Bukan Seremonial Biasa — Seskab Teddy Buktikan Diplomasi Aktif Prabowo Hasilkan Rp 2.430 Triliun Investasi

Ekonomi, Fokus, Nasional74 Dilihat

Jakarta — Perdebatan soal intensitas kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto yang dinilai terlalu sering akhirnya mendapat jawaban resmi dan terukur dari Istana. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya turun tangan langsung meluruskan narasi tersebut dengan menyodorkan tujuh bukti konkret hasil diplomasi selama 1,5 tahun terakhir mulai dari masuknya Indonesia ke BRICS hingga Rp 2.430 triliun investasi yang mengalir ke Tanah Air.

Pernyataan Teddy merupakan respons langsung terhadap kritik yang dilontarkan mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal. Dino menyebut, berdasarkan perhitungannya, satu dari senam hari dihabiskan Presiden Prabowo di luar negeri. Ia juga mempertanyakan biaya besar yang dikeluarkan untuk setiap kunjungan, dan menyarankan agar pertemuan antarpemimpin sebagian besar dilakukan melalui video conference. “Satu perjalanan ke luar negeri bisa keluar puluhan, bahkan ratusan miliar. Jadi dengan satu video call yang bernilai Rp0, negara praktis dapat menghemat ratusan miliar dari perjalanan keluar negeri dan hasilnya dari segi substansi juga kurang lebih sama,” ujar Dino.

Teddy menolak perbandingan itu. “Jadi Presiden Prabowo adalah Presiden baru yang mulai menjabat saat dunia sedang krisis. Sebelumnya ada konflik di Ukraina, ada di Venezuela, kemudian sekarang ada di Iran dan Timur Tengah. Jadi setiap pemimpin tentunya harus bangun hubungan yang dekat antar pemimpin dunia,” ujar Teddy melalui akun Instagram @sekretariat.kabinet, Senin (1/6/2026).

Pertama, Indonesia resmi bergabung dengan BRICS. Menurut Teddy, keanggotaan BRICS memberikan manfaat langsung di tengah krisis global. “Manfaatnya apa? Ya sekarang ini di tengah konflik krisis dunia situasi negara terjamin. Stok BBM aman, harga BBM subsidi tidak naik. Stok pangan aman,” kata Teddy.

Kedua, tarif nol persen ke 25 negara Uni Eropa. “Kemudian tarif 0 persen di Uni Eropa ada 25 negara di situ. Dan ini perjanjian yang sudah diurus belasan tahun yang lalu tapi kapan tercapai? Ya zaman Presiden Prabowo tepatnya tahun 2025 lalu,” kata Teddy.

Ketiga, investasi Rp 2.430 triliun dalam 1,5 tahun. Berdasarkan data BKPM total investasi yang masuk dalam 1,5 tahun mencapai sekitar Rp 2.430 triliun. Dari kunjungan ke Jepang dan Korea Selatan saja langsung ada investasi sekitar Rp 575 triliun. “Total investasi yang masuk dalam 1,5 tahun ini adalah sekitar Rp 2.430 triliun itu data dari BKPM,” kata Teddy.

Pada kuartal I 2026 investasi dari Singapura tercatat mencapai USD 4,6 miliar disusul Hong Kong sebesar USD 2,7 miliar dan China sekitar USD 2,2 miliar. Investasi dari China terutama mengalir ke sektor infrastruktur hilirisasi mineral dan industri pengolahan sumber daya alam.

Keempat, penguatan alutsista dari banyak negara. Indonesia kini telah memiliki alat pertahanan yang kuat yang diperoleh melalui kerja sama dengan berbagai negara seperti Prancis, Amerika Serikat, Rusia, China, hingga Inggris.

Kelima, kelancaran ibadah haji dan perkampungan haji di Arab Saudi. Diplomasi Presiden Prabowo berdampak pada penyelenggaraan ibadah haji yang berjalan lancar berkat kerja sama strategis dengan Arab Saudi termasuk kepemilikan perkampungan haji bagi jamaah Indonesia.

Keenam, peran aktif untuk Palestina. Indonesia melakukan penerjunan logistik dari udara ke Gaza, mengirimkan kapal rumah sakit, serta menerima sekitar 100 pelajar Palestina untuk menempuh pendidikan di Indonesia.

Ketujuh, pembebasan sembilan WNI dari Israel. Teddy menyebut pembebasan sembilan WNI yang sempat ditangkap militer Israel sebagai salah satu capaian diplomasi konkret yang tidak banyak mendapat sorotan publik.

Teddy juga menegaskan bahwa klaim soal pembengkakan biaya perjalanan tidak berdasar. Menurut Teddy, pengaturan jadwal kunjungan dan pertemuan antarnegara dilakukan berdasarkan kebutuhan mendesak serta skala prioritas yang ditentukan Presiden bersama Menteri Luar Negeri. Ia mengajak semua pihak untuk melihat data dan fakta atas berbagai capaian diplomatik yang telah diraih pemerintah.

“Jadi salah besar kalau dibilang hanya gagah-gagahan, seremonial. Jadi kita harus lihat apa yang sudah dicapai dalam 1,5 tahun terakhir ini,” ujar Teddy.

Debat antara Dino dan Teddy pada akhirnya mencerminkan dua perspektif yang sah dan saling melengkapi: satu menyoroti efisiensi dan transparansi anggaran, yang lain menekankan bahwa diplomasi tatap muka di tingkat kepala negara menghasilkan manfaat yang tidak bisa diukur dari layar video call semata.

#TeddyIndraWijaya #DiplomsiPrabowo #InvestasiRp2430T #BRICS #TarifNolPersen #UniEropa #PrabowoDiplomasi #BKPM #JepangKoreaInvestasi #AlutsistaNasional #HajiIndonesia #Palestina #WNIDibebaskan #DinoPatiDjalal #SeskabRI #CapaianDiplomasi #KunjunganLuarNegeri #PrabowoPrestasi #1SetengahTahunPrabowo #DiplomsiEkonomi