Jakarta – Rupiah memasuki hari ketiga bulan Juni dengan prospek yang kurang menggembirakan. Setelah sempat menguat di awal bulan, mata uang domestik kembali tergelincir pada penutupan perdagangan Selasa dan para analis memperkirakan tekanan serupa masih akan berlanjut hari ini.
Pada perdagangan Selasa (2/6/2026), rupiah ditutup melemah 34 poin atau 0,19 persen ke posisi Rp 17.839 per dolar AS. Indeks dolar AS sendiri tercatat melemah tipis 0,06 persen ke level 99,13 namun pelemahan greenback itu tidak cukup mengangkat rupiah karena tekanan datang dari faktor yang jauh lebih besar dari sekadar pergerakan indeks dolar.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menunjuk ketidakjelasan arah negosiasi AS-Iran sebagai faktor dominan yang menekan pasar. Dalam sehari kemarin, Trump memberikan dua pesan yang saling bertentangan kepada pasar global.
Di satu sisi, dalam wawancara publik, Trump menyatakan tidak keberatan jika pembicaraan dengan Iran berakhir tanpa kesepakatan bahkan menyebut negosiasi itu sudah “sangat membosankan.” Namun tak lama berselang, ia memposting di media sosial bahwa perundingan dengan Iran justru terus berlanjut dan ia berharap kesepakatan gencatan senjata serta pembukaan kembali Selat Hormuz bisa tercapai dalam minggu mendatang.
Pasar bereaksi terhadap ketidakpastian itu dengan cara yang paling klasik: menjauhi aset berisiko.
“Lebanon pada hari Senin mengumumkan gencatan senjata parsial antara Hizbullah dan Israel, yang akan menjadi de-eskalasi terbatas dari konflik yang telah memperparah perang yang lebih luas dengan Iran,” ujar Ibrahim.
Dari dalam negeri, pasar juga mencerna dua data penting yang dirilis bersamaan. BPS mencatat inflasi Mei 2026 sebesar 3,08 persen secara tahunan (YoY). Indeks Harga Konsumen naik dari 111,09 pada April 2026 menjadi 111,40 pada Mei 2026, kenaikan yang mencerminkan tekanan harga yang masih terasa di tingkat konsumen.
Di sisi lain, ada kabar lebih positif dari sektor industri. PMI Manufaktur Indonesia pada Mei 2026 naik ke level 50,0 setelah terkontraksi ke 49,1 pada April 2026. Angka tepat di garis 50 menandakan bahwa aktivitas manufaktur kembali ke zona ekspansi meski belum kuat. “Kendati menunjukkan sinyal positif, sektor industri masih dibayangi tekanan biaya bahan baku yang melonjak dan gangguan pasokan yang menahan laju produksi,” kata Ibrahim.
Kadin juga mengingatkan bahwa inflasi yang berkelanjutan berpotensi mendorong kenaikan biaya produksi yang pada akhirnya meningkatkan risiko pemutusan hubungan kerja di sektor industri jika tidak segera diantisipasi.
Ibrahim memperkirakan rupiah pada perdagangan Rabu (3/6/2026) masih akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah. Rentang pergerakan yang diantisipasi berada di kisaran Rp 17.840 hingga Rp 17.900 per dolar AS.
Sementara itu pemerintah berupaya menstabilkan pasokan valuta asing dari sisi kebijakan. Bank Indonesia telah memberlakukan pembatasan pembelian valas tunai tanpa underlying maksimal USD 25.000 per pelaku per bulan terhitung mulai 2 Juni 2026. Aturan ini diharapkan dapat meredam tekanan permintaan dolar spekulatif di pasar domestik dalam jangka pendek.
Di tengah pelemahan rupiah yang berkelanjutan, Menteri Pekerjaan Umum memastikan sektor konstruksi dan pembangunan infrastruktur nasional belum terdampak secara signifikan. Sebagian besar kontrak proyek infrastruktur menggunakan denominasi rupiah sehingga eksposur terhadap fluktuasi kurs relatif terbatas dibandingkan sektor industri dengan bahan baku impor tinggi.
Pertanyaan yang relevan bagi pelaku pasar hari ini bukan sekadar soal angka kurs melainkan apakah negosiasi AS-Iran hari ini akan memberikan sinyal yang lebih jelas dari yang diberikan Washington kemarin. Selama ketidakpastian itu belum terselesaikan, rupiah akan terus berjalan di atas tali yang sama: rapuh dan mudah terguncang oleh satu kalimat dari Washington.
#RupiahHariIni #NilaiTukarRupiah #RupiahMelemah #KursRupiah #DolarVsRupiah #IbrahimAssuaibi #PMIManufaktur #InflasiMei2026 #NegosiasiIranAS #SelasHormuz #BankIndonesia #BatasanValas #GeopolitikTimurTengah #ForexIndonesia #RupiahJuni2026 #KadinIndonesia #EkonomiIndonesia #PasarValuta #PerdaganganRabu #StabilitasRupiah






