Rupiah Jebol Rp 18.000: Sejarah Kelam Mata Uang Garuda yang Dipukul Geopolitik, Dividen, dan Sentimen Pasar

Ekonomi, Fokus, Nasional295 Dilihat

Jakarta – Angka yang selama bertahun-tahun menjadi “garis merah” pasar keuangan Indonesia akhirnya jebol juga. Pada Kamis (4/6/2026), nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat resmi menembus level Rp 18.000 sebuah rekor terendah sepanjang sejarah yang mengirim sinyal alarm ke seluruh penjuru perekonomian nasional.

Data real-time platform Investing pukul 06.20 WIB menunjukkan rupiah melemah 0,43 persen atau merosot sekitar 76,3 poin ke level Rp 18.001 per dolar AS. Fluktuasi dalam 24 jam terakhir bahkan mencatat mata uang Garuda sempat menyentuh titik terendah di angka Rp 18.013 per dolar AS.

Pada perdagangan siang hari, berdasarkan data Bloomberg pukul 12.25 WIB, rupiah masih tertekan 72 poin (0,40 persen) ke level Rp 18.039 per dolar AS.

Pelemahan ini bukan tiba-tiba. Sepanjang tahun 2026, rupiah telah terdepresiasi lebih dari 7 persen terhadap dolar AS. Dan kini, batas yang selama ini hanya menjadi skenario terburuk para ekonom, telah menjadi kenyataan.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti secara tegas menunjuk eskalasi konflik di Timur Tengah sebagai pemicu utama. “Pelemahan nilai tukar masih dipengaruhi oleh tensi geopolitik Timur Tengah yang kembali tereskalasi dan menghambat prospek damai,” ujar Destry dalam keterangan resmi, Kamis (4/6/2026).

Konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran itu memicu lonjakan harga minyak dunia berdampak langsung bagi Indonesia sebagai negara pengimpor minyak, karena meningkatkan kebutuhan devisa untuk pembayaran impor energi. Di sisi lain, ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi membuat arus modal global terus mengalir ke instrumen berbasis dolar AS.

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mempertegas analisis itu: “Kenaikan harga minyak berdampak terhadap biaya transportasi dan logistik, sehingga juga berdampak terhadap inflasi yang membuat bank-bank sentral global memiliki ruang untuk mempertahankan suku bunga tinggi. Wajar kalau dolar AS terus mengalami penguatan mendekati level 100.” Dari sisi internal, kebutuhan dolar untuk pembelian impor minyak sebesar 1,5 juta barel per hari di mana 85 persen merupakan subsidi juga turut menambah tekanan.

Tekanan dari dalam negeri juga datang dari tingginya kebutuhan valuta asing untuk repatriasi dividen perusahaan dan pembayaran utang luar negeri yang jatuh tempo, yang secara bersamaan meningkatkan permintaan terhadap dolar AS.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai pelemahan rupiah dalam beberapa hari terakhir juga dipengaruhi berbagai rumor dan sentimen negatif yang beredar di pasar keuangan. Menurutnya, isu-isu yang tidak memiliki dasar kuat telah memicu kepanikan sebagian pelaku pasar dan mempercepat pelemahan rupiah.

Tekanan terhadap nilai tukar juga diperparah oleh derasnya arus keluar modal asing dari pasar saham Indonesia, seiring investor asing yang mencermati sejumlah perkembangan kebijakan di dalam negeri.

Kondisi itu diperburuk oleh kenaikan inflasi Mei 2026 menjadi 3,08 persen dari 2,42 persen pada April, dipicu kenaikan biaya input impor, energi, transportasi, dan pangan.

Strategi intervensi Bank Indonesia dilakukan secara berlapis: mulai dari transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot, hingga Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di dalam negeri ditambah pembelian Surat Berharga Negara di pasar sekunder.

BI juga memberlakukan kebijakan pembatasan baru: threshold pembelian valas tunai terhadap rupiah tanpa underlying ditetapkan maksimal USD 25.000 per pelaku per bulan, berlaku sejak Juni 2026 untuk meredam spekulasi di pasar valuta asing.

Namun BI terang-terangan mengakui keterbatasannya. Bank sentral menegaskan tidak bisa berdiri sendiri untuk menguatkan kembali rupiah, dan menyerukan sinergi lebih luas dengan pemerintah dan pelaku pasar.

Di sisi positif, cadangan devisa Indonesia hingga akhir April 2026 masih berada di level aman sebesar 146,2 miliar dolar AS dinilai cukup untuk menopang stabilitas sektor eksternal.

Sebagai respons struktural jangka panjang, BI terus mendorong penggunaan skema Local Currency Transaction (LCT) bersama Tiongkok, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab. Hingga April 2026, nilai transaksi LCT mencapai sekitar 22,7 miliar dolar AS hampir menyamai total sepanjang tahun 2025 sebesar 25,7 miliar dolar AS.

BI memastikan pelemahan rupiah saat ini masih sejalan dengan kondisi mata uang regional. Secara year-to-date, rupiah melemah 7,44 persen angka yang sebanding dengan tekanan yang dialami mata uang negara-negara berkembang lain di kawasan Asia.

Pelemahan rupiah yang berkepanjangan berpotensi memicu inflasi barang impor serta menurunkan daya beli masyarakat kelas menengah secara signifikan. Pemerintah dan Bank Indonesia perlu berkolaborasi menjaga stabilitas ekonomi serta memperkuat kepercayaan pasar demi mencegah devaluasi lebih lanjut.

Pelemahan rupiah juga meningkatkan biaya bahan baku industri sehingga berpotensi memicu imported inflation, inflasi yang berasal dari naiknya harga barang impor. Jika tren ini dibiarkan terlalu lama tanpa intervensi kuat, harga komoditas di pasar lokal diproyeksikan melonjak dan menggerus daya beli masyarakat secara nasional.

Garis Rp 18.000 telah resmi dilewati. Kini tantangannya bukan lagi mencegah melainkan seberapa cepat Indonesia bisa membalikkan keadaan.

#RupiahMelemah #DolarRp18000 #KursRupiah #BankIndonesia #EkonomiIndonesia #NilaiTukar #IntervensiBI #GeopolitikTimurTengah #InflasiImpor #LCT #CadanganDevisa #PasarValas #KrisisEkonomi #MataUangGaruda #Rp18000