dengan memasok jutaan peluru artileri, roket, dan rudal balistik. Menurut Institut Strategi Nasional Korea Selatan, dari ekspor senjata itu Pyongyang meraup antara US$7 miliar hingga US$13,8 miliar sejak 2023 dana yang digunakan untuk mempercepat program nuklir dan mendapatkan tambahan minyak serta bahan makanan dari China.
Dengan China, Rusia, dan Korea Utara semakin erat bersinergi, kunjungan Xi ke Pyongyang bukan sekadar kunjungan persahabatan ini adalah penegasan bahwa poros Beijing-Pyongyang-Moskwa terus dipererat di tengah persaingan geopolitik global yang makin panas.
#XiJinpingPyongyang #KimJongUn #ChinaKoreUtara #KunjunganKenegaraan #GeopolitikAsia #SemenanjungKorea #DenuklirisasiKorea #TraktatChinaKorut #AliansiStrategis #PersahabatanAbadi #KTTXiKim #GeopolitikGlobal #AsiaTimur #NuklirKoreaUtara #XiJinping2026












