Netanyahu Abaikan Trump, Israel Terus Bom Lebanon dan Gaza Setelah Perjanjian Gencatan Senjata

Jerusalem – Tinta kesepakatan gencatan senjata belum kering, dan Washington masih sibuk membanggakan keberhasilan diplomatiknya, ketika rudal dan drone Israel kembali berjatuhan di Lebanon selatan dan Gaza. Netanyahu membuktikan satu hal yang sudah lama dicurigai banyak pihak: bahwa omelan Trump di telepon, sekeras apapun, tidak serta-merta mengubah keputusan militer Israel di lapangan.

Hanya beberapa jam setelah Trump memposting di Truth Social bahwa Israel dan Hizbullah telah “sepakat de-eskalasi,” serangan udara Israel kembali menghantam berbagai titik di Lebanon selatan.

Setidaknya delapan orang tewas dalam serangan Israel di Lebanon selatan, menurut Kantor Berita Nasional Lebanon, hanya beberapa jam setelah Trump mengumumkan kesepakatan de-eskalasi yang tidak secara terbuka diterima oleh Israel maupun Hizbullah. Dua warga Suriah tewas dalam serangan Israel yang menghantam sebuah kebun di kota Jebchit, Gubernuran Nabatieh. Serangan drone Israel menghantam sepeda motor di Jalan Martir Sabra di Toul dan sebuah kendaraan di kawasan Ansar, menewaskan dua orang. Serangan ketiga menghantam kendaraan di dekat desa Harouf, menewaskan satu orang.

Sejak 2 Maret 2026, korban jiwa akibat serangan Israel di Lebanon telah mencapai sedikitnya 3.468 orang, bertambah 35 orang dibandingkan angka sehari sebelumnya.

Netanyahu menegaskan pasukan IDF akan terus menjalankan operasinya di Lebanon sesuai rencana dan mengancam akan menyerang Beirut jika Hizbullah tidak menghentikan serangannya terhadap Israel.

Pernyataan itu dikeluarkan hanya beberapa jam setelah Trump mengklaim bahwa Netanyahu sudah “menurut” dalam panggilan telepon yang panas antara keduanya. Kenyataannya, Netanyahu memberikan dua pesan berbeda kepada dua audiens yang berbeda satu kepada Trump di telepon, satu lagi kepada publik melalui pernyataan resmi.

Netanyahu merilis pernyataan setelah panggilan dengan mengatakan ia telah memberitahu Trump bahwa Israel akan menyerang target di Beirut jika Hizbullah tidak menghentikan serangannya terhadap Israel, dan sementara itu Israel akan terus menjalankan operasinya di Lebanon selatan.

Sementara Lebanon membara, Gaza tidak kalah pedih. Serangan Israel di Jalur Gaza menewaskan sedikitnya 17 warga Palestina, sebagian besar perempuan dan anak-anak dan menghancurkan bulldozer serta peralatan berat lainnya yang sebelumnya disuplai oleh para mediator untuk membersihkan puing-puing reruntuhan.

Penghancuran alat berat itu secara langsung menghambat upaya kemanusiaan yang sedang berjalan, memperparah krisis yang sudah berlangsung berbulan-bulan di wilayah yang sebagian besar infrastrukturnya hancur.

Di sisi lain, Hizbullah juga tidak menghormati gencatan senjata yang Trump banggakan. IDF mengumumkan bahwa Kapten Dr. Ori Yosef Silvester (30 tahun) tewas dalam serangan drone Hizbullah di Lebanon selatan. Tujuh tentara lain terluka dalam serangan drone tersebut, tiga di antaranya kritis.

Hizbullah mengklaim sejumlah serangan terhadap target Israel, terutama di Lebanon selatan, termasuk beberapa serangan yang dilakukan setelah pengumuman Trump. Dalam unggahan Telegram mereka, Hizbullah menyatakan tengah “melawan kemajuan pasukan Israel.”

Eskalasi di Lebanon berpotensi memantik krisis yang jauh lebih luas dari sekadar perang di dua front. Komandan Pasukan Quds IRGC Iran Esmail Qaani mengancam akan memblokir Selat Bab el-Mandeb jalur strategis yang menghubungkan Samudra Hindia dengan Laut Merah dan Mediterania jika Israel terus menyerang Lebanon dan Gaza.

Ancaman itu bukan gertakan kosong. Bab el-Mandeb adalah salah satu dari tiga jalur pelayaran tersibuk di dunia bersama Selat Hormuz dan Terusan Suez. Penutupan jalur ini akan menghantam rantai pasokan energi dan perdagangan global dengan dampak yang jauh melampaui Timur Tengah.

Tekanan internasional terhadap Israel juga menguat dari arah lain. Menteri Luar Negeri Prancis menyatakan pada Selasa bahwa tidak ada yang bisa membenarkan pasukan Israel tetap berada jauh di dalam wilayah Lebanon. Pernyataan itu mencerminkan keresahan Eropa yang semakin besar terhadap operasi militer Israel yang terus meluas meski ada tekanan dari Washington.

Pada akhirnya, gambaran yang muncul sangat jelas: Netanyahu memang “menurut” kepada Trump dalam telepon, tapi hanya sejauh yang diperlukan untuk menghindari konfrontasi diplomatik terbuka sementara di lapangan, mesin perang Israel terus berputar tanpa jeda.

#IsraelLebanon #NetanyahuIgnoresTrump #SeranganIsrael #GazaAttack #HizbullahDrone #OperasiLebanon #GencatanSenjataPalsu #TrumpNetanyahu #BabElMandeb #QaaniAncaman #IDFKorban #LebanonKorban #GazaKorban #KonflikTimurTengah #PerangIran2026 #IsraelHizbullah #SeranganDrone #CeasefireViolation #PrancisIsrael #TimurTengahMembara